Tampilkan postingan dengan label self development. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label self development. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 April 2010

Karena Itulah Aku Cinta

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa?

Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
Kamu pasti bercanda!
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.
Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?
Nania terkesima.
Kenapa?
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.
Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
Tapi kenapa?
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.
Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..
Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.


Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat.. Begitulah cinta. Aku harap dengan pernikahan ini kalian menjadi saling cinta dan mencintai lebih dari aku mencintai sahabatku ini. Untukmu yang telah menjadi seorang suami……dan untukmu yang telah menjadi seorang istri. Percayalah….bahwa Cinta itu akan menutupi segalanya

CINTA KARENA DIA……

Mantra Jimat Penakluk Manusia

Awalnya, saya mengenal nama Mary Kay Ash di beberapa terbitan jurnal Personal Excellence. Tulisannya sederhana, mudah dicerna dan menyentuh.

Namun, setelah tahu dari majalah Fortune, bahwa perusahaan yang ia dirikan dan besarkan ( Mary Kay Cosmetics) adalah salah satu di antara 500 perusahaan besar dunia, perhatian saya ke wanita tua ini mulai lebih serius. Setiap artikelnya saya baca. Bukunya saya cermati. Dan, kendatipun sering ia tampil terlalu wanita sentris, tetap tidak mengurangi minat saya terhadap ajaran-ajarannya.

Prinsip dia membesarkan perusahaan amatlah sederhana. Mulailah dengan perhatian, tenggang rasa, dan keperdulian pada orang lain. Laba adalah hasil ikutan dari keseriusan kita melaksanakan prinsip-prinsip terakhir.

Fondasi paling kokoh dari manajemen Mary Kay Cosmetics, adalah sebuah hukum utama yang berbunyi : “perlakukan orang lain, sebagaimana Anda ingin diperlakukan oleh mereka”.

Bagi Anda yang rajin belajar, prinsip terakhir bukanlah barang baru. Namun, yang unik dari Mary Kay, adalah komitmennya dalam melaksanakan prinsip tadi dengan penuh keseriusan.

Sebagai penjabaran dari prinsip manajemen dan hukum utama terakhir, Mary Kay Ash pernah menulis bahwa setiap orang membawa ke mana-mana tulisan psikologis di dahinya. Tulisan tersebut berbunyi : make me feel important (disingkat MMFI).

Sepintas tampak, prinsip-prinsip manajemen yang menjadi tiang penyangga Mary Kay Cosmetics, mirip dengan pendekatan Dale Carnegie dan Stephen Covey. Benang merahnya, terletak pada modal yang bernama sentuhan kemanusiaan.

Terus terang, saya bersentuhan dengan pendekatan-pendekatan humanistik seperti ini dari umur yang amat muda. Seorang kakak saya memberi buku Dale Carnegie, yang berjudul How to win friends and convince the others, ketika saya masih di kelas satu SMU. Butuh waktu lama memang untuk bisa mengaplikasikannya. Tetapi, langkah karir saya amatlah ditopang oleh prinsip-prinsip terakhir.

Di satu kesempatan pelatihan pada Gulf Resources Ltd., seorang pemimpin di perusahaan minyak Kanada ini bertanya ke saya : “Apa yang Anda pakai untuk membuat orang yang di hari pertama galak tidak ketulungan menjadi hormat di hari ke lima?“. Di Bank Dagang Negara, seorang pimpinan cabang yang merasa kasihan ke saya – karena menurut dia saya dikerjain habis-habisan oleh seorang peserta – juga bertanya hal yang sama ke saya, di akhir sesi. Penghujat di kelas ini, disamping merangkul saya di hari perpisahan, juga mau bersusah-susah membeli hadiah buat saya. Saya mengalami pengalaman yang sama berulang-ulang.

Seorang kawan dekat pernah bergurau, jangan-jangan saya membawa ‘jimat‘ dari Bali. Secara jujur harus saya akui, saya memang memiliki ‘jimat‘. Dan jimat terakhir memang tidak hanya monopoli orang Bali. Ia dimiliki oleh siapa saja yang peka akan bahasa-bahasa kemanusiaan.

Bila ada yang menghujat, saya belajar untuk tidak menghujat balik. Justru dalam keadaan demikian, saya ingat lagi prinsip Mary Kay Ash tentang MMFI.

Pertanyaan awal saya setiap menghadapi hujatan, aspek mana dari orang ini yang perlu diperlakukan penting? Kepintaran, pengalaman, gengsinya di depan orang lain, atau hal lain?

Bila kepintarannya yang penting, saya mencoba mencari interaksi antara ide saya dengan ide dia. Jika pengalamannya yang penting, saya akan menggunakan pengalaman tadi sebagai basis teori saya. Mana kala gengsi yang penting, saya akan beri dia kesempatan presentasi ke depan.

Berhadapan dengan orang seperti ini, saya akan coba mencari satu hal yang spesial untuk kemudian saya angkat sebagai topik pembicaraan. Ia bisa berupa dasinya yang bagus, sepatunya yang unik, rambutnya yang rapi atau apa saja yang saya yakin ia banggakan.

Lebih-lebih, bila saya bisa memberinya tambahan informasi dan pengetahuan, yang membuat dia lebih bangga lagi dengan apa yang tadinya sudah ia banggakan.

Seorang manajer wanita yang cerdas dan cantik pernah demikian ketus dengan ide-ide saya. Ketika idenya memang brilian saya akui di depan orang – kendati ada resiko saya sebagai konsultan dan pelatih tampak lebih bego. Tatkala data-data dia lebih akurat, saya tidak ragu-ragu untuk mengakuinya. Begitu break, saya ingat kalau parfum yang ia pakai berharga amat mahal. Saya mencoba menebak merknya, dan ternyata tepat. Wanita terakhir tampak demikian surprise, karena saya sudah membongkar sebuah rahasia yang sebenarnya ia banggakan ke orang lain. Di rapat berikutnya, entah dari mana datangyang rasa hormat, ia menjadi pendukung saya yang amat membantu.

Di sebuah acara yang cukup besar di Hongkong, seorang rekan berbisik agar saya hati-hati dengan orang yang menjadi moderator saya. Kata dia, orang ini sok pintar, menggurui dan tidak segan-segan menghina di depan umum.

Ketika berkenalan, saya amati raut mukanya memang lebih tua dibandingkan saya. Saya tanya pengalamannya – dan ini biasanya yang menjadi kebanggaan orang tua – maka berceritalah ia tidak habis-habis tentang masa lalunya. Terakhir, ketika ia menjadi moderator saya, eh dia malah banyak menyanjung dan memuji presentasi saya di depan umum.

Rekan saya memang benar. Saya memang memiliki jimat menundukkan manusia lain. Dan, mantra jimat itu – dalam bahasa Mary Kay Ash – berbunyi : make him/her feel important!.

Berani Gagal

Untuk dapat menikmati hidup, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah menjadi SADAR. Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti spiritualitas juga adalah kesadaran. Banyak orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan ”tertidur.” Mereka lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak, dan akhirnya meninggal dalam keadaan ”tertidur.”

Analoginya adalah seperti orang yang terkena hipnotis. Anda tahu di mana menyimpan uang. Anda pun tahu persis nomor pin Anda. Dan Andapun menyerahkan uang Anda pada orang tidak dikenal. Anda tahu, tapi tidak sadar. Karena itu, Anda bergerak bagaikan robot-robot yang dikendalikan orang lain, lingkungan, jabatan, uang, dan harta benda.

Pengertian menyadari amat berbeda dengan mengetahui. Anda tahu berolah raga penting untuk kesehatan, tapi Anda tidak juga melakukannya. Anda tahu memperjualbelikan jabatan itu salah, tapi Anda menikmatinya. Anda tahu berselingkuh dapat menghancurkan keluarga, tapi Anda tidak dapat menahan godaan. Itulah contoh tahu tapi tidak sadar!

Roti Busuk Manajemen

Di sebuah perusahaan Jepang yang mengundang saya sebagai nara sumber, seorang eksekutif puncaknya sempat berargumen lama tentang sinyalemen yang saya sebut dengan berfikir ala kaca spion. Berjalan ke depan namun senantiasa melihat ke belakang.

