Tampilkan postingan dengan label filosofi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filosofi. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 April 2010

Jangan Takut Digigit Gajah

Apakah Anda pernah mendengar orang meninggal
karena digigit gajah?

Bukankah yang lebih banyak kita dengar, adalah orang yang meninggal
karena gigitan nyamuk.

Sehingga, kita akan menyelamatkan banyak tenaga untuk perbaikan hidup, yang banyak terboroskan karena kita memperhatikan kekhawatiran yang salah.

Ingatlah,

Cara Anda mengkhawatirkan sesuatu lebih melukai Anda daripada yang Anda khawatirkan.

Lebih jauh,

Kita semua memiliki kemampuan yang hebat untuk mengkhayalkan kebesaran yang ingin kita capai di masa depan. Kita juga piawai untuk menuliskan cita-cita dan menyusun rencana.

Tetapi, semua kekuatan perencanaan kita, tidak pernah lebih hebat dari kemampuan kita untuk menunda.

Sebagian besar penundaan kita datang karena pertimbangan yang berlebihan mengenai bayangan tentang masalah-masalah besar yang bisa menghadang perjalanan kita.

Kita membayangkan batu-batu sebesar gajah yang harus disingkirkan agar perjalanan mencapai cita-cita kita menjadi mulus dan bebas kesulitan.

Kita melupakan batu-batu kecil yang harus disingkirkan, yang justru sering menjadi prasyarat bagi tercapainya hasil yang nilai agregat-nya lebih besar dari gajah.

Maka,

Jangan khawatir.
Gajah tidak pernah menggigit.

Karena kita terlalu sibuk memikirkan ancaman yang bisa datang dari gajah, kita melupakan fakta bahwa nyamuk lebih pasti menggigit.

Dan statistik telah membuktikan bahwa lebih banyak orang meninggal karena gigitan nyamuk, daripada karena gigitan gajah.

Maka,

Marilah kita periksa khasanah kekhawatiran kita, dan perhatikan bagaimana kita cenderung melupakan hal-hal kecil yang justru menjadi syarat tercapainya hal-hal besar yang kita idamkan.

Jika kita menunda pelaksanaan dari sesuatu yang baik, kita sedang memperkuat keadaan yang tidak baik.

Dan jika kita sudah lama mengeluhkan kualitas hidup kita, kita harus bersegera menghentikan kebiasaan yang selama ini telah melemahkan kehidupan kita.

Marilah kita hentikan mengkhawatirkan hal-hal besar yang tidak akan terjadi, dan mulailah menghormati hal-hal kecil yang penting.

Karena,

Sebetulnya,
tidak ada hal kecil, bila dampaknya besar.

Perhatikanlah, bahwa

Dia yang sulit menghormati sesuatu karena penampilan-nya yang kecil, akan dikagetkan oleh hal-hal kecil yang melaju dengan kecepatan tinggi.

Dan jika masalah-masalah kita tampilnya besar, itu karena kita mengupayakan penyelesaiannya dengan menggunakan kesungguhan yang kecil.

Maka, lebih bersungguh-sungguh-lah, lebih bertenaga-lah dalam upaya dan pekerjaan Anda.

Selalu ingatlah, bahwa

Masalah besar selalu bisa diatasi dengan kemauan besar.

Dan kemauan besar itu dibuktikan dari hormatnya kepada hal-hal kecil
yang penting.

Jangan takut digigit gajah.

Jangan Mengeluh

Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa.

Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, “Lulu, Lulu.”. Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, “Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.” Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, “Lulu, Lulu”. “Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?” tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, “Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.”

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki.
Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.

Cerita terakhir adalah mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, “Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat,saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”

Pemimpin dan Kekasih

Bagi setiap manusia normal, memiliki kekasih adalah salah satu bentuk pengalaman yang sulit terlupakan. Tidak sedikit orang beranggapan, memiliki kekasih jauh lebih indah dari memiliki suami atau isteri. Dalam berhubungan dengan kekasih, dunia seperti penuh imajinasi dan fantasi .

Sayapun pernah mengalami keindahan seperti ini. Bersama seorang wanita yang sekarang sudah menjadi anak mertua, kenangan berjalan menelusuri pinggiran danau yang sepi dan damai, atau duduk berjam-jam di pantai yang hanya dihuni suara ombak, sungguh sebuah pengalaman yang sulit dilupakan.

Keindahan serupa juga saya temukan ketika membaca karya Kahlil Gibran yang berjudul Lazarus and His Beloved and The Blind.. Karya apik ini bertutur tentang kisah Lazarus bersama ‘kekasihnya’. Kekasih terakhir saya beri tanda kutip, sebab arti yang dimaksud memang tidak sama dengan pengertian biasanya. Lebih dari sekadar kekasih sebagai calon suami atau isteri, Gibran bertutur tentang kekasih yang lebih abadi.

Sebagaimana karya sastra lainnya, pengertian tentang kekasihnya Lazarus ini memang tidak semudah mengerti matematika dan statistika yang serba eksak. Di saat tertentu, ia berarti cakrawala yang menampung sinar matahari serta nyanyian bintang-bintang. Di saat lainnya, ia menghadirkan makna berupa arus sungai yang mencari laut. Di kesempatan lainnya, kekasih tadi sama dengan cinta yang tinggal di keheningan hati yang putih.

Pokoknya, serba indah dan bergerak. Sebagai orang manajemen yang terbiasa menelusuri jalan pengetahuan melalui definisi yang kering dan kaku, bercengkerama dengan ‘kekasih’ ala Kahlil Gibran ini sungguh sebuah pengalaman yang merangsang imajinasi dan keindahan. Tidak hanya jiwa yang dibuat kaya, kreativitas dan inovasipun dirangsang.

Dulu, ketika saya masih memahami manajemen sebagai rangkaian definisi, sungguh teramat bingung mendengar saran di Inggris agar sekolah manajemen mengajarkan sastra dan puisi. Tatkala mengawali pencaharian di dunia manajemen, melalui sekolah serta tumpukan buku teori yang menggunung, sulit bisa memahami ide kalau karya manajemen mesti disampaikan melalui bahasa-bahasa sastra. Pada saat pengalaman saya masih teramat miskin, karir masih berada di tataran tangga yang amat bawah, namun kepala penuh dengan teori-teori perilaku, adalah sebuah keniscayaan bagi saya untuk mengerti jiwa manusia melalui kata-kata indah seniman.

Begitu memasuki dunia hubungan antarmanusia yang rumit, pengambilan keputusan yang sulit dicari polanya, duduk kesepian di piramida organisasi, amat terasa manfaat pengkayaan yang diakibatkan oleh bahasa-bahasa tanpa definisi ala Kahlil Gibran.

Dalam membaca cerita Lazarus misalnya, tidak hanya dunia penjelasan (explanation) yang berubah, tetapi juga dunia pengertian (understanding). Tidak saja otak yang terbuka, namun termasuk juga jiwa. Tak hanya menjadi lebih pintar, melainkan juga lebih peka.

Mengalami seluruh proses ini, terkadang saya bermimpi kalau ada perusahaan yang mengundang saya tidak untuk berbicara manajemen sebagaimana biasanya, tetapi meminta saya bertutur tentang cerita pendek seperti kekasih Lazarus.

Ini penting, sebab dari ribuan manajer yang pernah saya temui, rata-rata sudah terlalu fasih berfikir dan berbicara tentang fakta dan logika. Namun, teramat sedikit yang memiliki jiwa yang kaya, kepribadian yang peka, dan bisa mengerti tanpa melalui proses penjelasan.

Bagi Anda yang biasa berfikir dalam angka dan sistimatika, tentu saja sulit untuk masuk ke dalam dunia seperti ini. Tetapi, bagaimanapun sulitnya, keindahan yang tidak bisa didefinisikan melalui kata-kata manapun sedang menanti Anda.

Keindahan terakhir, lebih indah dari sinar matahari pagi. Lebih sejuk dari hawa pegunungan. Lebih harum dari bunga manapun. Lebih lembut dari sutera. Lebih halus dari salju. Lebih molek dari wanita yang paling cantik. Dan yang paling penting, seperti berhubungan dengan seorang kekasih, ia penuh imajinasi dan fantasi.

Saya tidak sedang menghasut Anda ke dunia yang tidak-tidak. Tetapi, keadaan yang serba krisis.

Kesederhanaan Pangkal Kebahagiaan

Setiap bentuk kejadian dalam hidup, saya yakini, selalu menghadirkan makna. Perjalanan hidup sebagai konsultan, kerap membuat saya harus bergaul intensif dengan sejumlah orang kaya dan berada. Berbagai macam pengalaman telah saya lalui bersama mereka. Ada yang menyenangkan seperti bermain golf, jet ski, menginap di hotel berbintang sampai dibelikan barang-barang mewah. Ada juga yang menyengsarakan, seperti dimarahi istri klien tanpa tahu sebab musababnya, digoda ikut masuk ke dalam kehidupan-kehidupan menyimpang, dan masih ada lagi yang lain.

Syukurnya, sampai sekarang saya masih bisa menjaga jarak secara seimbang terhadap semua ini. Namun, ada satu hal yang menggoda saya untuk diulas di sini. Orang yang kaya materi, tidak sedikit yang menyesali hidupnya. Jarang berkata syukur ke Tuhan. Sejumlah kekayaan yang diwariskan orang tua mereka, kerap malah membuat kehidupan penuh perkelahian, kebencian dan perselisihan.

Tidak sedikit keluarga pewaris saham perusahaan besar, yang selama hidupnya berkelahi tiada hentinya. Ditandai oleh banyaknya segi tiga kebencian. Kecurigaan terhadap setiap anggota keluarga. Digabung menjadi satu, kekayaan yang dikumpulkan secara susah payah oleh generasi pendahulu, tidak membuat hidup lebih mudah, malah sebaliknya membuat semuanya jadi sengsara.

Memang, ada banyak sebab yang bersembunyi di balik fenomena ini. Namun, satu hal pasti, ketidakmampuan untuk hidup dan berfikir sederhana, telah membawa mereka pada lautan kehidupan yang penuh dengan tekanan.

Saya mensyukuri sekali kehidupan yang bergerak perlahan dari tataran yang sangat bawah. Ketika masih mengontrak dari satu rumah kecil ke rumah kecil yang lain, rasanya bahagia sekali kalau bisa memiliki rumah BTN. Ketika masih bergelantungan di bus kota, rasanya nikmat sekali jika bisa punya mobil. Tatkala hidup dengan makan sangat pas-pasan, selalu terbayang enaknya makan dengan daging yang memadai. Saat anak masih sekolah di sekolah negeri sederhana di pinggiran Jakarta, ada cita-cita agar mereka bisa masuk di sekolah terkemuka.

Sekarang, ketika semua itu sudah berlalu, tidak hanya rasa syukur yang teramat sering saya ucapkan ke Tuhan, tetapi kepala otomatis merunduk ketika menemui orang-orang dengan tingkatan kehidupan di bawah. Ada godaan untuk selalu menolong, bila ada kemampuan untuk melakukannya. Dan yang paling penting, pengalaman meniti tangga kehidupan dari bawah, membuat saya sering ingat akan pentingnya kesederhanaan hidup.

Seperti pernah ditulis Deana Rick dan rekan di Personal Excellence edisi Mei 1999, “having too much can actually be a hindrance to an attitude of gratitude because, in reality, you can not appreciate what you have, if you have too much“.

Dengan kata lain, memiliki kekayaan yang terlalu banyak sering mengurangi rasa syukur. Sebab, penghargaan terhadap rezeki sering menurun sejalan dengan semakin banyaknya uang yang dimiliki.

Nah, kesederhanaan berfikir dan kesederhanaan hidup itu penting dalam konteks ini, karena ia yang bisa menjadi jembatan yang memadai antara rezeki dan keinginan. Rezeki, sebagaimana kita tahu mengenal batas-batas. Sedangkan keinginan di pihak lain seperti langit, tidak ada batasnya.

Kesederhanaan bisa menjadi jembatan dalam hal ini, karena bisa menjadi ‘manajer’ bagi sang diri. Ia yang memilih mana yang betul-betul perlu, dan mana yang hanya pelengkap saja. Ia yang memisahkan keinginan yang diwarnai egoisme, dengan keinginan yang perlu dipenuhi.

Kembali ke cerita awal tentang orang kaya materi yang hidupnya penuh percekcokan, mereka memang punya uang, tetapi pengalaman hidup yang langsung di atas, membuat kesederhanaan bisa menjadi barang mewah buat mereka.

Dibandingkan dengan saya yang pernah memakan sayap ayam berbulan-bulan, dan sekarang mudah sekali merasakan enaknya makan, makan Mc. Donald, Kentucky, atau malah restaurant mewah sekalipun bagi orang kaya tadi tidak pernah menimbulkan selera.

Bagi saya yang pernah mengontrak sejumlah rumah kecil kumuh dan sederhana, tinggal di rumah dengan tanah ratusan meter sudah sangat memuaskan. Tetapi bagi mereka, ini hanyalah sesuatu yang tidak perlu dihargai dan disyukuri.

Untuk ukuran manusia yang bertahun-tahun bergelantungan di bus kota, naik sedan menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Tetapi bagi anak orang kaya di atas, ia hanyalah keseharian yang biasa dan hambar.

Dengan latar belakang pendidikan SD di desa, dan anak pernah sekolah di SD negeri pinggiran Jakarta, bisa menyekolahkan anak di sekolah khusus adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Namun, bagi orang kaya di atas, ini hanyalah sebuah rutinitas tanpa rasa.

Seluruh cerita dan ilustrasi ini memperkuat argumen Deana Rick, bahwa greed and materialism block thankfullness. Keserekahan dan materi menghalangi ketulusan untuk bersyukur pada Tuhan.