Saya bisa memaklumi, kalau banyak rekan dari Jepang yang tidak setuju dengan hal terakhir. Secara lebih khusus, karena mereka sudah memiliki tradisi yang lama dan panjang tentang kegemaran mengutak-atik data yang telah lewat. Jangankan mengambil keputusan, bermain golf saja mereka disertai dengan data- data score cards masa lalu. Dalam bingkai berfikir ala kaca spion ini, satu- satunya cara untuk bisa hidup di hari ini, dan selamat di hari esok adalah dengan jalan mempelajari apa yang sudah lewat.

Ini semua mengingatkan saya, pada keyakinan-keyakinan yang ditanamkan secara berlebihan oleh kaum empiris dalam ilmu pengetahuan. Manajemen, melalui sejumlah tokohnya seperti Taylor yang menciptakan scientific management, juga terkena sindroma kaca spion. Kelompok Aston yang menjadi salah satu cikal bakal pendekatatan kontingensi – yang memiliki banyak sekali penganut sampai sekarang dalam dunia manajemen – juga membangun argumennya di atas kaca spion. Diktum ’structure follows strategy’ yang pernah dikemukakan seorang guru besar Harvard, serta memiliki penganut sampai sekarang, juga dibangun di atas tumpukan data masa lalu yang mengagumkan. Administrative Science Quarterly- sebuah jurnal manajemen berpengaruh yang diterbitkan MIT, dan penulisnya kebanyakan bergelar Ph.D sangat kuat diwarnai oleh penelitian-penelitian empiris yang amat mereka banggakan.

Nah, sekarang saya ingin membawa persoalan ini ke dalam pengandaian makan roti. Semua orang saya yakin – termasuk Taylor, kelompok Aston, Alfred Chandler serta pananggung jawab Administrative Science Quarterly – lebih menyukai roti yang fresh from the oven. Tidak ada yang mau memakan roti busuk hasil simpanan bertahun-tahun lalu.

Mirip dengan makan roti, manajemen yang lahir dari kumpulan data masa lalu, tidak membuat kepala manusia menjadi fresh. Tidak tertutup kemungkinan, malah membuat kepala kita menjadi roti busuk yang tidak berguna. Ini bisa terjadi – sebagaimana sudah sering saya tulis – karena semakin sedikit sejarah yang muncul dalam bentuk pengulangan. Sebagaimana sebuah pepatah Cina : ‘we can not step into the same river twice’. Sebab, sebagaimana sungai, kehidupan setiap detik berganti.

Sayang seribu sayang, di manapun orang belajar manajemen secara formal, senantiasa dihadapkan pada ribuan kaca spion. Ada kaca spionnya Drucker, Porter, Kotler, Ohmae, Mintzberg dan ribuan kaca spion sejenis. Bila kaca spion ini dibuat di tahun 1990-an masih mending. Tidak sedikit yang lapuk karena ditulis di tahu 50-an.

Tidak heran kalau Robert M.Pirsig – penulis novel Zen and The Art of Motorcycle Maintenance yang disebut Time sebagai unforgetable trip – pernah menulis : ‘Isaac Newton ia a very good ghost. One of the best. Your common sense is nothing more than the voices of thousands and thousands of these ghost from the past’.

Dengan demikian, tidak hanya manajemen yang dirasuki ‘hantu’ masa lalu. Semua sendi-sendi ilmu pengetahuan – meminjam argumen Pirsig – juga dirasuki oleh ‘hantu-hantu’ terakhir.

Anda tentu saja bertanya, kalau demikian kemana kita harus menoleh ? Terus terang, saya memang bukan pemegang bola kristal yang langsung bisa menunjuk sebuah jurus atau kiat. Di kolom ini, tugas saya lebih dekat dengan upaya menggoyahkan apa yang telah mapan dan membelenggu. Untuk kemudian, kembali ke dunia pengamatan yang segar dan jernih.

Memang, ada banyak cara untuk sampai ke tataran fresh mind. Namun, sangat penting untuk membersihkan fikiran dari ‘kotoran-kotoran’ masa lalu. Saya memilih untuk menantang dan mempertanyakan semua otoritas masa lalu – termasuk otoritas yang saya pernah buat sendiri.

Seorang peserta seminar dalam topik Crazy Times Call For Crazy People, pernah bertanya ke saya tentang skenario ke depan. Jawaban warasnya, siap-siaplah kita berhadapan dengan perekonomian yang dibangun di atas perusahaan-perusahaan skala menengah. Jawaban ‘gila’-nya – dan ini yang lebih saya rekomendasikan – berfikirlah keluar dari segala bentuk skenario. Dalam dunia fresh mind, tidak diperlukan skenario. Apa lagi skenario ‘jika-maka’. Yang ada hanyalah melihat tanpa mengkerangkakan. Mengutip sebuah pepatah Zen, sebesar apapun telunjuk yang digunakan untuk menunjuk bulan, tetap tidak akan bisa mewakili wajah bulan yang sebenarnya. Demikian juga dengan skenario.

Meminjam argumen guru meditasi saya di Inggris sana : ‘jumping into the unknown, dying from all the pasts and future ideals, live the present just as they are’.

Jadi, diperlukan keberanian untuk melompat ke wilayah fikiran yang tidak diketahui. Mati dari masa lalu dan idealitas masa depan. Serta hidup di masa kini sebagaimana adanya.

Kembali ke pangandaian semula tentang makan roti, inilah yang saya sebut dengan roti manajemen yang fresh from the oven. Bukan roti majajemen busuk yang sudah lama membuat kita terkejut, terkaget dan hidup asing dari masa kini yang senantiasa segar.

Ah, ini hanyalah sekumpulan fikiran yang kerap disebut utopis oleh sejumlah orang – terutama kaum empiris. Mereka yang membenci ketidakjelasan ini, bahkan menyebut saya makar dan provokator. Namun, dibandingkan dimakari dan diprovokator oleh kecenderungan, saya lebih memilih untuk memprovokator dan memakari fikiran-fikiran saya sendiri.

Konosuke Matsushita, Thomas J. Watson, Bill Gates, Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi, Lady Diana, Ibu Theresa, Cory Aquino, Winston Churchill adalah sebagian kecil dari deretan manusia yang menjadi provokator dan tukang makar bagi fikiran-fikirannya sendiri.

Anda juga saya harapkan bisa menjadi provokator dan tukang makar tidak hanya bagi fikiran Anda, tetapi juga bagi fikiran gombal yang menjadi fundamen tulisan ini. Tanpa itu, kita hanya mengulangi sejarah manajemen yang berjalan sudah amat lama dan panjang : memakan roti busuk.

Gede Prama

Seni Hidup

Setiap orang mencari kedamaian dan keharmonisan, karena inilah yang kurang dalam kehidupan kita. Dari saat ke saat kita mengalami kegelisahan, kejengkelan, ke-tidak-harmonisan, penderitaan. Saat seorang gelisah, ia juga menyebarkan penderitaan tersebut kepada orang lain – kegelisahan merembes keluar dari orang yang menderita ke sekelilingnya. Sehingga setiap orang yang berhubungan dengannya ikut menjadi jengkel dan gelisah. Tentu ini bukan cara hidup yang baik.

Seseorang harus hidup damai dengan dirinya sendiri dan juga dengan yang lain. Bagaimanapun manusia adalah makhluk sosial, ia harus hidup dan berhubungan dengan masyarakat. Bagaimana kita bisa hidup damai? Bagaimana tetap harmonis dengan diri sendiri dan juga masyarakat sekitarnya sehingga orang lain bisa hidup damai dan harmonis?

Seseorang gelisah. Untuk keluar dari kegelisahan, ia harus mengetahui alasan dasar atau sebab dari kegelisahannya. Bila ia menyelidiki masalah tersebut, akan jelas bahwa pada saat ia mulai membangkitkan kekotoran dalam batin atau pikiran, ia pasti menjadi gelisah. Pikiran yang tidak murni dan kotor tidak dapat hadir bersamaan dengan kedamaian dan keharmonisan.

Bagaimana seorang membangkitkan kekotoran batin? Sekali lagi, dengan menyelidiki akan menjadi jelas, saya menjadi tidak senang saat melihat seorang bertingkahlaku tidak seperti yang saya inginkan atau sesuatu terjadi tidak sesuai dengan harapan saya. Sesuatu yang tidak diharapkan terjadi dan saya membuat ketegangan dalam diri. Sesuatu yang diinginkan tidak terjadi, karena suatu sebab, lagi-lagi saya membuat ketegangan didalam diri. Dalam hidup ini hal yang tidak diharapkan bisa terjadi, hal yang diharapkan bisa terjadi ataupun tidak, proses atau reaksi mengikat simpul-simpul ‘Gordian-knots ‘ membuat seluruh struktur mental dan jasmani menjadi tegang, penuh kenegatifan, hiduppun menjadi derita.

Satu cara untuk menyelesaikan masalah adalah dengan mengatur hal yang tidak diharapkan agar jangan terjadi dan berusaha agar semua hal terjadi seperti apa yang inginkan. Maka saya harus mengembangkan kekuatan atau saya bersandar pada orang lain yang punya kekuatan yang bisa membantu saya setiap saat sehingga segala sesuatu terjadi atas keinginan saya. Tapi ini tidak mungkin. Tidak ada seorang -pun didunia ini yang keinginannya bisa selalu terpenuhi. Jadi timbul pertanyaan bagaimana saya tidak bereaksi buta terhadap hal-hal yang tidak saya sukai? Bagaimana tidak membuat ketegangan? Bagaimana menjaga tetap damai dan harmonis?

Di India, juga negara lain, para bijaksana telah mempelajari masalah ini – masalah penderitaan manusia – dan menemukan solusinya : Bila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dan seorang mulai bereaksi dengan membangkitkan kemarahan, takut atau kenegatifan apa saja, secepatnya ia harus mengalihkan perhatian-nya ke hal lain. Misalnya , berdiri, mengambil segelas air, mulai minum. Kemarahannya tidak akan diper-banyak dan ia akan keluar dari kemarahan. Atau mulai menghitung: satu, dua dan seterusnya. Atau mengulang sebuah kata, kalimat atau mantra, mungkin nama dewa dewi yang dipercaya, pikiran dialihkan dan anda keluar dari kenegatifan dalam batas tertentu.

Solusi ini membantu. Dengan cara ini batin merasa bebas dari kegelisahan. Tapi sebenarnya solusi ini hanya bekerja pada lapisan sadar. Dengan mengalihkan perhatian ia menekan kenegatifan jauh kedalam bawah-sadar dan pada lapisan ini ( bawah-sadar – Admin ), tanpa ia sadari, ia melanjutkan membangkitkan dan menggandakan kekotoran yang sama. Pada permukaan terdapat lapisan ketenangan dan harmonis, tapi pada kedalaman batin terdapat gunung berapi yang tertidur yang cepat atau lambat akan meletus dengan hebat.

Pencari kebenaran batin lainnya melanjutkan pencariannya dan dengan mengalami realita dari batin-materi dalam dirinya mereka mendapatkan bahwa mengalihkan perhatian hanyalah menghindar dari masalah. Menghindar bukanlah solusi yang baik: orang harus menghadapinya. Saat kekotoran timbul dalam batin, amati saja, hadapi. Kekotoran mental akan segera berkurang secepatnya seorang mengamati-nya. Dengan perlahan kekotoran akan layu dan tercabut.

Solusi yang baik adalah menghindari dua extrim — penekanan atau bereaksi buta. Menekan kekotoran dalam bawah-sadar tidak akan mencabut kekotoran tersebut, membiarkan kekotoran batin menjelma dalam bentuk tindakan fisik atau vokal hanya akan menimbulkan masalah lebih banyak. Tapi bila seorang hanya mengamati, kekotoran akan berlalu dengan sendirinya dan kenegatifan tercabut. Ia bebas dari kekotoran batin.

Ini kedengaran bagus, tapi apakah ini benar-benar praktis? Untuk rata- rata orang apakah mudah menghadapi kekotoran batin? Saat kemarahan timbul, begitu cepat ia menguasai kita sehingga tidak sempat mengenalinya. Dikuasai oleh kemarahan, kita bertindak secara jasmani atau ucapan yang merugikan kita dan orang lain. Kemudian saat amarah telah berlalu, kita mulai menyesal, minta ampun dari orang ini dan itu atau dari Tuhan: Oh saya telah membuat kesalahan, mohon ampuni saya. Tapi saat berikutnya, ketika kita berada dalam situasi yang sama, sekali lagi kita bereaksi dengan cara yang sama. Semua penyesalan itu tidak membantu sama sekali.

Kesulitannya adalah saya tidak menyadari saat kekotoran timbul. Kekotoran dimulai dari jauh didalam bawah-sadar dan saat mencapai pikiran sadar, ia telah mendapatkan kekuatan yang begitu besar yang bisa menguasai saya dan tidak dapat di amati.

Jadi saya harus punya sekretaris pribadi sehingga saat kemarahan timbul, dia akan berkata ‘Lihat Tuan, kemarahan timbul’. Karena saya tidak tahu kapan amarah timbul, saya harus punya tiga sekretaris untuk berjaga bergantian selama 24-jam. Umpama saya mampu, saat amarah timbul dan sekretaris mengatakan: ‘Tuan lihat, kemarahan timbul ‘, hal pertama yang akan saya lakukan adalah menamparnya dan memakinya: ‘Bodoh kamu, Apakah kamu dibayar untuk mengajari aku’? Saya sudah dikuasai oleh kemarahan, tidak ada nasihat yang baik yang bisa membantu.

Meskipun saya tidak menamparnya, saya berkata ‘Terima kasih banyak, sekarang saya harus duduk dan mengamati kemarahanku’. Apakah itu mungkin? Secepatnya mata saya pejamkan dan mengamati kemarahan, segera objek kemarahan masuk kedalam pikiran – orang atau kejadian yang membuatku marah. Jadi saya tidak mengamati kemarahan itu sendiri tapi saya hanya mengamati rangsangan luar dari emosi. Ini hanya akan menggandakan kemarahan. Ini bukan solusi. Adalah sangat sulit untuk mengamati kenegatifan serta emosi yang abstrak, terpisah dari objek luar yang menyebabkannya.

Tapi orang yang telah mencapai kebenaran akhir menemukan solusi yang nyata. Ia mendapatkan saat kekotoran timbul didalam batin secara bersamaan dua hal terjadi pada tingkat fisik. Satu adalah nafas kehilangan irama yang normal. Kita mulai bernafas cepat saat kenegatifan masuk dalam batin. Ini mudah diamati. Pada tingkat yang lebih halus, semacam reaksi biokimia terjadi didalam tubuh – semacam sensasi. Setiap kekotoran akan membangkitkan satu dan lain sensasi pada satu bagian tubuh atau lainnya.

Ini adalah solusi yang praktis. Orang awam tidak bisa mengamati kekotoran batin – ketakutan, kemarahan atau emosi yang abstrak. Tapi dengan latihan dan praktek yang tepat adalah mudah mengamati pernafasan dan sensasi tubuh — keduanya langsung berhubungan dengan kekotoran batin.

Pernafasan dan sensasi akan membantu dalam dua hal. Pertama, mereka akan menjadi seperti ’sekretaris pribadi’. Secepatnya ada kekotoran timbul dalam batin, nafas akan berubah tidak normal. Ia akan teriak ‘Lihat ada yang salah’. Sayapun mulai mengamati nafas dan sensasi dan saya segera mendapatkan kekotoran berlalu.

Fenomena materi-batin ini seperti mata uang dengan dua sisi. Pada satu sisi adalah apapun pikiran atau emosi yang timbul didalam batin. Sisi lainnya adalah nafas dan sensasi dalam tubuh. Setiap pikiran atau emosi, setiap kekotoran mental mewujudkan diri dalam nafas dan sensasi pada saat itu. Jadi dengan mengamati nafas atau sensasi, saya sebetulnya mengamati kekotoran batin. Dari pada menghindari masalah, saya menghadapi kenyataan sebagaimana adanya. Kemudian saya mendapatkan bahwa kekotoran batin kehilangan kekuatannya. Saya tidak lagi bisa dikuasai seperti dulu. Bila saya bertahan, kekotoran akhirnya lenyap dan saya tetap damai dan bahagia.