Sebaliknya dengan kesederhanaan, rasa syukur, terimakasih, penerimaan bagi sang hidup, mudah sekali muncul. Saya tidak tahu, bagaimana pengalaman Anda. Namun, saya amat bersyukur pada Tuhan yang pernah membawa saya pada kelokan-kelokan kehidupan yang membuat saya sampai pada kesimpulan: “kesederhanaanlah awal dari kebahagiaan“.

Saya mengisi prinsip ini dengan berjalan-jalan mengelilingi rumah setiap sore sambil mengucapkan terimakasih. Menggendong dan menciumi anak-anak bila ada kesempatan. Merayu istri persis seperti saat kami masih pacaran. Anda, saya kira, bisa melakukannya dengan cara Anda sendiri.

Keberhasilan Berawal Dari Keyakinan

Bagi Gede Prama, keberhasilan maupun kegagalan adalah buah dari keyakinan seseorang. “Keberhasilan itu berawal dari keyakinan. Dan kita bisa mengubah banyak sekali hal lewat keyakinan,” katanya. Sayangnya menurut Gede, keyakinan orang sering terbelenggu oleh pikiran-pikiran rasionalnya serta pengalaman-pengalaman ekstrim di masa lalu. Mereka yang gagal menumbuhkan keyakinan positif –sekalipun dia sangat berpotensi– biasanya justru gagal dalam kehidupan.

“Saya mengenal banyak orang yang secara potensial biasa-biasa saja. Tapi karena didukung oleh yang namanya raksasa keyakinan, dia berhasil. Yang banyak terjadi adalah orang yang potensinya rendah tapi keyakinannya tinggi, dia berhasil. Sebaliknya ada orang yang potensinya tinggi tapi keyakinannya rendah, ya ndak berhasil,” ungkap Gede Prama.

Agak sulit mencari tokoh seperti Gede Prama ini. Ia tidak saja dikenal sebagai seorang kolumnis yang produktif, penulis buku, konsultan manajemen, public speaker, tapi juga dikenal pernah menjadi CEO perusahaan jamu papan atas. Sebagai kolumnis, tulisannya yang mudah dicerna menghiasi berbagai media masa dan media online. Belasan buku laris sudah diselesaikannya, termasuk sejumlah kaset (audio book) yang digemari banyak orang. Sejak tahun 1993 ia menjadi konsultan manajemen dan presiden Dynamics Consulting, dan pernah pula berposisi sebagai CEO perusahaan besar yang tak lama kemudian ditinggalkannya.

Alumnus Universitas Lancaster Inggris ini juga dikenal sebagai salah satu inspirator dan public speaker terbaik di Indonesia. Lebih dari seratus lembaga profit dan non profit seperti perbankan, asuransi, BUMN, perhotelan, manufaktur, telekom, perusahaan-perusahaan DS/MLM, serta berbagai asosiasi pernah mengundangnya sebagai pembicara. Orang gemar dengan gaya penuturannya yang menyegarkan, menyentuh, mudah dimengerti, mendalam, sekaligus mengandung unsur-unsur filosofi yang tinggi.

Tak mengherankan bila banyak orang terinspirasi oleh gagasan-gagasannya. Tak terkecuali seorang cendekiawan Islam kondang seperti Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, yang mengaku terkesan sekali dengan teori “Tahi Sapi” ala Gede Prama. Teori ini bertutur tentang cara pandang positif yang bisa membangkitkan sebuah kebesaran hati apabila seseorang mendapat penghinaan atau perlakuan buruk dari orang lain.

Gede Prama dikarunia tiga orang anak. Ia mengaku, keluarga adalah kekayaan dalam kehidupannya. Ia sering menikmati waktu hujan bersama dengan anak-anaknya di halaman rumah. Saat-saat libur akhir tahun misalnya, lebih sering dipakai untuk menulis dan berkumpul bersama keluarga. Dan Gede Prama sangat bersyukur dengan kehidupan yang diperolehnya saat ini.

“Sebagai seorang public speaker merupakan jalan kehidupan yang indah, dapat uang cukup, senang, dan beribadah. Saya dapat tiga-tiganya sekaligus. Makanya saya melihat hidup saya itu indah. Life is beautiful,” tutur Gede menyebut sebuah judul film Itali yang ditontonnya berulang-ulang. Wawancara berikut merupakan salah satu wawancara terlengkap dan terbaik yang pernah dilakukan Edy Zaqeus dengan sang inspirator. Wawancara ini merupakan salah satu bagian dari buku best seller Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah! (Gradien, 2004)

Anda punya tujuan yang lebih…?

Oh, ya. Bagi saya kekayaan itu yang paling berguna adalah independensi. Kebebasan dalam arti yang luas. Di mana dunia kepegawaian adalah salah satu rantai yang membuat kita tidak terlalu independen. Jangankan di posisi bawah, di posisi presiden direktur pun kita ndak independen. Kan berhadapan dengan pemilik, berhadapan dengan komisaris, dengan aturan-aturan. Kalau kita menjadi pekerja independen, kan kita menentukan dan mengarahkan hidup kita sendiri. Jadi orang pikir saya enjoy di posisi nomor satu. Sebenarnya ndak. Saya lebih enjoy di profesi di mana saya bisa terbang sebebas burung-burung terbang di udara. Jadi, kebebasan! Persoalan jumlah uang dan jumlah materi itu relatif. Materi jadi sedikit, kalau kita pengeluarannya banyak. Materi jadi banyak, kalau kita pinter mengelolanya. Jadi bukan jumlah yang saya hitung, tapi bagaimana kita mengelolanya.

Orang itu sukses karena dia dilahirkan sebagai orang sukses, atau karena usahanya sendiri?

Saya menganut keyakinan, ya lebih banyak karena usaha. Kalau benar keyakinan banyak orang bahwa sukses itu terlahir, berarti sukses sesuatu yang sudah given. Tepatnya ndak. Sukses adalah sesuatu yang harus kita upayakan, kita cari. Badan serta jiwa kita yang mirip dengan karet yang bisa dibentuk ke mana-mana. Perkaranya apakah kita membentuknya ke arah yang lebih berbau kegagalan atau ke arah yang berbau keberhasilan. Itu lebih banyak bentukan kita. Ada unsur di luar bentukan kita, tapi lebih banyak unsur bentukan kita. Jadi sukses lebih banyak diusahakan. Terutama faktor perjuangan yang kita lakukan dalam hidup. Karet bisa ditarik sebesar apapun tergantung seberapa kuat kita menariknya.

Kalau keberuntungan, apakah dibawa sejak lahir atau karena diupayakan?

Bisa dua-duanya. Ada orang mengatakan dengan seluruh ilmu hokinya, dia terlahir (beruntung) dengan bentuk hidung dan sebagainya. Dua-duanya ada. Orang-orang yang dilahirkan beruntung mungkin memerlukan upaya lebih rendah dibanding orang yang terlahir tidak beruntung. Yang jelas dua-duanya sama-sama bisa berhasil. Cuma dengan tingkat kuantitas dan kualitas usaha yang berbeda. Jangan menyetempel; ndak hoki Anda pasti gagal, ndak!

Namun kebanyakan orang meyakini keberuntungan dilahirkan?

Boleh saja. Dan sebagaimana diketahui oleh sahabat-sahabat dari MLM, keberhasilan itu berawal dari keyakinan. Kalau belum apa-apa anda sudah meyakini tidak beruntung dan tidak berhasil, kalau kemudian anda tidak beruntung dan tidak berhasil lebih banyak gara-gara keyakinan anda. Keyakinan itu awalnya. Dan kita bisa mengubah banyak sekali hal lewat keyakinan.

Nah, dalam mengubah proses keyakinan, penghambat kita yang paling utama adalah mind. Mind itu bukan otak atau pikiran. Tapi yang jelas pikiran itu salah satu pintu menuju mind. Kalau kita bisa mengubah mind kita menjadi mind yang absolutly and totally believe pada keberhasilan, kita berhasil.

Saya mengenal banyak orang yang secara potensial biasa-biasa saja. Tapi karena didukung oleh yang namanya raksasa keyakinan, dia berhasil. Yang banyak terjadi adalah, orang yang potensinya rendah tapi keyakinannya tinggi, dia berhasil. Sebaliknya, ada orang yang potensinya tinggi, tapi keyakinannya rendah, ya ndak berhasil. Saya punya teman, orang yang brilian, pintar. Tapi kebriliyanannya tidak membuat dia berhasil, karena menyepelekan banyak perkara. Akhirnya nggak berhasil. Sebaliknya ada banyak orang biasa -jangan terlalu bodoh- karena merasa dirinya punya kekurangan, kemudian dia menutup kekurangannya dengan usaha besar-besaran. Usaha besar-besaran inilah yang menjadi energi keberhasilan yang luar biasa.

Anda tahu, orang-orang yang berhasil sebagian datang dari orang-orang yang ndak cerdas. Tapi, karena kekurangcerdasan itulah kemudian dia menutup kekurangannya dengan usaha besar. Dan kecerdasan bisa positif, bisa negatif. Positifnya, menjadi modal lari yang kuat. Negatifnya, membuat kita menyepelekan. Sekarang perkaranya tergantung pada kita. Mau meletakkan potensi kecerdasan dan sebagainya sebagai modal untuk maju, atau sebaliknya membuat kita leha-leha dan tidur siang tiap hari. Jadi kembali ke yang tadi, life is a mind game.

Jadi keyakinan yang utama?

Keyakinan intinya. Cuma menyangkut keyakinan itu seringkali dibatasi banyak hal, antara lain pikiran. Pikiran cara kerjanya kan berkalkulasi, berhitung. Kalau saya melompat paling tinggi 50 cm. Kalau saya melakukan ini maksimum saya bisa mencapai ini. Berhitung. Jadi keyakinan pertama kali dihambat oleh pikiran. Pikiran itu kayak langit-langit (dalam ruangan) yang membatasi penglihatan kita. Kalau Anda memiliki keyakinan yang tinggi, raksasa yang berasal dari dalam, maka yang pertama mesti dilampaui adalah pikiran. Hanya, banyak orang yang dibelenggu dan digembok oleh pikiran. Yang kedua adalah pengalaman, terutama yang ekstrim di masa lalu. Pengalaman buruk membuat orang traumatik, kemudian ndak yakin. Pengalaman pernah berhasil membuat orang menjadi sombong. Yang ketiga pendidikan masa kecil. Point utamanya keyakinan. Orang bodoh bisa cakap. Orang yang nggak pengalaman bisa percaya diri. Itu karena keyakinan saja. Banyak hal bisa berubah karena keyakinan.

Orang bisa mengalami kegagalan secara beruntun, dan akhirnya berkesimpulan, dirinya dilahirkan bukan sebagai orang yang beruntung. Komentar Anda?

Yang terpenting sebenarnya bukan berapa banyak kita jatuh. Tapi seberapa banyak kita bangun. Karena keberhasilan ditentukan oleh seberapa banyak kita bangun, bukan seberapa banyak kita jatuh. Masalahnya adalah banyak orang gagal yang lebih banyak berhitung berapa kali jatuhnya dibanding berapa kali bangunnya. Banyak orang mengatakan lebih banyak jatuh, lebih down anda. Saya katakan lain. Lebih banyak anda jatuh, lebih kuat anda. Kejatuhan dalam jumlah yang banyak jangan diijinkan sebagai sebuah kecelakaan yang membuat anda pasti runtuh. Tapi gunakan kejatuhan yang banyak itu sebagai vitamin untuk bangkit, bangkit, dan bangkit lagi. Dalam kehidupan banyak orang yang berhasil, mereka adalah orang yang ndak pernah berhenti bangun.

Apakah benar semua orang dilahirkan untuk menjadi pemenang?

Bisa ya, bisa tidak. Kembali kepada keyakinan keberhasilan yang lebih banyak kita bentuk dibandingkan unsur dilahirkan tadi. Kalah menang itu hanya perkara pikiran saja. Orang menjadi kalah karena pikirannya memproduksi dia untuk menjadi kalah. Orang menjadi menang karena pikirannya memproduksi dia menjadi menang. Sehingga point utamanya adalah seberapa cermat kita dan seberapa pintar kita mengelola pikiran. Pikiran itu mirip dengan pedang. Dia bisa membantu. Dengan pikiran kita bisa mengukur, mengkalkulasi, meramalkan, memilah-milah. Tapi ada aspek kedua dari pikiran, di samping membantu dia juga membatasi. Pikiran membatasi orang untuk bisa terbang tinggi. “Ah, saya satpam. Sehebat-hebatnya saya hanya kepala satpam!“. Kalau saya di banyak forum menyatakan, “Jangan gunakan pikiran sebagai pembatas. Gunakanlah sebagai pembantu!“. Caranya hanya satu, lampaui pikiran.

Untuk melampaui pikiran itu apa yang harus dilakukan?

Ada kegiatan interaktif sifatnya. Dengan mencoba, ada hasil. Kalau ada hasil, keyakinan akan naik. Coba-hasil-keyakinan. Tapi dalam lingkaran ini yang terpenting adalah mencoba. Beda antara orang beruntung dengan orang kurang beruntung hanya dalam jumlah mencoba. Orang yang beruntung mencobanya lebih sedikit. Orang yang kurang beruntung mencobanya lebih banyak. Itu saja. Perkaranya adalah –terutama yang kurang beruntung– seberapa sabar dan seberapa tahan dia mencoba. Orang gagal adalah orang kurang beruntung, dan mencobanya kurang banyak. Orang beruntung sama sekali tidak mencoba, gagal juga. Perkaranya hanya frekuensi dan jumlah kita mencoba.

Saya lihat sukses menurut anda lebih banyak ditentukan “dari dalam” bukan “dari luar”. Padahal orang baru mau berusaha atau belajar setelah dia melihat kondisi-kondisi di luar dirinya?

Ya. Proses belajar banyak orang memang seperti itu. Karena dia akan belajar dari apa yang dia lihat, apa yang diajarkan orang lain. Dari luar ke dalam. Di tingkatan-tingkatan tertentu terbalik, nanti dari dalam ke luar. Nah, sahabat-sahabat yang masih belajar dari luar ke dalam, nanti dia akan menghasilkan ketergantungan. Termasuk ketergantungan kepada saya sebagai sumber ide. Di tingkat-tingkat tertentu tidak salah belajar dari sumber luar. Tapi kalau Anda mau mendalami substansi sukses yang lebih mendalam, kita harus ganti. Gurunya tidak lagi orang luar, tapi inner teacher. Guru yang datang dari dalam. Kalau Anda sudah bertemu dengan inner teacher, Anda sudah ketemu guru terbaik. Dan dia akan membimbing Anda. Hanya saja banyak orang yang seumur hidup tidak pernah menemukan inner teacher. Kenapa? Karena membiarkan dirinya selamanya tergantung kepada guru dari luar. Pada titik tertentu Anda harus berani memutuskan ini, adalah waktu yang tepat di mana saya berhenti kepada orang, tetapi lebih banyak berguru pada guru yang ada di dalam.

Lebih konkritnya, bagaimana kita bergaul dengan inner teacher itu?

Modal, sarana, dan kendaraannya adalah rajin berefleksi. Kalau anda rajin berefleksi terutama mempelajari catatan sejarah hidup, anda akan menemukan sebuah pola. Tapi ingat, berefleksi itu ndak bisa sekali dua kali. Ada pola, ada pathern, ada flow. Cara mengenali pola ini adalah dengan menandai titik-titik ekstrim di mana Anda pernah berhasil, di mana Anda pernah terjun ke bawah. Tanya diri Anda sendiri, kenapa berhasil waktu itu dan kenapa gagal. Pasti ada hal-hal yang menjadi benang merah yang menyatukan titik-titik ekstrim tadi. Nah, semakin banyak titik-titik ekstrim yang Anda tandai, Anda akan ketemu faktor-faktor atau variabel-variabel yang muncul di titik ekstrim itu. Kalau variabel –katakanlah kejujuran– nah, itu benang merahnya. Atau usaha, itu benang merahnya. Konsentrasikan pada satu faktor, satu variabel, yang hampir muncul di semua titik ekstrim. Nah, konsentrasikan, selami, pelajari, dalami sedalam-dalamnya satu faktor itu. Dan Anda akan dibimbing oleh inner teacher.

Kalau kita sudah menemukan inner teacher dan berpegang kepadanya, apakah kita bisa menjadi kurang peka dengan sekeliling?

Ndak seperti itu. Sebaliknya anda malah akan lebih peka. Orang curiga kalau kita berguru pada inner teacher, kita jadi ndak peka, egois, ndak. Yang saya rasakan malah lebih peka lagi. Bimbingan yang datang dari luar, kita hanya bisa berguru jika gurunya ada. Inner teacher itu kan kita bawa ke mana-mana? Sehingga di semua tempat, di semua situasi, Anda akan peka. Tapi kalau Anda bergantung pada guru luar, kan anda hanya sensitif kalau gurunya ada.

Ada yang menjuluki agama anda adalah “agama cinta”. Bisa nggak unsur cinta kasih memainkan peran dalam bisnis?

Sangat bisa, tapi cinta dalam artian luas. Di tingkatan di mana Anda sudah sampai di ujung kehidupan yang bernama cinta itu, tidak ada yang sulit. Kalau ukuran uang itu kan relatif, rezeki di tangan Tuhan. Tapi di puncak kehidupan yang bernama cinta itu, saya katakan sudah sampai di tingkatan ekstasi. Jadi keberhasilan tidak lagi dilawankan dengan kegagalan. Keberhasilan ya keberhasilan. Keberhasilan yang masih dilawankan dengan kegagalan itu menunjukkan Anda masih belum sampai di tingkatan cinta. Tingkatan bawah. Cinta itu tidak mengenal dikotomi, tidak mengenal hitam putih, tidak lawan-lawanan. Cinta ya cinta, keberhasilan ya keberhasilan. Jangan dilawankan dengan kegagalan.

Tapi di bisnis orang selalu melihat winner and loser?

Nah, itu hasil produksi pikiran. Winner and loser, true and false, right and wrong, itu hasil pekerjaan pikiran. Cinta itu melampaui pikiran. Tidak hanya melampaui pikiran, bahkan melampaui waktu. Bayangkan cinta seorang ibu kepada anak. Saya punya ibu sudah almarhum, tapi cintanya masih saya rasakan. Bayangkan cinta Ibu Theresa yang sudah meninggal beberapa tahun lalu, dia dirasakan oleh seluruh umat yang peka terhadap cinta kasihnya Ibu Theresa. Bayangkan senyuman seorang Lady Diana yang sudah meninggal di Paris, tapi orang masih terbayang kan dengan senyum- senyumnya yang lembut? Perjuangan seorang Mahatma Gandhi, akan dikenang sampai seratus dua ratus tahun kemudian dalam sejarah dunia. Kalau Anda di tingkatan cinta, banyak hal sudah dilampaui. Hanya saja cinta sebagai spirit, bukan cinta sebagai sebuah pengertian sebagaimana yang dilakukan kata-kata. Kata-kata kan selalu untuk menerangkan bahwa kalau hitam harus ada putih? Orang hanya bisa mengerti cinta kalau ada kebencian. Ndak, ini di luar pengertian.

Masalahnya paradigma yang dominan, the winner is always the best. Ketika the winner muncul, selalu ada the loser….
Nah, itu paradigma yang harus kita bongkar. Kalau dalam frame of mind cinta, tidak ada winner and loser. Yang ada hanya winner. Everybody adalah the winner. Tidak ada loser dalam tingkatan cinta. Kenapa? Karena di tingkatan cinta kita sudah memeluk cinta dan kebencian, pujian dan makian, siang dan malam, pria dan wanita, suka dan duka, dalam sebuah lingkaran yang sama mesranya. Sama dengan saya sekarang ini, kan dilayani dan dipuja orang karena jabatan. Karena baju. Tapi besok lusa atau nanti saat harus pensiun, nggak lagi dilayani orang. Karena apa? Karena baju lagi. Artinya apa? Yang dipuja, dilayani, dan dimaki itu baju. Pujian dan makian itu ditujukan ke baju, tidak ke diri kita sendiri. Kalau kita konsentrasi ke dalam cinta yang ada dalam diri kita, tidak ada pujian dan makian. Semuanya tidak perlu mempengaruhi kita. Licin! Seperti air yang menetesi batu es. Lewat! Itu cinta. Tidak lagi mengenal hitam putih.

Bagaimana caranya supaya orang-orang yang masih berada di tataran pemikiran-pemikiran sangat rasional mengenal bahasa-bahasa cinta?

Nah, gurunya yang di balik. Ke inner teacher. Sayangnya kebanyakan orang masih bergantung kepada guru-guru dari luar. Dan guru-guru dari luar kebanyakan menyampaikan pesannya melalui sarana bahasa dan kata-kata pikiran. Dalam bahasa dan sarana pikiran terjadi dikotomi. Tapi kalau gurunya inner teacher, ndak! Ini inner teacher saya yang bicara…. salah satu cara untuk bisa di tingkatan cinta, atau cara di mana kita bisa melampaui mind dan pikiran, adalah keikhlasan. Cuman bukan keikhlasan yang tanpa usaha. Ikhlas tanpa usaha itu keliru. Tapi ikhlas plus kerja keras. Beda… jadi orang kerja keras, berusaha maksimal, tapi hasilnya ikhlas itu ekstasi. Tidak lagi mengenal ukuran-ukuran angka. Tidak lagi melihat keberhasilan sebagai lawan kegagalan. Winner and loser itu ndak ada.

Jadi ikhlas yang bisa membawa kita terbang lebih tinggi dari pikiran kita. Sayangnya orang-orang yang rasional, orang-orang yang masih mengenal winner and loser itu dibatasi oleh langit-langit yang namanya pikiran, dan kemudian dia ndak bisa terbang. Padahal untuk bisa terbang ini ada sayap yang bernama keikhlasan, di mana tidak ada lagi hitungan. Sama dengan sahabat-sahabat di MLM dan direct marketing. Kalau Anda bertemu orang dengan sebuah hitungan mudah-mudahan orang itu jadi network, orang itu membeli, keberhasilan itu terbatas. Tapi kalau Anda bertemu dengan orang dengan spirit cinta yang ikhlas, keberhasilannya tidak terbatas. Kadang keikhlasan itu menyakitkan. Kita ikhlas ditipu orang. Kita ikhlas terus dipecat orang, ya bisa menyakitkan. Kita ikhlas dikira bodoh, itu menyakitkan. Tapi jangan pernah lupa! Di suatu tempat kita jatuh dua tangga karena ikhlas, di tempat lain kita dinaikkan dua puluh tangga oleh Tuhan. Cuma itu hanya bisa dilakukan oleh manusia-manusia yang keikhlasannya total. Keikhlasan disertai kerja keras.

Tahapan-tahapan apa yang perlu dilalui supaya orang bisa sampai pada keikhlasan?

Cara, tips, teknik, itu kan kayak kendaraan. Teknik saya ini hanya kendaraan yang cocok dengan saya. Kalau ada orang yang cocok dengan cara ini syukur alhamdullilah. Kendaraan itu banyak. Ada yang menyebut meditation, kendaraan kerja keras, macam-macamlah. Tapi saya suka berbagi kepada orang yang namanya jalan-jalan yoga. Ini tidak ada kaitannya dengan agama. Dalam jalan-jalan yoga itu ada delapan tingkatan. Tingkatan satu dan dua adalah good daily life, yaitu kehidupan sehari-hari yang penuh dengan kebajikan. Sederhananya ya jalankan perintah agama masing-masing. Good daily life, kurangi menyakiti hati orang, bantu sebanyak mungkin orang, lakukan pekerjaan Anda dengan rasa cinta yang penuh.

Tiga dan empat adalah mengelola badan kita. Terutama panca indera, mulut, mata, telinga. Karena alasan itu sudah sejak lama saya vegetarian sebagai bagian dari perjalanan yoga. Di samping itu adalah mengelola perhatian. Apa yang kita perhatikan berulang-ulang dalam waktu yang lama akan membuat kehidupan kita sebagaimana yang kita perhatikan. Kalau Anda sering memperhatikan kehidupan seseorang, orang itu terus Anda amati dari A sampai Z, lama-lama Anda akan mirip dengan dia kehidupannya. The power of attention. Anda memperhatikan nafsu seks, Anda akan liar, pingin-pingin-pingin. Anda perhatikan makanan enak, nanti anda tertarik terus pada makanan. Makanya ada istilah attention is the active partner of intention. Perhatian adalah mitra aktifnya niat. Kalau kita memperhatikan serangkaian perilaku, sama dengan meniatkan diri kita sendiri untuk berkembang ke sana. Kalau Anda ingin berhasil, perhatikan hanya faktor-faktor yang berbau keberhasilan. Bilamana perlu seluruh panca indera Anda hanya digunakan untuk keberhasilan. Mata hanya untuk melihat yang berhasil, telinga hanya untuk mendengar yang berhasil, mulut makan sambil membayangkan raw material keberhasilan, semuanya.

Lima dan enam baru mengelola pernafasan. Pernafasan maksud saya adalah the breath of life is love. Nafasnya hidup itu cinta. Kalau Anda melihat dan mengalami semuanya dengan spirit-spirit cinta, Anda sudah sampai di tingkat lima dan enam. Tujuh itu meditasi, delapan itu enlightment, pencerahan. Nah, ndak perlu sampai delapanlah. Kalau Anda sampai di lima dan enam, live, life, and love. Maka inner teacher-nya ketemu. Keikhlasan. Syukur-syukur sampai tujuh dan delapan.

Mengapa Anda suka memasang gambar bertuliskan leader dan opportunity? Apa maknanya?

Saya terutama suka opportunity gambarnya bagus. Peluang adalah pulau yang berada di tengah-tengah kesulitan. Di kita, terutama di direct marketing dan MLM banyak orang baru, begitu ketemu kesulitan langsung mundur. Ketemu tantangan mudah menyerah. Kalau saya menemui kesulitan saya bayangkan diri saya tengah mencari pulau yang di tengah itu. Karena peluang selalu bersembunyi di tengah-tengah kesulitan.

Di bisnis DS/MLM orang memiliki spirit membantu orang lain menjadi sukses. Apakah itu bagus menurut Anda?

Yang saya amati banyak orang yang mendapatkan member atau downline dengan cara-cara yang “memaksa” atau “berbohong”. Walaupun yang dengan cara-cara jujur juga banyak. “Memaksa” atau “berbohong” adalah cara yang cepat atau lambat akan menghancurkan profesi itu sendiri. Saya justru menghargai sahabat-sahabat direct marketing atau MLM yang jujur sejak awal. Imej direct marketing dan MLM di Indonesia jadi kurang baik gara-gara itu. Padahal ada 1001 cara di mana kita bisa mengajak orang menjadi network kita tanpa perlu berbohong. Saya masih percaya kejujuran, ketulusan, dan cinta akan membantu dan menyelamatkan orang.

Anda sudah mendapatkan semua yang diinginkan. Apalagi yang ingin Anda capai?