Dengan cara ini, teknik mengamati diri menunjukkan kepada kita adanya dua aspek yaitu aspek dalam dan aspek luar. Sebelumnya, saya selalu melihat dengan mata terbuka lebar dan melewatkan kebenaran didalam. Saya selalu melihat keluar untuk sebab dari ketidak-bahagiannya, saya selalu menyalahkan dan mencoba merubah realitas diluar tidak mau tahu dengan realita didalam. Saya tidak mengerti bahwa sebab dari penderitaan berada didalam; didalam reaksi buta saya sendiri terhadap sensasi yang menyenangkan dan tidak menyenangkan.

Sekarang dengan berlatih, saya bisa melihat sisi lain dari mata uang. Saya bisa menyadari nafas dan juga apa yang terjadi didalam diri saya. Apapun itu, nafas atau sensasi, saya belajar hanya mengamati tanpa kehilangan keseimbangan batin. Saya berhenti bereaksi, berhenti memperbanyak penderitaan. Saya biarkan kekotoran mewujudkan diri dan berlalu.

Semakin banyak orang berlatih teknik ini, semakin cepat ia keluar dari kenegatifan. Secara berangsur batin / pikiran keluar dari kekotoran dan menjadi murni. Batin yang murni selalu penuh dengan cinta tanpa pamrih untuk semuanya, penuh belas kasih untuk penderitaan orang lain, penuh kegembiraan atas sukses dan kebahagiaan yang lain, penuh keseimbangan dalam menghadapi segala situasi.

Saat seorang mencapai tahap ini, seluruh pola kehidupannya mulai berubah. Tak mungkin lagi ia mela – kukan tindakan fisik atau vokal yang mengganggu kedamaian serta kebahagiaan orang lain. Sebaliknya batin yang seimbang tidak saja membuatnya damai, tapi juga membantu orang lain menjadi damai. Kedamaian serta keharmonisan yang terpancar dari orang tersebut akan mempengaruhi orang disekelilingnya.

Dengan belajar tetap seimbang dalam menghadapi semuanya yang dialami dalam tubuhnya, ia tidak terpengaruh lagi terhadap semuanya yang ia jumpai dalam situasi diluar. Bagaimanapun ini bukanlah malarikan diri atau tak peduli terhadap masalah duniawi. Seorang pemeditasi Vipassana menjadi lebih perasa terhadap penderitaan orang lain, dan berusaha sebisanya untuk meringankan penderitaan – tidak dengan kegelisahan tapi dengan batin yang penuh cinta, belas kasih dan seimbang. Ia belajar pengabadian suci bagaimana terlibat penuh dalam membantu orang lain dan menjaga batinnya tetap seimbang. Dengan cara ini ia tetap damai dan bahagia sewaktu bekerja untuk kedamaian dan kebahagiaan orang lain.

Inilah yang diajarkan oleh Sang Buddha : suatu Seni Hidup. Beliau tidak pernah membentuk atau mengajarkan suatu agama ( seperti yang kebanyakan orang pahami – Admin ) atau aliran. Beliau tidak pernah memerintahkan pengikutnya melakukan tata cara atau upacara formalitas kosong atau buta. Sebaliknya beliau hanya mengajarkan mengamati alam sebagaimana adanya dengan mengamati realita di dalam tubuh. Karena ketidaktahuan, seorang selalu bereaksi yang membahayakan dirinya dan juga orang lain. Tapi saat kebijaksanaan timbul – kebijaksanaan dari mengamati realita sebagai mana adanya – ia keluar dari kebiasaan bereaksi ini. Saat seorang berhenti bereaksi secara buta, ia mampu bertindak benar – tindakan yang keluar dari batin yang seimbang, batin yang melihat dan mengerti kebenaran. Tindakan demikian hanya bisa positif, kreatif, membantu dirinya dan juga orang lain.

Apa yang perlu sekarang adalah mengenal diri sendiri – demikian nasihat para bijaksana. Seorang harus mengenal diri sendiri tidak hanya pada tingkat intelek, emosi ataupun kebaktian, menerima secara buta apa yang didengar atau dibaca. Pengetahuan yang demikian tidak cukup. Seorang harus mengenal realita pada tingkat kenyataan. Seorang harus mengalami langsung realita dari fenomena materi-batin ini. Hanya ini yang akan membantu kita keluar dari penderitaan.

Pengalaman langsung atas realita dalam dirinya, teknik mengamati diri sendiri inilah yang disebut ‘Meditasi Vipassana’.Dalam bahasa India pada masa Sang Buddha, passana berarti melihat dengan mata terbuka, vipassana adalah mengamati sesuatu sebagai mana adanya, tidak sebagai apa yang terlihat. Kebenaran yang terlihat harus ditembus sampai seorang mencapai kebenaran akhir dari seluruh struktur materi-batin. Saat seorang mengalami kebenaran ini, ia akan berhenti bereaksi secara buta, menghentikan pembuatan kekotoran – dan secara alami, kekotoran yang lama akan berangsur tercabut. Ia keluar dari semua penderitaan dan merasakan kebahagiaan.

Ada tiga tahapan dalam Kursus Meditasi Vipassana. Pertama tidak melakukan tindakan fisik atau ucapan yang mengganggu kedamaian serta keharmonisan orang lain. Seseorang tidak bisa membebaskan kekotoran batinnya bila ia terus melakukan perbuatan yang hanya memperbanyak kekotoran. Jadi aturan moral ini adalah penting sebagai tahap awal dari latihan. Kemudian seorang berjanji tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berhubungan sex, tidak berbohong, tidak mabuk. Dengan mematuhi aturan tersebut diatas, seorang bisa menenangkan batinnya untuk melakukan tugas-tugas selanjutnya.

Tahap berikutnya adalah mengembangkan penguasaan atas pikiran yang liar dengan melatih untuk tetap pada satu objek: nafas mengarahkan perhatian pada nafas selama mungkin. Ini bukanlah latihan pernafasan, nafas tidak diatur, sebaliknya nafas yang alami diamati sebagaimana adanya sewaktu nafas masuk dan keluar. Dengan cara ini pikiran ditenangkan sehingga tidak dikuasai oleh kenegatifan yang kuat. Pada waktu yang sama, pikiran dipusatkan, membuatnya menjadi tajam dan menembus, berguna untuk usaha pencerahan.

Dua tahapan pertama, kehidupan yang bermoral dan penguasaan pikiran, adalah perlu dan bermanfaat. Tapi itu akan membawa pada penekanan diri, kecuali mengambil tahap ketiga – memurnikan pikiran dengan mengembangkan pencerahan kedalam diri. Ini adalah vipassana: mengalami realita diri sendiri melalui pengamatan yang tenang dan sistimatis dari fenomena materi-batin yang selalu berubah yang terwujud sebagai sensasi yang timbul dalam tubuh. Ini adalah puncak dari ajaran Sang Buddha : pemurnian diri melalui pengamatan diri.

Ini bisa dilakukan oleh semua orang. Setiap orang mengalami penderitaan, itu adalah penyakit universal yang memerlukan pengobatan universal. Bila seorang menderita karena kemarahan, itu bukan kemarahan milik Buddhis, Hindu atau Kristen. Kemarahan adalah kemarahan universal. Obat-nya pun harus universal.

Vipassana adalah obatnya. Tak akan ada yang keberatan dengan aturan yang menghormati kedamaian dan keharmonisan orang lain. Tak ada yang keberatan dengan pengembangan kontrol terhadap pikiran, mengembangkan pencerahan kedalam diri, yang membebaskan pikiran dari kenegatifan.

Vipassana adalah jalan universal yang mengamati realita sebagai mana adanya melalui pengamatan kebenaran dalam tubuh – ini adalah mengenal diri sendiri pada tingkat kenyataan dengan mengalami secara langsung. Dengan berlatih seorang keluar dari penderitaan. Dari kebenaran yang kasar, diluar dan kasat mata, menembus sampai kebenaran akhir dari materi-batin, dibalik ruang dan waktu, bidang yang terkondisi dari kenisbian: kebenaran dari pembebasan total atas semua kekotoran, semua ketidak murnian, semua penderitaan. Nama apapun yang diberikan pada kebenaran ini tidak penting. Ini adalah tujuan akhir dari semua orang.

Semoga kalian semua mengalami kebenaran akhir ini. Semoga semua orang keluar dari kekotorannya, penderitaannya. Semoga mereka menikmati kebahagiaan sejati, kedamaian sejati, keharmonisan sejati.

SEMOGA SEMUA MAHLUK BERBAHAGIA

Jangan Mengeluh

Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita. Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa.

Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, “Lulu, Lulu.”. Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, “Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.” Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, “Lulu, Lulu”. “Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?” tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, “Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.”

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki.
Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.

Cerita terakhir adalah mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, “Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat,saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.”

Sesat di Rimba Ilmiah

Sebuah tulisan yang bernada ilmiah selalu mengundang decik kekaguman, untuk itu agar saya tidak kelihatan bodoh, dan karena saya bosan menulis yang ringan-ringan, tulisan ilmiah ini saya buat. Dan seperti mahasiswa Indonesia yang sedang menyusun skripsi, saya jelas banyak mengambil jalan pikir “orang-orang besar” atau “ahli dibidangnya” dan menulis cacatan kaki sana sini bawah disetiap halaman. Tulisan ini masih dalam rangka menemukan Tuhan dan arti Hidup. Harap pembaca sedikit merenung…. Ini adalah sebuah tulisan ilmiah…

Tracey Chaffen mengatakan dibukunya “modern cosmology” bahwa “life” dan “living being” adalah sebuah bentuk information code yang terjaga dalam seleksi alam, terperangkap dalam human brain and soul. Sedangkan Debra Ball dibukunya “definition of life” mengatakan bahwa asal usul mahluk hidup bukanlah dari carbon chemistry, tapi dari mettalic crystals.

Sebuah tulisan berbau ilmiah yg kental bukan? Ok, saya teruskan…. Sylvester Middlebrook dalam pencariannya terhadap arti “hidup” punya pandangan lain, dalam bukunya “God and Resurrection of Dead” dia mangatakan bahwa Tuhan sebenarnya adalah sebuah maha komputer buatan manusia yang terprogram untuk mencreate semua hal. Komputer ini buatan future humanbeing yang sanggup menciptakan partikel kecil seperti elektron dan atom sampai matahari dan universe. Dan juga kehidupan.

Lorrey Winter lain lagi. Dibukunya “Is there God” dia berani berucap “Tuhan, setelah saya selidiki ternyata cuma adalah legenda purba yang turun temurun nyangkut diotak manusia”. Sehingga secara tidak sadar sebenarnya Tuhan adalah made in humanbeing. Hidup seperti juga Tuhan, sebenarnya juga adalah persoalan sensory. Sebuah naluri, sebuah instink yang tidak berwujud. Sehingga hidup seperti juga Tuhan, absurd….

Booker Fosset dibukunya “Final State” mengatakan Agama adalah sebuah alat berlindung, sebuah safe heaven bagi jiwa-jiwa gelisah yang tidak mengerti Tuhan dan kehidupan. Dan karena kematian itu sendiri tidak pernah dimenegerti manusia, kehidupan sebagai antithesist dari kematian, sama-sama hilang artinya.

Hassanah Abdullah, seorang pemikir besar keturunan Mesir malah secara lantang mengatakan bahwa “ada kekeliruan pemahaman tentang hidup” dalam masyarakat beragama. Menjauhi hedonisme untuk masuk surga, kata dia justru menandakan bahwa manusia beragama adalah hedonis tulen yang selalu mencita citakan hidup senang nanti setelah kematian. Di buku pemikir edan ini “If there was proof” secara gamblang dia malah menekankan surga itu ada dibumi sekarang ini, bukan di akhirat atau dimensi lain. “Modern hedonistic” adalah surga yang terbaik, begitu menurutnya.

Kawan yang baik, apakah anda sudah mengerutkan dahi dan berpikir tentang tulisan saya ini? Apakah saya terdengar begitu ilmiah dan berwawasan luas? Apakah saya nampak intelek dan banyak membaca buku?

Baiklah, saya akan berterus terang.
Bila anda sediki terpengaruh dengan tulisan saya diatas, bila anda begitu kagum pada nama pemikir dan scientist diatas, Anda akan lebih kagum lagi setelah membaca catatan kaki saya dibawah tentang para ilmuwan brilyan tersebut.

Catatan kaki:
Tulisan saya adalah fiktif, semua pemikiran diatas saya tulis dalam 10 menit ketika menulis. Dan nama-nama diatas bukanlah nama pemikir atau ilmuwan. 5 nama pertama saya dapatkan dari daftar pasien ER Methodist Hospital di Memphis, Tennesse tanggal 22 December 1997, yang saya dapatkan ditempat kerja. Dan nama terakhir adalah bekas roomate saya orang Palembang yang kerja menjadi kuli konstruksi.

Agar lengkapnya saya perkenalkan:

  1. Tracey Chaffen.
    Waiter 26 tahun, masuk ER karena tangannya tertumpah air panas.
  2. Debra Ball.
    Student, tampon stuck in Vagina.
  3. Sylvester Middlebrook.
    Pengangguran with broken testicles.
  4. Lorry Winter.
    English teacher with Blurred Vision and discomfort mental status.
  5. Dean Winters
    Dishwasher yang perutnya tergigit laba-laba.

Dan perkenalkan Abdullah, seorang Pelembang yang lebih pelit dari kombinasi Padang dan Yahudi. Dia sekarang tinggal di Los Angeles.

Apakah gunanya saya menulis tulisan ini?
Ini adalah sebuah kritik untuk anda penggemar tulisan yg sok keilmiah ilmiahan. Dan krtitik untuk mahasiswa yang dalam setiap skripsi selalu mencantumkan penuh pemikiran-pemikiran ilmuwan besar, scientis terkenal, filsuf ternama. Begitu sampai halaman terakhir, kesimpulan pemikirannya sendiri ternyata tidak ada alias nol…

Seperti juga penulis aktif dimilis ini yang “mencoba memahami Gus Dur” sampai berjilid jilid dan seri, anda yang kritis pasti akan bertanya kalau mencoba paham kenapa sampai menulis seperti cerita bersambung seperti itu? Bukannya itu justru menunjukan kebingungan? Dan siapa sih Gus Dur itu sampai mesti dipahami seperti seorang filsuf terkenal?(*)

Kritis itu penting.

Hasan Basri

Anda Itu Sangat Simpatik

Membaca tulisan saya dengan judul “menikah dengan diri sendiri”, seorang rekan seperti memperoleh cermin pemantul. Di umurnya yang sudah berkepala lima, betapa banyak waktu yang dialokasikan untuk berkelahi dengan orang yang ditemukannya di depan cermin. Dari umar sambel (untung masih ada rambut samping belakang), anggapan bahwa rezeki tetangga selalu lebih baik, isteri tidak mendukung sampai dengan prestasi anak-anak yang tidak membanggakan. Dalam totalitas, karena hidup penuh perkelahian dengan sang diri, rekan tadi menjalani kehidupan yang penuh dengan tikungan dan tanjakan.

Kisah rekan di atas, berbeda sekali dengan penuturan Denise Austin di jurnal Personal Excellence edisi Mei 1999. Dengan judul tulisan You Are Beautiful, Austin bertutur tentang persahabatannya yang intens dengan sang diri. Salah satu kesimpulan paling menarik dari guru fitness ini berbunyi: you are the most important event in your life. Demikian bersyukurnya Austin dengan diri dan kehidupannya, sampai-sampai menyebut manusia di depan cermin sebagai karunia paling besar selama hidupnya. Alhasil, disamping secara fisik Austin memang cantik, ia menerima banyak rezeki melalui profesinya sebagai guru fitness.