Bagi saya kehidupan adalah perjalanan jiwa menuju Tuhan. Restless soul, jiwa yang tidak pernah berhenti berjalan. Dan dalam proses berjalan itu yang dicari adalah usaha penyatuan dengan Tuhan. Apapun profesi kita mau MLM, direct marketing atau wartawan, pandang seluruh perjalanan kita menuju arah sana. Kesuksesan, kegagalan, harta, tahta, rumah dan mobil, itu kalau dalam perjalanan mirip dengan pohon-pohon di pinggir jalan. Dan itu akan kita lewati. Kalau hari ini Anda naik mercedes jangan lupa itu akan Anda lewati. Entah lewat gara-gara meninggal, dijual, atau ganti yang lain. Celakanya di kita banyak sekali orang berjalan berhenti di tengah jalan memperhatikan pohon yang ditemukan. Entah pohon itu harta, pujian orang lain, terkenal, ketenaran, makian, hujatan, saya ndak mau berhenti.

Jangan berhenti di pohon-pohon simbol keberhasilan. Jalan terus! Dan kendaraan utama yang membuat perjalanan saya agak peaceful itu adalah ikhlas. Dalam tingkat keikhlasan total, perjalanan kita seperti berjalan di langit. Berjalan ndak ada hambatan. Banyak orang perjalanannya terhambat karena mobilnya menabrak pohon. Kalau yang dia tabrak kegagalan ndak masalah, karena kegagalan membuat kita berubah kemudian berusaha lagi. Yang bahaya adalah (menabrak) keberhasilan, karena kita terikat dengan simbol-simbol keberhasilan. Kayak saya terkenal, saya mau selamanya terkenal, terikat! Keberhasilan sering memproduksi keterikatan. Makanya saya sering mengatakan keberhasilan memproduksi kegagalan permanen. Kenapa? Karena dengan keberhasilan Anda menghasilkan benda-benda mewah. Dan dengan benda-benda mewah itu Anda terikat, dan dalam keterikatan itulah perjalanan Anda terhenti. Itu yang saya sebut kegagalan permanen.

(Wawancara ini pernah dimuat di Tabloid Network Indonesia Edisi Khusus No. 09/Thn 1/10 Desember 2001)

Agama Saya Cinta

Paradoks, itulah judul yang diberikan terhadap kecenderungan kekinian dalam kehidupan. John Naisbitt adalah salah satu tokoh yang berkontribusi besar terhadap populernya terminologi paradoks. Fundamental dalam pikiran orang-orang seperti Naisbitt, bila ada kecenderungan yang keluar dari rel akal sehat, dengan mudah masuk ke kotak paradoks. Sebagian dari manusia yang memberi judul paradoks kemudian kecewa, sebagian lagi malah bertumbuh justru karena paradoks. Tulisan ini berharap, mudah-mudahan lebih banyak sahabat yang dibuat bertumbuh oleh paradoks-paradoks berikut. Tidak menjadi niat tulisan ini agar paradoks-paradoks berikut menjadi awal permusuhan dan kecurigaan baru.

Sebagian paradoks yang layak dicermati adalah apa yang terjadi di Bali, India, Tibet sampai dengan Timur Tengah. Bali sebagaimana dikomunikasikan dalam waktu lama oleh industri pariwisata adalah pulau kedamaian. Namun di sini juga ribuan manusia dibantai karena judul komunis di tahun 1965. Di sini juga dua bom teroris meraung-raung memakan banyak jiwa manusia. Di sini juga sebuah kota terbakar karena calon presiden yang didukung tidak terpilih di tahun 1999. Di Bali juga terjadi orang sudah meninggal pun masih dihalangi agar pulang secara damai.

India juga serupa. Di sini lahir dua agama dunia (Hindu dan Buddha), di sini juga terlahir tokoh-tokoh spiritual yang besar dan mengagumkan dari Mahatma Gandhi, Ramakrishna, Svami Vivekananda, 0sho, Ramana Maharsi sampai dengan Buddha Gautama, Atisha, dan Acharya Shantidewa. Tapi di sini juga kebencian memacu permusuhan terus menerus, sehingga sahabat Hindu dengan sahabat Islam belum mengakhiri secara tuntas permusuhannya. Persoalan perbatasan masih memanas. Sejumlah tempat ibadah masih dijaga aparat.

Tibet adalah atap dunia. Seperti kepalanya Bumi. Sehingga mudah dimengerti di sini lahir banyak sastra kehidupan yang mengagumkan (salah satu contohnya The Tibetian Book of the Dead). Namun di sini juga kesedihan berumur teramat panjang. Dari pemimpinnya Dalai Lama sudah di pengasingan selama puluhan tahun, nasib rakyat Tibet yang penuh dengan tangisan. Dan belum ada tanda-tanda kuat kalau negeri suci ini akan mengalami perubahan.

Timur Tengah juga serupa. Di sini dua agama dunia (Islam dan Nasrani) pernah lahir. Namun di sini juga mesin-mesin senjata meraung-raung terus memakan korban-korban manusia tidak berdaya. Israel dan Palestina belum menunjukkan tanda-tanda berdamai dalam jangka panjang. Belakangan malah semakin menyedihkan.

Sehingga dalam totalitas, mudah dimengerti kalau Naisbitt pernah membaca sebuah kecenderunga mendunia: ‘religion no, spirituality yes’. Agama tidak, spiritualitas ya. Ini mirip dengan pengalaman seorang remaja Indonesia yang pernah kuliah di Melbourne. Suatu kali dalam kelas yang besar jumlah mahasiswanya, dosennya bertanya: any one of you who have religion? Siapakah yang memiliki agama di kelas ini? Dan yang menaikkan tangan hanya segelintir orang saja. Namun mahasiswa yang tidak menaikkan tangannya, kalau meminjam pensil tidak lupa mengembalikan. Bila bertemu Ibu-Ibu dosen membawa beban buku agak berat, cepat memberikan pertolongan. Bila antre di manapun sangat disiplin dengan antrean. Tatkala bertemu sahabat lain tersenyum sambil mengucapkan selamat pagi. Bila ada teman dalam kesulitan, refleknya bekerja amat cepat untuk membantu. Bila masuk pintu lift atau pintu kereta api mendahulukan orang tua.

Sehingga menimbulkan pertanyaan, apa agama orang-orang ini? Mirip dengan sejumlah wisatawan manca negara yang datang ke Bali, ketika ditanya apakah Anda Nasrani, ia hanya menjawab dengan senyuman tidak bersuara. Tetapi sopannya ya ampun. Masuk rumah mengetok pintu, lupa dipersilahkan duduk, kemudian bertanya: boleh saya duduk? Bila tidak sependapat, memulai dengan kata ‘maafkan kalau saya tidak sependapat’. Dan sejumlah sopan santun yang menyentuh hati.

Ini juga yang membuat sejumlah sahabat di dunia spiritual mulai bergeser: dari pengetahuan spiritual menuju pencapaian spiritual. Belajar dari Buddha lengkap dengan welas asihnya tentu baik. Membaca puisi-puisi sufi yang bertema cinta dan hanya cinta, tentu berguna. Kagum dengan doa Santo Fransiscus dari Asisi tentu bermakna. Jatuh cinta sama Bhagawad Gita tentu sebuah pertumbuhan jiwa. Mendalami kebijaksanaan-kebijaksanaan Confucius tentu saja bermanfaat. Namun mengaktualisasikannya ke dalam pencapaian spiritual keseharian, tentu memerlukan upaya yang jauh lebih keras lagi.

Banyak guru yang sepakat, jembatan terpenting yang menghubungkan antara pengetahuan spiritual dengan pencapaian spiritual adalah latihan. Seperti menemukan keseimbangan bersepeda, hanya latihan yang paling banyak membantu. Dan waktu serta tempatnya tersedia di mana-mana secara berlimpah. Di rumah, tempat kerja, sekolah, jalan raya, tempat ibadah, sampai dengan lapangan sepak bola, semuanya bisa menjadi tempat-tempat menemukan pencapaian spiritual. Seperti kalimat indah Kahlil Gibran: ‘keseharian kita adalah tempat ibadah kita yang sebenarnya’.

Menyayangi istri/suami, mendidik putera/puteri, mencintai orang tua, menghormati tetangga, menghargai pendapat/sikap yang berbeda, menghormati atasan, menghargai jasa pemerintah, berterimakasih pada tukang sapu/pembantu, bila mampu mencintai musuh, adalah rangkaian pencapaian spiritual keseharian yang mengagumkan. Pengetahuan spiritual memang kaya kata-kata, namun pencapaian spiritual kaya akan pelaksanaan.

Kagum dengan pencapaian spiritual Dalai Lama, Richard Gere pernah bertanya pada pemimpin spiritual Tibet ini tentang agama yang sebenarnya dianut Dalai Lama dalam keseharian. Dengan senyuman penuh di muka, Dalai Lama menjawab: agama saya yang sebenarnya adalah kebaikan.

Ini mirip dengan cerita tentang mahasiswa Melbourne di depan yang tidak menaikkan tangan ketika ditanya punya agama atau tidak. Namun kesehariannya rajin membantu, sekaligus jarang menyakiti. Sebagian dari orang-orang ini sambil berguman mengatakan: ‘agama saya Cinta’.

Sepi Sunyi Yang Menerangi

Ketika seorang guru ditanya evolusi jiwa manusia ratusan tahun terakhir, dengan diam sebentar, menatap mata dalam-dalam kemudian menjawab: ‘dari gelap ke gelap’. Dari ketidakpuasan satu ke ketidakpuasan yang lain. Dari konflik satu ke konflik lain.

Melihat kehidupan bergerak begini, sejumlah orang desa yang polos bertanya, kenapa kemajuan iptek harus seperti ini? Maafkanlah keluguan. Andaikan keluguan ini dijawab dengan data, angka, logika mungkin sinyalemen ‘dari gelap ke gelap’ akan tambah panjang. Angka dilawan angka. Logika mengundang serangan balik logika.

Karena demikian keadaannya, izinkanlah sekali-sekali bukan angka, bukan logika yang bicara. Melainkan sepi-sunyi. Tidak dalam posisi menyebut sepi benar, yang berbeda salah. Sekali lagi tidak. Serupa dengan mulut manusia, gigi wujudnya keras karena tugasnya memotong dan menghancurkan. Lidah bentuknya lembut karena panggilan hidupnya bukan untuk menghancurkan melainkan merasakan. Keduanya punya tugas lain. Dengan spirit seperti inilah sepi-sunyi dalam tulisan ini mohon izin bicara.

Sejak dulu, pencinta sepi memang selalu tidak banyak. 0rang yang bertapa di kesunyian selalu lebih sedikit dibandingkan mereka yang mencari di keramaian. Dan kedua-duanya sama-sama bertumbuh. 0rang-orang keramaian memang menyukai bertumbuh keluar (dengan ukuran kekaguman orang, pujian orang). Sedangkan pencinta kesunyian menyukai bertumbuh ke dalam. Kekaguman dan pujian orang malah dihindari karena penuh dengan godaan ego.

Melihat bulan dengan lampu

Satu contoh yang amat menerangi di jalan sunyi adalah pertapa suci Ramana Maharshi. Sampai umur enam belas tahun tidak ada tanda-tanda ia akan jadi pertapa. Namun begitu berkenalan dengan perjalanan ke dalam diri, tiba-tiba badannya panas. Dan ini yang membuatnya lari ke Bukit Arunachala. Lebih dari sekadar panasnya menghilang, ia menikmati sekali kesunyian di tempat ini. Dan bahkan selama puluhan tahun menghabiskan hidup yang sepenuhnya diam.

Ketika ia mengakhiri diamnya, Ramana menjawab pertanyaan banyak orang secara mengagumkan hanya dengan segelintir kata-kata. Dari situ didirikan ashram oleh banyak pengikutnya di sekitar tempat ia bertapa. Setiap kali ditanya siapa gurunya, ia selalu menggeleng sambil bergumam: ‘The ultimate consciousness is the only teacher‘. Kesadaran yang maha utama itulah gurunya.

Serupa dengan ini, di sejumlah perenungan dengan judul agama yang berbeda-beda, banyak murid diminta diam. Awalnya percakapan ke luar menghilang, diganti dengan percapakan ke dalam. Akhirnya percakapan ke dalam ini pun menghilang. Dan yang tersisa setelah ini hanya satu yakni kesadaran. 0rang-orang yang sudah disinari cahaya kesadaran, ia akan bergumam pelan: untuk melihat bulan tidak memerlukan lampu!.

Kata-kata, logika, angka mirip dengan lampu luar. Manusia membutuhkannya tatkala gelap. Namun dalam terang cahaya kesadaran, manusia tidak memerlukan lampu luar. Salah satu founding father kehidupan spiritual Bali (Dang Hyang Dwijendra), pernah menulis kakawin Dharma Sunya. Di sini ia bertutur kalau batin yang tenang-seimbang adalah sumber keindahan. Bila sumber keindahannya sudah di dalam, masihkah manusia memerlukan lampu penerang dari luar? Dalam bahasa provokatif seorang guru: when you still have some one who can make you happy or sad, you are not a master, you are a slave! Bila sumber kebahagiaan/kesedihan masih dari luar, itu tandanya seseorang belum menjadi master, ia masih jadi budak.

Apresiasi akan sepi memang bukan monopoli Bali, Lama Surya Das (Awakening the Buddha Within) pernah menulis kalau puncak perjalanan menemukan perkataan yang benar adalah hening. Eckhart Tolle (Stillness Speaks) juga serupa: ‘wisdom comes with the ability to be still. Just look and just listen….let stillness direct your words and actions‘. Kearifan datang dari keheningan. Lihat dan dengar saja….biar keheningan yang menjadi pembimbing. Thomas Merton (Thoughts in solitude) menambahkan: ‘My knowledge of myself in silence….opens out into the silence….of God‘. Pengetahuan diri dalam keheningan membuka rangkaian keheningan yang berujung pada Tuhan. J. Krishnamurti (The light in oneself) menyarankan: meditation is absolute silence of the mind. Meditasi adalah keadaan batin yang sepenuhnya hening. Dainin Katagiri (Returning to silence) menulis: Shakyamuni is some one who practice tranquil silence. Siapa saja yang mempraktekkan kesempurnaan keheningan, ia menjadi Buddha. Murid-murid Zen yang perjalanannya jauh suka menekuni latihan silent illumination. Penyair sufi Rumi bertumbuh jauh dalam sepi. Perhatikan salah satu syairnya (The Rumi collections): when you know your own definition, flee from it, that you may attain to the 0ne who cannot be defined. Tatkala Anda dipagari kata-kata, cepat-cepatlah menjauh. Ia menghalangi mencapai yang Satu yang tidak terucapkan.