Rasa syukur yang mendalam akan sang diri ini, tentu saja tidak hanya monopoli manusia cantik seperti Austin. Max Cleland – seorang senator AS dari negara bagian Georgia yang harus duduk di kursi roda selama hidupnya sepulang dari perang Vietnam – malah jauh lebih bersyukur dari Austin yang cantik. Ia memiliki prinsip amat sederhana: strong at the broken places. (Perkasa di bagian-bagian kehidupan yang sudah berantakan). Dengan kehidupan di atas kursi roda Cleland memulai kahidupannya di depan publik. Menapaki tangga politisi sampai menjadi seorang senator. Dengan bangga ia bertutur ke banyak orang: I successfully turn my scars in to stars. Dengan kata lain, ia telah mentransformasikan ketakutan menjadi keberhasilan.

Mencermati semua ini, mungkin benar pendapat Denis Waitley – penulis buku Psychology of Winning – bahwa syarat pertama dan paling utama untuk menjadi pemenang kehidupan adalah kualitas penerimaan kita terhadap sang diri. Dengan menerima diri sendiri – lengkap bersama seluruh kelebihan dan kekurangannya – kita bisa bergerak dari posisi korban menjadi pemenang kehidupan.

Bayangkan, bagaimana bisa menjadi pemenang kalau setiap hari sibuk dengan keluhan, keluhan dan keluhan. Dengan keluhan, tidak hanya energi yang terkuras habis, tetapi secara sengaja kita sedang memproduksi kehidupan yang persis sama dengan yang dikeluhkan.

Henry Ford pernah mengatakan: believe in your best, think your best, study your best, have a goal for your best, never satisfied with less than the best, try your best, and in the long run, things will work out for the best. Selemah dan sejelek apapun Anda, tetap ada segi terbaik dalam diri Anda yang bisa dimanfaatkan. Temukan dan yakini aspek terbaik tadi, berfikirlah dalam bingkai terbaik tadi, pelajari sampai sekecil-kecilnya, lakukan dan berusahalah sebaik-baiknya. Dan, dalam jangka panjang, percayalah, kehidupan Anda akan bergerak menuju ke sudut-sudut kebaikan tadi.

Bertolak dari ini semua, mungkin ada baiknya dari sekarang untuk mencari apa segi terbaik dari diri kita. Coba ingat lagi, apa-apa saja yang sering Anda lakukan secara berulang-ulang di awal-awal kehidupan. Apa saja yang mudah menimbulkan kebanggaan. Bagian mana dari diri Anda yang acap dipuji orang banyak. Bisa dalam bentuk rambut, senyum, tubuh yang langsing, mudah membuat orang tertawa, atau malah sering didaulat ke depan disuruh nyanyi.

Berbekal hal terbaik tadi, ucapkan dengan penuh keyakinan ke orang di depan cermin: “Anda sebenarnya sangat simpatik“. Kalau kebetulan rambut Anda indah, katakan bahwa rambut Andalah yang tercantik di dunia. Bila mana perlu, tulislah kalimat tadi di atas cermin. Semakin sering kalimat ini diucapkan semakin baik. Sebab, ibarat echo atau pantulan, ucapan dan keyakinan terakhir tadi tidak saja memantul balik, tetapi juga memproduksi tubuh dan kehidupan.

Mengingat tindakan adalah jembatan paling kokoh antara keinginan dan kenyataan, terjemahkanlah semua hal terbaik di atas ke dalam sebanyak mungkin tindakan nyata. Dari mempelajari seluruh aspeknya, jaringannya dan jangan lupa mulai melangkahkan kaki.

Lakukanlah semua hal tadi dengan sebanyak mungkin pengulangan. Saya memang sempat disebut bodoh dengan mengemukakan konsep “pengulangan adalah ibunya kesempurnaan“. Seorang rekan pernah berucap, ada perbedaan antara orang tekun dengan orang bodoh. Orang bodoh – kata rekan tadi – melakukan sesuatu secara berulang-ulang karena telat mikir, dan terus mengulanginya kendati hidupnya mau bangkrut dan mau celaka.

Boleh saja orang berargumen demikian, namun saya masih meyakini, kesempurnaan akan menjadi milik siapa saja yang rajin melakukan pengulangan dan percobaan. Saya sudah teramat sering bertemu orang pintar, dan karena kepintarannya kemudian tidak sabar mengulang. Hasilnya, sering saya temukan, jauh lebih buruk dari orang bodoh namun disertai kesabaran mengagumkan untuk melakukan pengulangan.

Kembali ke cerita awal tentang kualitas penerimaan dengan sang diri, inipun memerlukan kuantitas dan kualitas pengulangan yang mengagumkan. Mudah-mudahan Anda menjadi pemenang.

16 Juli 2000

Mengelola dan Mendapatkan Ide

Ada sebuah kecenderungan yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. Setiap organisasi, di awal abad 21 ini, semakin bersifat ideas intensive. Dulu, cukup pimpinan saja yang banyak ide, dan bawahan hanya melaksanakan. Sekarang, di setiap sudut organisasi orang dituntut untuk banyak ide. Di masa lalu, hanya organisasi dan perusahaan tertentu saja – seperti perusahaan iklan dan konsultan – yang dituntut kreatif. Di zaman yang sering disebut edan ini, semua perusahaan hanya punya dua pilihan: kreatif atau bunuh diri.

Kalau mau jujur, runtuhnya bangunan organisasi sejumlah perusahaan, sebagian besar disebabkan karena mereka kehabisan ide.

Bertolak dari keyakinan terakhir, sudah saatnya kita memikirakan ideas intensive human resources management. Sebuah mekanisme pengelolaan manusia yang memungkinkan ide itu muncul dan terkelola secara memadai.

Ketika pertama kali ditunjuk sebagai konsultan manajemen SDM BPPN (badan penyehatan perbankan nasional), hal pertama yang muncul di kepala saya adalah bagaimana membuat organisasi ini ideas intensive. Terutama karena tuntutan yang teramat tinggi dari pemilik dan lingkungan lainnya.

Titik berangkatnya adalah pengertian tentang ide itu sendiri. Mengacu pada konsep tidak ada hal baru di bawah langit ini, bagi saya ide adalah kombinasi baru dari komponen-komponen lama. Dengan demikian, problemanya adalah bagaimana membuat orang secara bersama-sama bisa mengkombinasikan komponen-komponen lama.

Mari kita mulai dengan pintu depan organisasi: pengadaan manusia. Anda boleh punya pendekatan lain, tetapi saya memberikan perhatian yang tinggi pada open mindedness. Ini penting, sebab proses kombinasi ide di dalam organisasi lebih mudah terjadi di tengah manusia yang kepalanya terbuka. Manusia yang merasa diri teramat pintar, benar sendiri, apa lagi sampai pada tingkat fanatik, adalah spesies yang amat sering saya hindari. Karena alasan kerahasiaan perusahaan konsultan, saya tidak bisa membeberkan semua alat dan caranya di sini. Yang jelas, melalui serangkaian pengkajian yang mendalam, bisa diketahui mana orang dengan kepala tertutup, dan mana yang relatif terbuka. Sebagai contoh, di tahap wawancara saya sering memancing pelamar dengan pertanyaan-pertanyaan pancingan. Misalnya, kalau ia seorang muslim, saya akan tanya apa pendapatnya, jika di suatu restoran melihat rekan satu meja makan ternyata memakan daging babi.

Setelah pintu depan yakin hanya meloloskan mereka dengan open mindedness yang tinggi, baru kita mulai menciptakan lingkungan organisasi yang mendukung. Fundamental dalam proses penciptaan lingkungan terakhir, adalah usaha terus menerus untuk menciptakan fun. Ini penting, sebab ide dan kreativitas lebih mudah muncul dalam lingkungan yang penuh dengan kegembiraan. Rapat di taman depan kantor, menempel hasil karya anak di ruang rapat, memamerkan foto karyawan ketika bayi dan telanjang, di hari tertentu memakai baju-baju unik dan menarik, pertemuan boleh sambil menggendong anak dan cucu, rapat di kapal pesiar atau di tengah bus, sampai dengan kuis suami isteri.

Syarat utama dari terciptanya semua lingkungan gembira ini, adalah kesabaran dan kedewasaan pimpinan beserta anggota organisasi lainnya. Tidak jarang terjadi, kegembiraan model terakhir bisa menimbulkan kekacauan-kekacauan. Namun, bukan kekacauan itu intinya, melainkan bagaimana membuat suasana gembira sebagai fundamen terciptanya ide. Apapun yang terjadi, satu hal mesti dijaga terus: fun. Bila perlu, di hari-hari tertentu dibuat child day. Sebuah hari di mana semua jajaran organisasi harus berfikir dan berperilaku sebagaimana anak-anak.

Dalam kesempatan lain, seminggu sekali dibuat listening day. Secara bergiliran, di kesempatan ini bagian tertentu hanya boleh mendengar. Sedangkan bagian lain berbicara sambil tertawa. Misalnya, minggu ini bagian pemasaran yang harus mendengar. Maka bagian produksi, SDM, keuangan dan akuntansi boleh berbicara tentang pemasaran, bila perlu sambil meledek segala.

Setelah lingkungan dan pintu depan, sekarang apa yang harus dilakukan dengan pengembangan manusia dan penggajiannya. Berbeda dengan pola pengembangan umumnya yang terlalu berorientasi pada formal training, dalam organisasi yang berbasiskan ide, kita memerlukan jauh lebih sedikit pelatihan formal. Dalam lingkungan yang penuh dengan kegembiraan, semua upaya pengembangan dilakukan secara belajar sambil bekerja, baik melalui mekanisme councelling, coaching maupun mentoring. Ide dasarnya, semua orang adalah guru dan murid. Pagi hari jadi murid, siang menjadi guru. Kadang, paginya menjadi gurunya si A, sorenya menjadi murid si A.

Terkadang saya dianggap pemimpi yang ekstrim. Dan kerap saya bermimpi kalau ada organisasi yang mengkaitkan gaji dengan jumlah ide yang dikontribusikan. Semakin banyak ide yang diberikan, maka semakin tinggi gajinya. Terlalu sederhana dan utopis memang, tetapi saya yakin suatu saat kelak akan ada yang menerapkannya.

Kembali ke ide semula tentang ideas intensive organization, bentuk organisasi semacam ini memang tidak seperti bangunan. Sekali dibangun, kemudian hanya tinggal memeliharanya. Ia mesti terus diciptakan, diciptakan dan diciptakan.

Syaratnya, ya itu tadi, dibentuk oleh kumpulan manusia open minded, dilingkupi oleh suasana gembira dan terus berbenah sambil tinggal di dalam rumah.

Manufactured Uncertainly

Ketika umat manusia memasuki milimium baru, tidak sedikit mata dan perhatian yang menatap cemas dengan ancaman Y2K. Dari negara maju sampai negara paling tidak berkembangpun, perhatian terhadap persoalan ini tidak kecil. Banyak sekali orang yang mengambil antisipasi berlebihan. Ada yang membeli diesel – karena tidak yakin listrik akan terus menyala, ada yang melakukan print out terhadap saldo di bank, ada yang amat takut terbang di pergantian milinium, ada yang mengharamkan penggunaan kartu kredit , ada saran untuk tidak menggunakan lift, ada yang mengungsi dari jalur penerbangan, sampai dengan menimbun bahan bakar dan bahan makanan secukupnya. Namun, begitu milinium berganti tanpa gangguan terlalu berarti, banyak orang yang merasa tertipu.

Ini sebenarnya hanya salah satu contoh dari apa yang pernah disebut Anthony Giddens dengan manufactured uncertainty. Semacam ketidakpastian yang hadir sebagai akibat dari teknologi buatan manusia sendiri. Kalau boleh jujur, deretan ketidakpastian ini masih bisa ditambah secara amat panjang. Gejala pemanasan bumi, rusaknya lapisan ozon, polusi, hama dan virus yang muncul dari perkembangan teknologi pertanian dan kedokteran, ancaman musnahnya bumi oleh nuklir, dan sederetan bukti lainnya.

Krisis ekonomi Asia yang berawal di tahun 1997, sebenarnya bisa juga dimasukkan dalam hal ini. Dengan semakin majunya e-economy, negara manapun dengan cadangan devisa berapapun tidak berdaya dengan ancaman para spekulan. Hanya dengan beberapa hentakan transaksi di atas key board komputer, cadangan devisa negara manapun bisa tumbang.

Saya telah lama pernah menulis, kehadiran teknologi tidak saja bersifat enabling, namun juga constraining. Secara lebih khusus yang berkaitan dengan teknologi informasi, kita terlalu terpaku pada fungsi automating dan informating. Padahal, dalam dirinya juga terbawa fungsi reformatting. Atau, teknologi informasi bisa memformat ulang cara kita hidup dan bekerja. Tanpa persiapan memadai, kita akan “dibuat” oleh teknologi ciptaan kita sendiri. Teknolog memang tidak pernah mempersiapkan kita secara memadai, bagaimana menghindarkan diri agar tidak diformat ulang oleh teknologi. Yang jelas, setuju tidak setuju, suka tidak suka, teknologi telah dan sedang mengarahkan kita menuju manufactured uncertainty.

Makanya, dalam Beyond Left And Right Anthony Giddens pernah menulis : “the world we live in today is not one subject to tight human mastery“. Dalam karyanya yang lain (The Consequences of Modernity), Giddens bahkan mengibaratkan dunia tempat kita hidup ini seperti truk besar sarat muatan yang meluncur tanpa rem. Para penganut teori masyarakat industrial – di mana banyak pakar manajemen meminjam pijakan – memang sedang dibuat runtuh oleh Anthony Giddens. Oleh karena itulah, bisa dimaklumi kalau manajemen sudah mulai kehilangan kepercayaan dirinya dalam menjelaskan perkembangan mutahir.

Kalau ketidakpastian yang hadir dari alam, atau ketidakpastian akibat kesalahan dan kekhilafan manusia, sudah lama kita mempesiapkan diri. Namun, kalau alat dan teknologi yang kita rangkul dan manfaatkan setiap hari, ternyata sedang “membuat” kita tanpa kita sadari, bukankah kita yang menjadi “alat” dan teknologi menjadi pengendalinya? Tidakkah ini berarti, manajemen sedang dimanajemeni oleh teknologi? Adakah gunanya kalau kita belajar manajemen yang telah dimanajemeni?

Mau bukti? Ada orang yang belum bisa tidur nyenyak kalau belum berselancar di internet di hari itu. Ada orang yang merasa seperti masuk hutan lebat yang tidak terjangkau bila tidak membawa telepon genggam. Ada orang yang menggadaikan kepalanya pada komputer, terutama dengan menyebut tidak ada masa depan di luar internet nantinya. Ada banyak konsep manajemen yang tergagap-gagap menghadapi perkembangan teknologi. Dan masih banyak lagi yang lain.

Digabung menjadi satu, tanpa persiapan memadai, kepala manusia memang bisa “dibuat balik” oleh teknologi. Menghindar dan menakuti teknologi, tentu saja bukan sikap yang tepat dalam hal ini. Namun, membiarkan kepala digadai teknologi, lebih tidak tepat lagi.

Di titik inilah, kita memerlukan gerakan undigital mind. Sebentuk mind yang senantiasa berada di atas teknologi. Kekaguman – apa lagi pemujaan – yang berlebihan terhadap teknologi, atau penempatan teknologi di atas daya imajinasi dan inovasi manusia, adalah serangkaian hal yang perlu diwaspadai.

Di dunia ideas management, akan amat produktif kalau kita belajar berfikir tanpa teknologi, mencari ide yang menghujat teknologi, menemukan bentuk kemajuan tanpa kendaraan teknologi, atau masuk dalam belantara kehidupan tanpa kehadiran teknologi. Biarkan kepala bekerja optimal dengan bantuan teknologi secara amat minimal. Dan begitu memasuki dunia praktek yang nyata, tempat teknologi tidak lagi berdiri pongah sebagai tukang dikte. Melainkan, sebagai sahabat sejajar, yang bersifat bisa sebagai pembantu, bisa juga sebagai orang asing yang tidak perlu dihiraukan.