Dengan seluruh cerita ini, terlihat ada banyak manusia yang terterangi rapi oleh sepi sunyi. Ia melewati banyak sekat-sekat tradisi. Dari Sufi, Nasrani, Buddha sampai dengan Hindu. Jenis manusia-manusia ini memiliki pola pertumbuhan serupa. Logika dan kata-kata ibarat kulit dan batok kelapa. Di awal manusia membutuhkannya. Namun begitu dikupas dan dibuka, kelapanya dimakan, airnya diminum, maka kulit dan batoknya dibuang.

Mikhail Naimy (The book of Mirdad) bahkan lebih terang lagi. Kata-kata, logika serupa tongkat, berguna bagi mereka yang kakinya bermasalah. Bagi jiwa yang kakinya sehat, tongkat hanyalah beban. Lebih-lebih jiwa yang bisa terbang, tongkat adalah beban berat.

Menyingkap Keindahan Bencana

Lihat kebunku penuh dengan bunga. Ada yang putih dan ada yang merah. Setiap hari kusiram semua. Mawar melati semuanya indah.

Bencana, bencana, bencana, bencana, mungkin itu kabut-kabut kehidupan yang berganti menyelimuti Indonesia beberapa tahun terakhir. Belum sepenuhnya pulih dari banjir dahsyat Jakarta, tiba-tiba tanah longsor menggelegar, gempa bumi memakan nyawa, pesawat Garuda terbakar. Bencana seperti tidak bosan-bosannya menggoda jiwa Indonesia. Seorang sahabat asli Jawa, berulang-ulang menyebut kata miris. Seorang psikiater mengutip sebutan tua tentang zaman edan, tatkala menyaksikan seorang Ibu membakar diri dan sejumlah putera-puterinya karena terhimpit kesulitan kehidupan. Salah seorang penulis luar, bahkan memberi judul menyentuh di International Herald Tribune, Indonesia: Mass murder or natural disaster, terutama setelah menghitung ratusan ribu nyawa yang melayang akibat bencana.

Berduka, bersedih, tersentuh oleh penderitaan sesama tentu salah satu tanda pertumbuhan jiwa. Di Timur telah lama diajarkan, untuk memasuki wilayah-wilayah kesucian bahkan menginjak rumput pun dilarang. Terutama karena setiap rasa sakit yang kita timpakan ke ciptaan lain, akan kembali menyakiti diri ini. Sehingga sungguh layak disyukuri kalau Indonesia masih memiliki demikian banyak hati yang punya empati.

Cahaya bencana

Dengan tetap menghormati banyak hati yang punya empati, banyak guru setuju kalau jalan-jalan keindahan apa lagi kesucian tidak ada yang sepenuhnya lurus dan mulus. Semakin indah sebuah tujuan, semakin berat jalan-jalan yang harus dilalui. Bila ini cara memandangnya, mungkin Indonesia bisa menarik nafas dalam-dalam sebentar. Menghimpun energi untuk melewati banyak tanjakan serta kelokan di depan yang masih banyak menghadang.

Dalam jeda jiwa seperti ini, bisa jadi berguna kalau merenung sebentar tentang cahaya-cahaya bencana. Bagi banyak jiwa, bencana identik dengan kematian, perpisahan, kesedihan, duka cita. Dan tentu saja ini teramat manusiawi.

Sedikit jiwa yang mau menggali lebih dalam kalau di balik bencana, ada sejumlah langit kehidupan yang tersingkap rahasianya. Ketakutan, kesedihan adalah masukan berguna tentang keinginan yang demikian mencengkeram. Semakin mencengkeram keinginan, semakin menakutkan wajah bencana. Ada keinginan agar kehidupan hanya berwajah damai, keluarga yang hanya boleh bahagia, perpisahan yang identik dengan hukuman, kemiskinan sama dengan kutukan.
Dan melalui hentakan-kentakan bencana, manusia sedang diingatkan, seberapa kuat pun keinginan mencengkeram, kehidupan tetap harus berputar. Bila saatnya matahari tenggelam, tenggelamlah ia. Ketika putaran bumi harus ditandai oleh gempa, gempalah yang menjadi sahabat kehidupan. Bila kematian sudah waktunya berkunjung, berkunjunglah ia menjadi sahabat kehidupan. Makanya, seorang ayah berpesan kepada putera-puterinya, kematian datang bukan karena penyakit, bukan karena dikerjain orang, bukan juga akibat bencana, kematian datang memang karena putaran waktunya sudah tiba. Penyakit, bencana hanyalah pintu-pintu pembuka.

Bila ini cara meneropongnya, tidak saja keinginan mulai longgar cengkeramannya, namun cahaya-cahaya bencana juga terbuka. Ternyata bencana lebih dari sekedar hulunya kesedihan, ketakutan dan kutukan, ia juga membukakan pengertian tentang wajah kehidupan yang lebih utuh.

Serupa dengan lagu anak-anak yang dikutip di awal tulisan ini, hidup serupa dengan mengurus taman. Kendati yang ditanam rumput Jepang, ada rumput liar yang ikut tumbuh. Kendati sudah banyak berbuat baik, banyak berdoa, sering ke tempat ibadah, bila saatnya bencana menggoda, ia tetap menggoda. Bila rumput Jepang yang ditanam seratus meter, rumput liar hanya mengambil porsi sedikit sekali. Demikian juga dengan kehidupan, sehat berumur bertahun-tahun tapi kerap lupa disyukuri. Sakit hanya segelintir hari sudah penuh dengan caci maki. Indonesia sebentar lagi mau berumur 62 tahun, hanya seglintir hari yang digoda bencana.

Taman jadi indah karena penuh bunga dan warna. Kehidupan juga serupa. Kebahagiaan jadi lebih indah kalau pernah melewati kesedihan. Kehidupan bermakna amat dalam karena ada kematian. Kesuksesan berakarkan rasa syukur yang mendalam, kalau pernah dibanting kegagalan.

Taman bertumbuh terus bila disirami. Pertumbuhan jiwa juga sama. Tidak saja kebahagiaan yang menyirami kehidupan, kesedihan juga menyirami, terutama karena kesedihan adalah gurunya sikap rendah hati dan mawas diri. Tidak saja kedamaian yang memperkuat kehidupan, bencana juga memperkuat kemudian. Kedamaian memperkuat seperti air yang bertemu kerongkongan dahaga, bencana memperkuat seperti amplas keras dan kasar yang membuat berlian tambah bersinar. Sebagai catatan kontemplasi, Jepang dan Jerman yang kini menjadi salah satu pemimpin dunia, kalah perang secara amat menyedihkan puluhan tahun lalu.

Di puncak semua perjalanan ini, tersisa bait indah kehidupan: ”mawar melati semuanya indah!”. Mawar yang berduri indah, melati yang wangi juga indah. Siapa saja yang bisa melihat keindahan dalam setiap unsur dualitas (bahagia-bencana, untung-rugi, suci-kotor, dipuji-dicaci) dia berada di depan gerbang pencerahan, kemudian hatinya bernyanyi: ”semuanya indah!”.

Dalam bahasa indah sejumlah sahabat penyair, keuntungan adalah hasil pelajaran dari banyak kerugian, kekotoran adalah kesucian yang sedang siap-siap menunjukkan rahasianya, kekayaan adalah sisi lain dari kemiskinan dalam mata uang kehidupan. Pada jiwa yang sedang bertumbuh, dualitas terus bergerak dari satu ujung bandul ke ujung bandul lain. Habis bahagia derita, setelah untung rugi dan seterusnya. Dan lagu anak-anak ini mengajarkan, setelah semua segi kehidupan dicintai, disirami, diterima, kemudian dari dalam sini ada yang bernyanyi: ”semuanya indah!”.

Ini mungkin yang menyebabkan Robert Fulghum pernah menulis “Apa yang perlu dipelajari tentang kehidupan, sudah selengkapnya diajarkan di taman kanak-kanak“. Sebuah masa di mana semuanya terasa indah. Guru dzogchen Chogyal Namkai Norbu menyebutnya primordial state (titik awal sekaligus titik akhir perjalanan ke dalam). Cirinya sederhana, tidak ada hal positif yang perlu diterima, tidak ada hal negatif yang perlu ditolak.

Inner Science of Transformation

Sebelumnya saya minta maaf karena baru bisa memasukkan renungan mingguan. Dari puluhan pertanyaan/ komentar yang masuk, terlihat jelas ada niat kuat para sahabat untuk berubah, namun memerlukan pedoman agar perubahan berujung pada keindahan. Untuk itu ijinkanlah renungan singkat ini berbagi bahan-bahan menuju keindahan:

1. Aspiration
Dari segi aspiration, semua sahabat yang sudah datang berkunjung ke sini (apalagi berkomentar) punya aspirasi untuk berubah. Tidak saja dibimbing oleh kemiripan minat, tapi juga ada tangan-tangan kosmik yang membuat kita berjumpa di sini.

2. Habituation
Keinginan hanya sebuah langkah tapi lemah terutama karena mudah sekali diterpa/ dibawa pergi oleh angin perubahan. Karena itu diperlukan habituation (pembadanan dalam keseharian). Seperti orang baru belajar tersenyum, awalnya aneh dan palsu, tapi kalau dibiasakan lama-lama jadi indah. Demikian juga dengan habit (kebiasaan) spiritual seperti sembahyang, meditasi, berbuat baik, berhenti marah/ menyakiti dan lain-lain. Ia memerlukan waktu agar membadan dalam keseharian.

3. Commitment
Proses pembadanan kebiasaan baru penuh godaan, tantangan, cobaan. Kita memerlukan komitmen untuk tidak mudah kembali ke titik semula. Di sinilah diperlukan komitmen kuat. Keteguhan untuk terus melangkah ke depan.

4. Consistency
Seperti menetesi batu dengan air, bila terus menerus menetesi bagian batu yang sama, bahkan batu pun bisa dibikin berlobang oleh air. Inilah kekuatan konsistensi.

Kerap ada yang tanya, apa buah (fruition) dari seluruh ketekunan spiritual seperti ini? Bagi penekun-penekun yang sudah berjalan jauh akan menemukan ciri-ciri seperti berikut ini:

a. Memandang seperti langit (tanpa batas, luas, memayungi semua). Apa yang benar hari ini bisa jadi salah besok. Musuh hari ini bisa jadi teman besok. Sehingga mulai bisa memandang semuanya dengan kualitas kemesraan yang sama, bisa tersenyum pada apa saja yang datang.

b. Melangkah seperti gunung (tekun, kokoh, teguh). Dalam bahasa orang bijaksana: ‘No wind can move the mountain, neither praise nor blame can move the wise’. Orang bijaksana sekokoh gunung, baik pujian maupun makian tidak membuat ia bergoyang.

c. Mengalir seperti gelombang. Ada gelombang tinggi (sukses, dipuja, terkenal), ada gelombang rendah (orang biasa). Namun gelombang mana pun bila menyentuh pantai (baca: kematian) akan merunduk rendah hati di depan kehidupan. Di Timur, ini yang disebut ‘pembebasan’. Selamat melangkah!

Mengusir Kegelapan Dengan Sapu

Seorang sahabat pengagum bintang sinetron Paramita Rusadi punya cara unik dalam mengekspresikan kekaguman. Setiap kali ia bertemu wanita cantik, ia selalu bergumam paramita. Entah di jalan, di pasar, mall, kantor, di mana saja asal ketemu wanita yang berparas cantik selalu ia bergumam paramita. Namun, begitu ia melihat istrinya di rumah yang tidak pernah merawat dirinya, ia bergumam lain: ‘parah banget’.

Maafkanlah lelucon, ia hanya bunga canda yang membuat kehidupan jadi indah penuh tawa. Namun, inilah ciri kehidupan yang bergerak dari kegelapan menuju kegelapan. Menyangkut punya orang selalu penuh puji, begitu melihat milik sendiri selalu penuh caci. Ada saja alasan yang membuat hadiah-hadiah kehidupan yang sudah tergenggam tangan, kemudian terlihat tidak sempurna.

Ciri lain kegelapan adalah keseharian yang mudah marah dan tersinggung. Perhatikan wacana lewat media. Semakin tinggi kadar marah publik kepada pemerintah khususnya, semakin penting tempatnya di media. Lihat juga surat-surat pembaca, setengah lebih yang dimuat media cetak adalah ekspresi kemarahan. Demikian juga dengan tulisan-tulisan atau komentar-komentar para pemuka, kalau tidak marah kecil kemungkinannya mendapat perhatian publik sekaligus media.

Dalam bahasa hati, ini pertanda masih banyak yang memperhatikan nasib bangsa. Masih ada yang rela berfungsi sebagai penjaga sejarah agar keburukan masa lalu tidak terulang kembali. Tidak sedikit yang masih cinta dengan Indonesia. Sehingga tidak seluruh kemarahan sebenarnya berwajah negatif.

Dalam bahasa kejernihan, ketidakpuasan, kemarahan, ketersinggungan adalah tanda-tanda kalau emosi terlalu mudah untuk dicuri. Jangankan kejadian besar, hal sepele pun bisa membuat emosi tercuri. Sehingga dalam totalitas, kehidupan manusia seperti rumah besar yang setiap hari kecurian. Marah, tersinggung, tidak puas, protes hanya sebagian tanda-tanda emosi yang tercuri.

Pencuri di rumah kosong

Seperti dituturkan salah satu logika tua, kegelapan tidak bisa diusir dengan sapu, ia hanya bisa menghilang bila dihidupkan cahaya terang. Sehingga menimbulkan keingintahuan, apa cahaya penerang yang bisa membantu mengusir kegelapan kemarahan?

Kembali ke pengandaian tentang rumah yang tercuri, ia mungkin terjadi kalau rumahnya penuh dengan barang, sekaligus tidak terjaga. Ada beberapa ‘barang’ di dalam sini yang memungkinkan emosi mudah tercuri yakni harga diri yang terlalu tinggi, kepintaran penuh kemelekatan serta logika batu.

Memiliki harga diri tentu sebuah pertanda kedewasaan, namun mengharap agar diri dihargai tinggi-tinggi setiap hari mudah sekali membuat emosi tercuri. Jangankan orang biasa, orang berpangkat serta bereputasi tinggi pun tidak bisa membuat dirinya selalu dihargai. Oleh karena itulah, banyak guru mengimbangi harga diri dengan sikap yang rendah hati. Dihargai adalah sumber motivasi. Dicaci adalah masukan berguna kalau masih ada sejumlah hal dalam diri ini yang perlu diperbaiki.

Kepintaran memiliki perilaku unik yang tidak semua menyadari. Pertama-tama kepintaran membikin ukuran. Kemudian menilai dan menghakimi semuanya sesuai dengan ukuran tadi. Bila kehidupan sesuai dengan ukuran, senang, gembira, setuju hasil ikutannya, Namun karena kehidupan berwajah jauh lebih besar, lebih rumit, lebih dalam dari ukuran mana pun, maka ukuran-ukuran ala kepintaran mudah sekali membuat kehidupan bermuara pada kekecewaan.

Di sinilah kebijaksanaan bisa menjadi pengimbang kepintaran. Bila kepintaran penuh dengan ukuran, kemudian menolak banyak segi kehidupan, kebijaksanaan lebih banyak belajar untuk menerima semua apa adanya. Terutama karena kesadaran mendalam, kesempurnaan sudah berada dalam kehidupan sejak awal hingga akhir. Keinginan saja yang memperkosanya dengan tuntutan harus begini harus begitu, sehingga bahagia menjadi barang langka. Dalam bahasa kebijaksanaan, penerimaan adalah awal pembebasan.

Logika batu yang laku keras dalam peradaban modern lain lagi. Seperti batu bertemu batu, ia selalu bertabrakan. Pemerintah bertemu legislatif, pekerja berjumpa pengusaha, lembaga sosial masyarakat bersentuhan dengan media, tabrakan, tabrakan dan tabrakan. Fundamental dalam logika batu, kebenaran ditemukan dengan jalan melawan. Semakin banyak perlawanan, semakin banyak kredit yang diperoleh dalam kehidupan.

Namun setelah teroris dengan logika batunya berhadapan dengan pemerintah AS bersama sekutu-sekutunya dengan logika yang sama, kemudian berputar dari satu kerumitan menuju kerumitan lain, mulai banyak orang yang haus akan logika air. Seperti pendapat Lao Tzu, the people who cultivate the Way should be more like water.

Perhatikan air yang mengalir di sungai, ia bisa melewati setiap penghalang karena lentur. Bandingkan tubuh manusia yang masih hidup dengan tubuh manusia yang sudah mati, batang pohon yang masih hidup dengan batang pohon yang telah mati. Yang masih hidup lebih lentur dibandingkan dengan yang sudah mati. Sehingga dari sini bisa ditarik pelajaran, kehidupan lebih dekat dengan kelenturan. Lebih dari itu, ia lebih mudah membahagiakan.

Sadar akan benturan-benturan yang ditimbulkan kepintaran, logika batu, serta harga diri yang tinggi, sejumlah guru bahkan pergi lebih jauh lagi. Tidak sedikit yang belajar menerangi kegelapan dengan keheningan. Sehebat apa pun harga diri, kepintaran dan logika batu, tapi semuanya pasti berlalu bersama waktu. Keheningan membuat semuanya berlalu secara hening.

Keburukan berlalu, kebaikan juga berlalu. Kesucian berlalu, kekotoran juga berlalu. Keberhasilan berlalu, kegagalan juga berlalu. Bila ini acuan kehidupan, maka jiwa mulai mengalir. Rumah jiwa akan jadi rumah kosong yang dimasuki pencuri. Pertama, karena kosong sehingga tidak ada yang bisa dicuri. Kedua, rumah jiwa dijaga oleh kewaspadaan dan kesadaran.

Eksekutif boleh saja teramat jarang akur dengan legislatif, pekerja kerap bertabrakan kepentingan dengan pengusaha, demokrasi berubah menjadi demo like crazy, tapi tidak ada di dalam sini yang bisa dicuri. Di Tibet, ini disebut rigpa (pure presence), keadaan jiwa yang terang benderang akibat praktek alert mindfulness yang panjang. Sebagai hasilnya, jiwa menerangi dirinya sendiri. Sehingga setiap jalan kehidupan seperti penuh sinar penerang.

Manusia Dengan Berkah Agung

Dalam ilmu-ilmu manusia, sudah lama dikenal rumus ’kita bisa menjadi apa yang kita pikirkan’. Ketika perang dingin antara AS-Soviet demikian menakutkan, pikiran kolektif manusia berpikir bagaimana ia segera berakhir. Dan keruntuhan Soviet membuat perang dingin berakhir, digantikan dengan kedigdayaan AS yang tidak tertandingi. Bom teroris yang meraung-raung, kemudian berusaha menjadi pengimbang. Ini disusul oleh bom yang lebih besar di Afghanistan dan Irak. Dalam keadaan seperti ini, pikiran kolektif mulai rindu dengan negara yang bisa menjadi pengimbang AS. Dan jangan-jangan ini bisa berujung pada datangnya perang dingin kembali.

Indonesia juga serupa. Ketika orde baru berkuasa, banyak sekali orang yang merindukan kebebasan. Dan tatkala orba runtuh, kebebasan memang datang. Namun, mulai ada tanda-tanda banyak manusia Indonesia yang bosan kebebasan, rindu keteraturan. Jangan-jangan pikiran kolektif seperti ini juga akan menghasilkan orde baru dengan baju baru.

Sebagaimana ditulis Dr. Michael Newton dalam Journey of the Souls, banyak sekali jiwa yang mengalami depresi berat, setelah dihipnoterapi ternyata berkejaran dengan keinginan sejak kehidupan-kehidupan sebelumnya. Dalam derajat yang berbeda, umat manusia juga sedang berkejar-kejaran dengan keinginan. Tanda-tandanya, menyukai sesuatu yang akan terjadi nanti, membenci sesuatu yang sudah kita genggam kini. Setelah yang nanti menjadi sesuatu yang kini, lagi-lagi kita merindukan yang nanti.

Ini serupa dengan kisah Nasrudin. Suatu hari Nasrudin sedang asik memancing. Tiba-tiba polisi datang. Dan berlari kencanglah Nasrudin yang diikuti polisi di belakangnya. Setelah berhenti karena kelelahan, polisi sambil membentak bertanya : ’mana tiket masuknya?’. Dengan polos Nasrudin mengeluarkan tiket dari kantong. Sadar polisinya keliru, ia bertanya balik: ’kalau punya tiket kenapa tadi lari?’. Dengan lugu Nasrudin berucap: ’saya tadi lari karena penyakit maag kambuh, ingin cepat-cepat bertemu dokter’. Beginilah kehidupan banyak orang. Terlalu banyak waktu terbuang untuk berlari. Setelah habis energi, baru sadar kalau berlari untuk sebuah kesalahpahaman. Dan yang paling banyak bertanggungjawab terhadap hidup yang terus berlari adalah keserakahan/ keinginan.

Kebahagiaan vs. keinginan

Sadar akan bahayanya keserakahan inilah, kemudian tidak sedikit guru yang belajar mengelolanya. Seperti menangkap sapi liar, awalnya melawan, memberi penjelasan kalau terpenuhinya keinginan adalah tanda dicapainya kebahagiaan.

Namun, apa pun alasannya, tetap keinginan dikembalikan ke tempat semula, hanya sebagai pembantu bukan penguasa. Makanya ada yang mencoba bercakap-cakap dengan keserakahan. Hai keserakahan, rumah siapakah yang suka kau kunjungi?. ’Rumah orang kaya karena di sana saya jadi raja’. Tatkala pertanyaannya dibalik, rumah siapa yang dibenci, ia menjawab sedih: ’rumah orang bijaksana karena di sana saya hanya jadi pembantu’.

Inilah tanda-tanda awal manusia yang mulai diterangi kebijaksanaan, keinginan dan keserakahan kembali ke tempat duduk asalnya sebagai pembantu setelah lama congkak jadi penguasa. Kalau bukan terpenuhinya keinginan sebagai ukuran kebahagiaan, lantas adakah ukuran kebahagiaan yang lain?

Seorang pejalan kaki ke dalam diri pernah berbisik, orang yang bahagianya amat mendalam adalah orang yang sadar di dalam batinnya bahwa dialah yang paling hina. Untuk itu, tidak ada pilihan lebih baik untuk menemukan kebahagiaan terkecuali rendah hati. Sebagai akibat meletakkan diri di tempat terendah, maka tidak ada seorang pun yang bisa menghinanya. Karena tidak bisa dihina, maka ia bahagia di mana saja berada.

Di dunia Sufi pernah lahir Faried yang agung. Oleh gurunya pernah diajari: ’Faried kapan saja engkau dipukuli orang, cepat cium kakinya, kemudian pulanglah tanpa rasa dendam’. Murid-murid Kristus telah lama diajari hanya kasih yang bisa membuat setetes jiwa menjadi lautan Tuhan. Lebih terang lagi ada yang menulis: all souls are perfected in love.

Bhisma pernah berpesan pada Yudistira tentang orang suci ketika tubuhnya beberapa saat lagi akan wafat. Orang suci adalah manusia dengan batin tenang seimbang. Dalam batin seperti ini, semua arah adalah indah.

Bagi segelintir pencari kesucian di jalan Buddha, penderitaan bukanlah sesuatu yang ditakuti. Ketika memilih antara penderitaan dengan kebahagiaan, mereka memilih penderitaan. Terutama karena penderitaan seperti air suci yang memurnikan perjalanan.

Inilah contoh-contoh manusia yang berbahagia tanpa tenggelam dalam keserakahan. Mereka memiliki pengertian tentang kekayaan secara berbeda. Contentment is the greatest wealth. Dalam rasa berkecukupan itulah letak kekayaan teragung. Orang-orang seperti ini kerap berpesan, ketika orang menyebut dirimu agung, bukan karena engkau agung, namun karena jiwa mulai tersambung dengan jiwanya jiwa. Orang-orang theistik (Islam, Nasrani, Hindu) memberi simbol angka satu terhadap hal ini. Terutama karena yang dua (diri dan Tuhan) telah menyatu. Orang-orang non theistik (contohnya Buddha) memberi simbol angka nol akan hal ini. Secara lebih khusus karena semua sudah sempurna apa adanya. Tidak ada lagi hal positif yang perlu ditambahkan, tidak ada lagi hal negatif yang perlu dikurangkan. Terlihat berbeda memang. Dan biarlah pohon kelapa tumbuh di pantai, pohon cemara bertumbuh di gunung. Keduanya bertumbuh indah di tempat asalnya.

Makanya di Timur pernah lahir pendapat tentang ciri-ciri manusia dengan berkah agung: ’memandang perbedaan sebagai keindahan, melindungi diri dengan perisai kesabaran, kekayaannya adalah rasa berkecukupan, hidupnya diterangi matahari kesadaran, dan kalau terpaksa mengeluarkan pedang, ia mengeluarkan pedang kebijaksanaan’.

Di Barat pernah ada yang menulis: ’my parent hate me when they know that I am a Buddhist but they love me when they know that I am a Buddha’. Orang tua pernah terkejut melihat anaknya karena kerap masuk Vihara. Namun ia cinta sekaligus bangga ketika melihat puterinya menunjukkan sifat-sifat bajik setiap hari. Seperti memberikan tanda makna, bukan judul agama yang membuat seseorang menjadi agung, melainkan kebajikan-kebajikan dalam keseharian.

Semuanya Sedang Terbakar

Seorang sahabat artis mengeluh berat di sebuah pertemuan. Hidup di zaman ini katanya serba salah. Baca koran membuat kepala mudah terbakar amarah. Tidak dibaca membuat kita tidak mengerti pembicaraan orang lain. Mendengar komentar seperti itu, ada yang menimpali lebih seru lagi. Jangankan politik, kekuasaan dan uang yang membawa bibit-bibit terbakar dari sananya, agama saja yang lahir dan tumbuh dalam kesejukan, membuat manusia jadi mudah terbakar.

Di Bali kekerasan atas nama budaya dan agama mulai berbahaya. Gesekan-gesekan antara penganut Hindu India dengan Hindu Bali sudah menghasilkan percikan-percikapn api. Ambon dan Poso adalah contoh bagaimana manusia terbakar oleh perbedaan agama. Di India dan Pakistan sejumlah tempat ibadah dijaga ketat aparat karena memang kerap dibakar. Timur Tengah sudah membara sekian lama salah satunya juga karena faktor agama. Di Amerika, beberapa tahun terakhir terjadi ribuan kasus pelecehan berbau agama tiap tahunnya. Di Turki, calon pemimpin yang dikira membawa kepentingan agama dilihat penuh curiga. Di Inggris, Gordon Brown baru saja jadi perdana menteri beberapa hari sudah dihadang serangan teroris. Thailand yang mayoritas penduduknya beragama Buddha, oleh majalah Economist diberi julukan ’from land of smile to land of coup’, terutama setelah terjadi kudeta berulang-ulang di sana.

Melalui mata, telinga, hidung, mulut, pikiran, banyak manusia terbakar. Bisa dimengerti kalau ada yang mengeluh, dalam hal kecerdasan kita tambah cerdas di segala bidang. Namun kita terus menerus lalai dalam satu hal: kita menginginkan kebahagiaan, tapi berjalan ke arah yang membuat diri menderita.

Inilah sebuah zaman panas yang membara. Salah satu ciri menonjolnya, kebanyakan jiwa berevolusi dari gelap ke gelap. Tidak puas dengan penghasilan (gelap), kemudian mencuri (gelap). Tersinggung dengan serangan orang (gelap), kemudian menyerang balik secara membabi buta (gelap).

Kesejukan sifat alami

Ada yang mengandaikan perjalanan jiwa manusia serupa dengan boneka. Di awal, bonekanya telanjang (baca: bersih, jernih). Dalam perjalanan, kita mengenakan banyak baju (keinginan, kemauan, cita-cita) ke tubuh boneka ini. Dan belakangan, banyak orang dikejar ketakutan oleh boneka berbaju aneka warna ini. Ketakutan kalah dibandingkan orang lain, ketakutan disebut gagal, ketakutan masa tua menderita.

Sehingga lingkungan luar yang membara kemudian bertemu dengan bensin di dalam (baca: ketakutan) yang memang mudah terbakar. Ini asal muasal dari banyak kehidupan yang panas dan semakin memanas. Lingkungan memang sebuah kekuatan yang tidak mudah dirubah. Namun ketakutan di dalam sini, ia bisa dirubah melalui ketekunan-ketekunan latihan. Itu sebabnya semua jiwa yang sejuk dan teduh, tidak bernafsu terlalu besar merubah lingkungan, namun demikian teguhnya merubah bensin di dalam yang mudah terbakar menjadi air yang sejuk.

Coba perhatikan pemandangan-pemandangan alam yang menyejukkan. Dari gunung, danau, pantai sampai dengan sungai. Semuanya menyejukkan karena terlihat alami. Bedanya dengan keseharian manusia, menyangkut alam yang sejuk kita menyukai kealamian, namun menyangkut diri banyak yang membenci kealamian. Wanita yang bakat alaminya feminim merubah dirinya jadi maskulin. Pria yang bakat alaminya jadi pelindung berubah menjadi perusak. Pemerintah yang sifat alaminya pelayan publik berubah menjadi korban cacian publik. Rumah yang aslinya adalah lahan pertumbuhan berubah menjadi tempat membosankan. Agama yang sifat alaminya teduh dan sejuk, berubah menjadi api yang membakar.

Dan siapa saja yang mulai bersahabat dengan sifat-sifat alami, tidak saja di dalamnya mudah sejuk, kesejukan kerap menghadirkan tangan-tangan bantuan yang tidak kelihatan. Abu Bakar (salah satu penggoda besar dalam perjalanan kenabian Rasulullah Muhammad) tunduk hormat bukan oleh ancaman dan ketakutan, namun oleh ayat-ayat Tuhan yang dilantunkan dengan kesyahduan yang mendalam. Fuzail (seorang perampok yang belakangan berubah menjadi tokoh Sufi mengagumkan) berubah drastis hidupnya karena terpesona sekaligus menggigil ketika mendengar orang membaca Al Quran.

Jesus Kristus adalah simbolik kesejukan yang menawan. Kata-kata yang kerap diucapkan adalah love all serve all. Jarang terdengar kalimat layani hanya mereka yang seiman. Di bagian lain bahkan sering terdengar love your enemy. Sehingga bisa dimaklumi kalau salah satu ciri menonjol kelompok ini adalah kesalehan sosialnya yang mengagumkan.

Pesan Krishna di bagian awal Bhagawad Gita : adveshta sarva bhutanam (jangan pernah membenci dan menyakiti). Dan yang dipilih Krishna untuk menerima pesan-pesan Tuhan secara langsung bukannya Yudistira yang terpancing untuk berjudi, bukannya Bima yang jagoan berkelahi, namun Arjuna yang artinya purity of heart. Di desa-desa tua Bali, kalau ada orang sabar biasanya disebut buih dharma gati (betapa dharmanya dia). Seperti menyisakan pesan, keindahan/kebenaran bisa dicapai melalui kesabaran.

Nibbana sebagai pencapaian spiritual di Buddha, kerap diidentikkan dengan keadaan kematian yang terbebaskan. Namun Bhikku Buddhadasa menemukan kalau nibbana adalah keadaan batin yang sejuk. Terutama karena telah berhenti dibakar kilesha (kekotoran batin seperti amarah, serakah, benci, iri). Dengan kata lain, tidak saja setelah kematian nibbana bisa diraih. Sekarang ini, di tempat ini nibbana bisa dicapai. Asal batin sudah sepenuhnya berhenti dibakar segala kekotoran.

Andaikan semua penganut Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu sejuk, mungkin mimpi Bhikku Buddhadasa bisa terealisasi: ’nibbana (kesejukan) untuk semua orang’. Dan orang pun tidak perlu terbakar.

Dalam kelompok orang-orang sejuk seperti ini, mudah sekali timbul kesepakatan bahwa ketika kita belajar bersabar dan mendengar, kita tidak saja sedang membuat orang lain bahagia, kita juga sedang membuka lapisan-lapisan diri ini yang lebih mulya.

Menyentuh Kedamaian

Sejumlah wisatawan yang datang ke Bali, heran membaca peringatan berbunyi: ’pemulung dilarang masuk’ di mana-mana. Bagi yang punya empati dan memahami psiko-linguistik (ada cermin kejiwaan dalam pilihan-pilihan kata yang digunakan dalam keseharian) akan bertanya, ada apa di pulau kedamaian Bali?

Persahabatan, pengertian, kesabaran, kebaikan adalah ciri-ciri tempat penuh kedamaian. Dengan banyaknya papan ’pemulung dilarang masuk’ di Bali, adakah kedamaian sudah pergi dari tempat yang kerap disebut the last paradise ini? Maafkanlah keingintahuan. Dan kalau boleh jujur, Bali tidak sendiri. Keseharian kehidupan di mana pun ditandai oleh semakin langkanya kedamaian.

Jangankan negara miskin seperti Botswana di Afrika yang harapan hidupnya di bawah empat puluh tahun, sebagian manusia dewasanya positif terjangkit HIV. Amerika Serikat dan Jepang yang dikenal makmur harus menandai diri sebagai konsumen pil tidur per kapita terbesar di dunia, dan angka bunuh diri yang tinggi.

Mungkin langkanya kedamaian ini yang ada di balik data amat cepatnya pertumbuhan pusat meditasi di Barat. Sebagian guru dari Timur disambut oleh komunitas Barat dengan rasa amat lapar akan kedamaian.

Republik ini serupa. Setelah lebih dari enam dasa warsa merdeka, kedamaian tidak tambah dekat. Kemiskinan, bencana, bunuh diri, pengangguran hanyalah sebagian data yang memperkuat.

Semakin menjauhnya kedamaian di luar inilah yang membuat banyak sekali manusia memulai perjalanan ke dalam. Mencari cahaya penerang di dalam.
Pohon Kedamaian

Dalam perjalanan ke dalam, ada yang serupa antara pohon dengan pencinta kedamaian. Pohon bertumbuh mendekati cahaya. Pencinta kedamaian juga serupa. Dengan keseriusan latihan, suatu waktu hidupnya terang benderang. Makanya dalam bahasa Inggris puncak perjalanan ke dalam disebut enlightenment (pencerahan), ada kata light (cahaya) di tengahnya. Untuk itulah, perjalanan menyentuh kedamaian dalam tulisan ini dibuat menyerupai pohon.

Mari dimulai dengan bibit. Bibit jiwa ketika berjalan ke dalam adalah tabungan perbuatan baik sekaligus buruk. Bukan baik–buruknya yang jadi bibit, namun bagaimana ia diolah menjadi bibit. Kebaikan belum tentu menjadi bibit yang baik, terutama kalau kebaikan diikuti kesombongan dan kecongkakan. Keburukan tidak otomatis menjadi bibit buruk, secara lebih khusus kalau keburukan menjadi awal tobat mendalam serta komitmen kuat menjalani latihan keras.

Orang baik dengan bibit yang baik jumlahnya banyak. Namun orang jahat dengan bibit yang baik juga ada. Milarepa adalah sebuah contoh. Setelah melakukan santet yang berbuntut pada matinya sejumlah keluarga paman dan tante yang menipunya, Milarepa dihinggapi rasa bersalah yang mendalam. Sekaligus kesediaan untuk membayar kesalahan dengan pengorbanan berharga berapa pun. Inilah bibit Milarepa berjalan ke dalam yang membuatnya menjadi salah satu orang suci yang amat dikagumi di Tibet.

Lahan-lahan pertumbuhan lain lagi. Meminjam kalimat indah Kahlil Gibran, keseharian adalah tempat ibadah yang sebenarnya. Makanya suatu hari Guru Nanak yang memiliki murid Islam sekaligus Hindu yang sama banyaknya di India, ditanya mana yang lebih agung Islam atau Hindu. Dengan sejuk dan teduh Guru Nanak menyebutkan, baik Islam mau pun Hindu sama-sama kehilangan keagungan kalau umatnya tidak berbuat baik. Siapa saja yang mengisi hidupnya dengan kebaikan, ia sudah menyiapkan lahan subur.

Akar pohon kedamaian adalah pikiran yang bebas dari penghakiman. Sebagaimana ditulis Ajahn Munindo dalam The gift of well–being : ’until we enter this dimension, all our wise words will be mere imitation’. Sebelum kita bebas dari penghakiman, maka kata-kata kita hanya barang tiruan hambar yang tidak bergetar. Makanya mereka yang berkarya dengan kualitas kenabian (prophetic) seperti Jalaluddin Rumi, Thich Nhat Han, Michael Naimy, Rabindranath Tagore, dengan kata-kata yang menggetarkan, semuanya sudah lewat dari kesukaan melakukan penghakiman. Dan siapa saja yang telah melewati ini tahu, betapa cepatnya pertumbuhan kemudian.

Teknik yang tepat adalah batang pohonnya. Bertemu teknik yang terlalu maju, atau terlalu rendah dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan, hanya akan membuat perjalanan hambar dan biasa. Sehingga layak disarankan untuk mencoba berbagai teknik, kemudian rasakan. Teknik mana pun yang menghadirkan rasa damai yang paling mendalam, bisa jadi itulah teknik yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan kini.

Daun rimbun kedamaian muncul ketika perjalanan ke dalam mulai menyatu dengan keseharian. Seperti mandi, ada yang kurang kalau sehari tidak melakukan perjalanan ke dalam. Lebih dari itu, setiap kejadian dalam keseharian (yang menyenangkan sekaligus yang menjengkelkan) menghadirkan bimbingan-bimbingan.

Bunga pohon kedamaian mulai bermekaran tatkala keseharian mulai menyentuh kedamaian. Hidup serupa dengan berjalan ke puncak gunung. Semakin lama semakin teduh dan sejuk. Ini baru bayangan bulan. Bila bayangannya saja demikian indah, betapa indahnya bulan kedamaian yang sebenarnya.

Siapa saja yang tekun dan terus menerus menyentuh kedamaian, persoalan waktu akan melihat munculnya buah pohon kedamaian. Kedamaian yang berlawankan kesedihan memang menghilang, ia digantikan batin tenang seimbang yang keluar dari segala dualitas.

Sejumlah sahabat Sufi yang sampai di sini berhenti memuji surga, berhenti mencaci neraka. Di Jawa disebut suwung. Di Bali diberi sebutan Embang (Sunyi). Orang Zen menyebutnya attaining the non attainment. Mencapai keadaan tanpa pencapaian. Yang membuat cerita pohon kedamaian ini jadi lebih utuh, Thomas Merton pernah mengungkapkan, pekerjaan manusia yang telah tercerahkan mirip dengan pohon. Dalam hening, dalam damai pohon mengubah karbon dioksida menjadi oksigen yang dihirup tidak terhitung jumlah mahluk. Peraih buah kedamaian juga serupa, ia tidak menikmati kedamaiannya sendiri. Dalam hening, dalam damai ia menghasilkan vibrasi kedamaian, yang serupa dengan oksigen kendati tidak terlihat, namun amat dibutuhkan oleh tidak terhitung jumlah mahluk. Sebagian orang-orang tercerahkan cara bernafasnya berbeda. Ketika menarik nafas, ia bayangkan sedang menarik masuk semua kekotoran. Tatkala menghembuskan nafas, ia bayangkan sedang membuang semua hal yang bersih dan jernih.

Bahagia Menjadi Nomor Dua

Puluhan tahun lalu, David C Mc. Clleland pernah dikenal dengan idenya tentang masyarakat berprestasi. Hampir setiap negara, korporasi tertarik mempercepat pertumbuhan dengan menginjeksikan virus motivasi berprestasi. Fundamental dalam ide ini, kehidupan hanya layak dijalani bila menjadi nomer satu. Dan sekian puluh tahun setelah ide ini berlalu, tampaknya penyebaran virusnya masih berjalan cepat.

Di dunia korporasi, pusat pertumbuhan dari mana masa depan banyak dipersiapkan, ditandai oleh semakin derasnya penyebaran virus ini.

Dalam pergeseran-pergeseran kekuasaan negara juga serupa. Yang berpengaruh adalah tokoh seperti George W. Bush, John Howard yang agresif, diimbangi oleh teroris yang tidak kalah agresif. Sebagai hasilnya, suhu hubungan antarmanusia di dunia memanas dari hari ke hari.

Soal implikasi kemajuan materi dari injeksi virus berprestasi, memang tidak diragukan. Namun semua ada ongkosnya. Kedamaian, kebahagiaan dan kenyamanan jiwa hanyalah sebagian hal yang mesti dikorbankan.

Isu pemanasan global yang belakangan ditiupkan ulang secara besar-besaran oleh Al Gore, belum terlihatnya tanda-tanda perdamaian akibat serangan AS ke Afghanistan dan Irak, serta memanasnya suhu politik di beberapa negara yang dulunya sejuk seperti Thailand dan Myanmar hanyalah sebagian tanda.

Negeri ini juga serupa. Sepuluh tahun reformasi ditandai oleh gesekan-gesekan antarelit yang berebut menjadi nomer satu. Di zaman pemilihan kepala daerah secara langsung, rakyat teramat sibuk melayani elit yang semuanya mau nomer satu.

Rahasia-rahasia sentuhan

Sebagaimana ditulis Daoed Joesoef tentang ekonomi Jepang. Tiang penopang kemajuan Jepang yang mengagumkan itu adalah ibu rumah tangga yang melaksanakan tugas keibuannya dengan rasa bangga dan bahagia.

Cerita India juga serupa. Begitu India merdeka, dengan ikhlas Mahatma Gandhi memberikan kursi perdana menteri kepada Nehru. Sebuah keputusan yang menyelamatkan India, sekaligus memberikan kesempatan India bertumbuh tanpa diganggu virus perseteruan menjadi nomer satu.

Mohammad Hatta adalah legenda Indonesia. Ia berbahagia mengisi hidupnya dengan menjadi nomer dua. Beberapa kali pun terjadi perselisihan dengan orang nomer satu ketika itu, ia selamatkan negeri ini dengan cara berbahagia menjadi nomer dua.

Di Timur pernah lahir guru agung dengan cahaya terang benderang. Jauh sebelum ia mengalami pencerahan, guru ini pernah lahir sebagai kura-kura. Suatu hari di tengah lautan, kura-kura ini melihat manusia terapung. Hanya karena menempatkan hidup orang lebih penting dari hidupnya, ia gendong manusia ini ke pinggir pantai. Setelah kelelahan di pantai, ia tertidur. Dan terbangun dalam keadaan tubuh yang sudah diselimuti ribuan semut. Lagi-lagi karena menganggap hidup orang lebih penting dari hidupnya, ia biarkan ribuan semut ini memakan tubuhnya sampai mati. Padahal, hanya dengan sebuah gerakan ke arah laut, ia selamat dan ribuan semut ini mati.

Terinspirasi dari kehidupan seperti inilah, kemudian lahir orang-orang seperti Master Hsing Yun. Dalam karya indahnya The Philosophy of Being Second, guru rendah hati yang banyak dipuji ini bertutur mengenai rahasia hidupnya. Di salah satu pojokan bukunya ia menulis: ’you are important, he is important, I am not’.

Terdengar aneh memang, terutama bagi mereka yang biasa menyembah ego, meletakkan nomer satu sebagai satu-satunya kelayakan kehidupan. Namun bagi raksasa pelayanan kelas dunia seperti Singapore Airlines dll, keberhasilan mereka disebabkan karena rajin mengajari orang-orangnya: ’orang lain penting, saya tidak penting’. Dalai Lama is a living spiritual giant. Mendapat hadiah nobel perdamaian dan penghargaan sivil tertinggi di AS yang membuatnya sejajar dengan George Washington dan Paus Yohanes Paulus II. Rahasia di balik semua ini juga serupa: musnahnya semua ego, kemudian hanya menyisakan kebajikan.

Lebih-lebih pejalan kaki di jalan Tuhan dan jalan Buddha. Hampir tidak pernah terdengar kalau ego dan kecongkakan membawa seseorang sampai di tempat jauh. Mereka-mereka yang dikagumi di jalan ini, hampir selalu ditandai oleh kesediaan menempatkan orang lain di nomer satu, kemudian membangun kebahagiaan dengan membahagiakan orang lain.

Bagi seorang Master Hsing Yun malah lebih jauh lagi: being touched is the most wonderful thing in life. Tersentuh (apa lagi sampai menitikkan air mata) adalah pengalaman batin yang menawan. Siapa saja yang berhasil membuat orang lain tersentuh, tidak saja sedang menciptakan kebahagiaan, juga membuat orang membangun tembok-tembok kesetiaan yang susah ditembus.

Di sebuah pojokan kehidupan guru rendah hati ini, pernah terjadi ia demikian dipuji, dikagumi. Sehingga tidak saja dirinya yang menitikkan air mata, langit yang biru tanpa awan sedikit pun ikut meneteskan air mata dengan menurunkan hujan. Seperti sedang bercerita, tidak ada kecongkakan yang menyentuh hati. Kebajikan, ketulusan, kesediaan membangun kebahagiaan di bawah kebahagiaan orang lain, itulah rahasia-rahasia sentuhan.

Alam memang penuh tanda. Ia tidak melarang manusia menjadi nomer satu. Jumlah batu yang menjadi puncak gunung jauh lebih sedikit dibandingkan batu yang menjadi lereng dan dasar gunung. Bila usaha hanya berujung pada nomer dua, ia sebuah pertanda mulya: kita sedang menjadi lereng dan membuat orang lain jadi nomer satu di puncak gunung. Bukankah ini sebuah sikap yang menyentuh?

Perlambang alam lain, kelapa tumbuh di pantai, cemara tumbuh di gunung. Mc. Clleland telah membuat banyak manusia jadi nomer satu, lengkap dengan hawa panas ala kelapa di pantai. Master Hsing Yun memberikan inspirasi tentang kehidupan yang menyentuh karena berbahagia jadi nomer dua, mempersilahkan orang lain jadi nomer satu, mirip dengan cemara yang sejuk di gunung. Bila pencinta nomer satu berfokus pada menjadi benar dan hebat, kesejukan ala cemara berfokus pada menjadi baik dan menyentuh. Ia serupa dengan kisah tiga anak yang memilih tiga buah pir pemberian tetangga. Murid Mc.Clleland akan memilih yang terbesar dan tersegar. Anak yang batinnya sejuk akan memilih yang terkecil dan terjelek. Ia berbahagia melihat orang lain menikmati buah pir yang besar dan segar. Dan Anda pun bebas memilih ikut yang mana.

Cinta Kedamaian dan Pencerahan

Dalam banyak hal, Barat menyimpan tanda-tanda ke mana peradaban bergerak. Industrialisasi, demokrasi, kapitalisme, feminisme hanyalah sebagian hal yang awalnya terjadi di Barat, kemudian menerjang ke seluruh dunia.

Kepunahan agama

Siapa saja yang rajin ke Barat di abad 21 ini, boleh bertanya ‘what is your religion?’. Dan siap-siaplah dijawab: stupid question. Seorang pengajar di perguruan tinggi di Melbourne, pernah bertanya ke mahasiswanya di sebuah kelas: any one of you who have religion? Dan yang menaikkan tangan hanya segelintir. Itu pun semuanya berwajah Asia.

Dari salah satu segi terlihat, agama di Barat lebih dipandang sebagai beban dibandingkan identitas yang membahagiakan. Dan pada saat yang sama, ada kecenderungan lain yang layak direnungkan.

Karen Amstrong (penulis buku Hystory of God) menulis, inilah zaman keemasan Buddha di Barat. Albert Einstein (fisikawan besar abad 20) berpendapat, agama yang bisa memenuhi kebutuhan intelek manusia masa depan adalah agama Buddha. Lama Surya Das (penulis Awakening to the Sacred) menjumpai sejumlah anak muda di Barat yang mengaku: ‘my parent hate me when they know that I am a Buddhist, but they love me when they know that I am a Buddha’. 0rang tua kesal melihat puterinya masuk Vihara. Namun mereka cinta ketika menyadari anaknya sabar, santun, penuh rasa hormat dan rendah hati.

Digabung menjadi satu, ada sebuah pintu kecenderungan yang terbuka. Di satu sisi ada rasa dahaga manusia akan kedamaian. Terutama karena materialisme di Barat sudah menunjukkan batas-batasnya. Dan di lain sisi, agama Buddha menyentuh komunitas Barat dengan kedamaian.

Membaca tanda-tanda seperti ini, tantangan agama-agama sebenarnya bukan persaingan antaragama. Raja Asoka (murid serius Buddha) mewariskan: ’siapa yang menghina agama orang, ia sedang mencaci agamanya sendiri. Siapa yang menghormati agama orang, ia sedang mencintai agamanya sendiri’. Tantangan agama-agama ke depan adalah memuaskan rasa dahaga manusia akan kedamaian.

Tanpa kemampuan memuaskan rasa dahaga akan kedamaian, lebih-lebih memperpanjang daftar kekerasan yang sudah panjang, maka bukan tidak mungkin ada agama yang mengalami kepunahan di masa depan.
Bahasa-bahasa cinta

Kalau boleh jujur, semua agama berbahasakan cinta. Islam menempatkan cinta di urutan nomer satu dalam 99 nama Allah. Nasrani mengalami dinamika dari perjanjian lama ke perjanjian baru, namun dalam kasih ia tidak bergeser sama sekali. Yoga Hindu tidak bisa sempurna tanpa bhakti yoga (path of love and devotion). Rumah batin luhurnya Buddha mulai dengan cinta kasih.

Dalam ketokohan juga serupa. Islam bersinar di tangan manusia seperti Jalaludin Rumi, Imam Al-Ghazalli yang tidak punya bahasa lain selain cinta. Ajaran Kristus menyentuh di tangan orang seperti Santo Franciscus dari Asisi yang digerakkan kasih. Di tangan Mahatma Gandhi, Bhagawad Gita hidup. Tidak ada kekuatan lain yang membantu Gandhi terkecuali bhakti. Tatkala Dalai Lama ditanya pengertian Tuhan, ia menjawab: God is an infinite compassion. Teduh, menyentuh, itulah wajah asli agama-agama.

Namun, kerap ini dihadang keingintahuan yang membandingkan wacana dengan realita. Bila memang demikian, kenapa ada serangan teroris, pemerintah AS dan kawan-kawan menyerang Afghanistan dan Irak, rezim militer Myanmar demikian kejam menembaki sejumlah Bhiksu, masyarakat Bali yang tekun berupacara melakukan sejumlah kekerasan?

Latihan sebagai langkah

Meminjam cerita Zen, setiap kata hanyalah jari yang menunjuk bulan. Bahkan kata-kata Buddha digabung dengan Krishna pun tidak bisa menghantar manusia menemukan pencerahan, terutama bila hanya sebatas dimengerti kemudian lupa. Apa yang kita tahu adalah sebuah tebing. Apa yang kita laksanakan dalam keseharian adalah tebing lain. Dan jembatan yang menghubungkan keduanya bernama latihan.

Sulit membayangkan ada pencerahan tanpa ketekunan latihan. Raksasa spiritual dari Jalaludin Rumi, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi sampai dengan Dalai Lama, semuanya dibesarkan latihan. Siapa yang berani membayar latihannya dengan ongkos lebih mahal, ia sampai di tempat yang lebih jauh.

Sayangnya, ini yang tidak mau dilakukan banyak orang. Hanya berbekalkan intelek, kemudian berharap pencerahan. Ia serupa dengan hanya melihat ujung jari, mau sampai di bulan.

Thich Nhat Hanh dalam Creating true peace lebih konkrit soal latihan. Di dalam diri kita ada bibit kedamaian sekaligus bibit kemarahan. Perjalanan latihan bergerak semakin sempurna, ketika manusia dalam keseharian menyirami bibit kedamaian, berhenti menyirami bibit kemarahan. Cara terbaik melakukan ini adalah dengan mempraktekkan kesadaran (mindfulness).

Dalam aktivitas apa pun (bangun, makan, bekerja sampai tidur lagi) lakukanlah dengan penuh kesadaran. Bila kemarahan yang datang, senyumlah sambil ingat untuk tidak mengikuti kehendak kemarahan. Tatkala kedamaian yang berkunjung senyumlah sambil sadar kalau kedamaian pasti pergi. Sehingga ketika kedamaian pergi, tidak perlu kecewa.

Bila digoda orang menjengkelkan, berfokuslah pada api amarah yang ada di dalam. Lihat, senyum, jangan diikuti. Bila ini tidak membantu, ganti judul orang menjengkelkan dengan orang yang membutuhkan uluran cinta kita. Sebab bila judulnya menjengkelkan, respon alaminya marah. Jika judulnya ia memerlukan cinta kita, maka respon alaminya membantu.

Teruslah berlatih sampai tidak ada lagi yang tersisa (kemarahan menghilang, kedamaian menghilang), terkecuali kesadaran agung. Kadang disebut kesempurnaan agung karena semua sempurna apa adanya. Dan yang terlihat oleh orang lain di luar adalah keseharian yang diam, senyum serta tangan yang bahagia bila ada kesempatan membantu.

Dibimbing cinta manusia bertemu keteduhan, kesejukan kedamaian. Kedamaian kemudian membukakan pintu pencerahan. Ada yang bertanya, apa itu pencerahan? Seperti berlatih naik sepeda. Teorinya sederhana. Namun begitu berlatih dijamin jatuh. Ada yang masuk selokan. Ada juga kakinya berdarah. Hanya dengan ketekunan latihan seseorang bisa menemukan keseimbangan (baca: kesadaran agung). Dan momen ketika kesadaran agung dialami, ia akan berujar: oooo!

Itulah pencerahan. Ia di luar kata-kata. Bila ada yang mau menjelaskannya dengan kata-kata, nasibnya akan serupa dengan sepasang tangan manusia yang mau mengambil seluruh air samudera.