Tulisan ini dibuat atas bantuan teknologi, saya berpresentasi menggunakan teknologi, bekerja juga dibantu teknologi, namun saya menolak menempatkan teknologi di atas daya imajinasi dan inovasi. Boleh saja ada futurolog yang menganggap tidak ada masa depan tanpa teknologi, tetapi membiarkan diri diproduksi oleh teknologi, sama saja dengan bunuh diri tanpa kita sadari. Kalau ada orang yang amat concern dengan kegiatan digitalizing our mind, saya malah mengundang untuk undigitalizing our mind. Saya menolak untuk menjadi babunya teknologi. Sebab, hanya memperberat truk kehidupan yang sudah terlalu sarat beban, dan terlanjur tidak memiliki rem.

Berhentilah Menyalahkan Orang Lain

Oleh ribuan anak muda yang baru memasuki gerbang kerja, juga manajer muda yang frustrasi di dunia kerja, kerap saya ditanya: aspek apa dari dunia kerja yang paling sulit dihadapi? Terus terang, bekerja apapun dan dimanapun, serta bermodalkan pendidikan manapun sebenarnya mudah, asal tekun belajar dan bertanya. Yang sering bikin semuanya jadi rumit, adalah interaksi antarmanusia. Jangankan manusia yang baru memasuki gerbang kerja, mereka yang sudah berumur senja di tempat kerja sekalipun sering dibuat pusing oleh interaksi terakhir.

Meminjam pengandaian seorang penulis, ada perbedaan antara menendang bola dan menendang kucing. Sebelum menendang bola, kita bisa ramalkan kemana bola akan bergerak setelah ditendang. Akan tetapi, sebelum menendang kucing, kita tidak tahu apakah kucingnya akan menangis, lari, melompat, mati atau alternatif lainnya. Nah, meramalkan respons orang lain sebelum kita bertindak, jauh lebih rumit dibandingkan dengan meramalkan respons kucing. Sebab, kucing tidak mengenal politik, pura-pura, balas dendam dan serangkaian hal rumit lainnya. Namun, ini juga yang menyebabkan disiplin mengelola manusia menjadi penuh sentuhan seni dan kepekaan. Sebagian kecil memang bisa diungkapkan melaui kata-kata. Cuman, sebagian besar ia bersifat tidak terungkapkan dan hanya bisa dirasakan.

Saya tidak antisekolah atau antipelatihan, namun hal-hal yang bersifat tidak terungkapkan terakhir, lebih banyak bisa dimengerti kalau kita mengalaminya sendiri di lapangan. Diisukan negatif oleh orang lain, tidak cocok, mau didongkel dari kursi, dipermalukan di depan umum, diomongkan negatif di belakang kita, hanyalah serangkaian hal yang mesti di alami sendiri di lapangan. Untuk kemudian, mendapatkan pengertian yang dalam tentang dinamika interaksi antarmanusia di dunia kerja. Saya meragukan, kalau ada orang yang memperoleh pengertian terakhir, tanpa pernah dihempas gelombang-gelombang godaan tadi.

Setelah belajar dari tumpukan ribuan kebodohan dan kegagalan masa lalu, saya menemukan sebuah kearifan berguna. Dalam setiap persoalan manusia, saya belajar untuk mengurangi mencari siapa yang salah. Dan memusatkan perhatian untuk memecahkan persoalan.

Amat mirip dengan cara terakhir, Ken Cloke dan Joan Goldsmith dalam Resolving Conflict At Work, pernah menulis: ‘Define the problem as a person and you are in trouble. Define the problem as difficult behavior, you can do something about it’. Dengan kata lain, jika Anda menempatkan masalahnya pada orang, dan kemudian mengambil tindakan (apa lagi ilegal) maka masalah akan diganti dengan masalah yang lebih besar. Namun, bila pemecahan dikonsentrasikan pada perilaku yang sulit, kemudian kita bisa mencarikan jalan keluar yang lebih produktif.

Nah, bila saja banyak orang mau belajar berhenti untuk menyalahkan orang lain, dan memusatkan perhatian pada pemecahan persoalan, dunia kerja bukanlah sesuatu yang menakutkan. Ia adalah tempat ‘meditasi’ yang kerap menghadirkan kedamaian. Persoalannya, untuk bisa berhenti dari kebiasaan buruk tadi, disamping kadang kurang didukung lingkungan, juga sering dihadapkan oleh dorongan-dorongan dari dalam diri yang juga tidak mudah. Emosi, ego, harga diri, gengsi, ketidaksabaran hanyalah sebagian kecil dari dorongan-dorongan tadi. Siapapun orangnya – dari penjahat sampai dengan pendeta – memiliki dorongan terakhir dengan kadar yang berbeda-beda. Namun, siapapun juga orangnya, ia membutuhkan deep meditation untuk mengelola dorongan-dorongan tadi.

Apa yang saya sebut dengan deep meditation sebenarnya amatlah mudah. Ketika lapar, makanlah secukupnya. Tatkala haus, minumlah semampunya. Manakala mata mengantuk, tidurlah secukupnya. Dengan kata lain, hidup kita dengan seluruh kesehariannya sebenarnya sebuah meditasi panjang. Bila kita melakukan meditasi panjang ini dengan penuh ketekunan, kita yang menjadi pengelola tubuh dan jiwa ini. Bukan sebaliknya, kita dikelola oleh tubuh ini.

Lebih-lebih bagi mereka yang kebanyakan pekerjaannya adalah merubah orang lain. Atau memiliki tugas mulia memasyarakatkan nilai-nilai luhur. Sulit membayangkan, tugas-tugas terakhir bisa diselesaikan secara berhasil tanpa melalui deep mediation. Ini juga sebabnya, kenapa bertemu orang-orang tertentu kita mudah segan, hormat, respek, dan perasaan sejenis.

Di suatu waktu, seorang rekan yang sudah puluhan tahun berpengalaman mengelola ribuan manusia bertutur penuh keprihatinan. Mengurus manusia-manusia sulit – demikian menurut rekan tadi – adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai. Tahun ini ada sekian manusia sulit diselesaikan secara baik-baik, tahun berikutnya pasti – sekali lagi pasti – ada manusia lain yang menjelma menjadi manusia sulit. Mirip dengan pekerjaan rumah (PR) di sekolah, ia akan selalu datang secara bergantian dan bergiliran.

Benang merah yang bisa ditarik dari kisah ini, memecahkan masalah manusia dengan memindahkan, memecat dan sejenis memang boleh-boleh saja dilakukan kadang-kadang. Akan tetapi, organisasi manapun yang dipimpin oleh manusia dengan hobi menyalahkan orang lain, disamping tidak bisa memecahkan persoalan jangka panjang, juga gagal membangun hubungan industrial yang kuat.

Nah, satu spirit dengan pendekatan deep meditation, pekerjaan interaksi antarmanusia akan menjadi lebih mudah, bila kita mulai berhenti menyalahkan orang lain.

Salon Yang Mempecantik Jiwa

Menyusul derasnya jumlah bencana yang menghadang di depan mata, dari tsunami, gunung meletus, bom teroris, lumpur panas, banjir, tanah longsor lengkap dengan jumlah korbannya yang tidak terhitung, tidak sedikit manusia yang bertanya: apakah Tuhan sedang marah? Sebuah pertanyaan sederhana, sekaligus menjadi warna dominan banyak wacana. Dan sebagaimana biasa, jawaban pun terbelah dua: ada yang menjawab positif, ada yang menjawab negatif.

Di Timur telah lama terdengar pendapat, kalau Tuhan penari maka alam adalah tarianNya. Bila demikian, adakah alam yang murka di mata pikiran manusia mencerminkan kemarahan Tuhan?. Entahlah, yang jelas pertanyaan terakhir mengingatkan pada cerita seorang sahabat pastur tentang seorang Ibu yang permennya dicuri puteranya Rio. Melihat puteranya mencuri, Ibu ini bertanya: ‘Rio, tidakkah kamu melihat Tuhan ketika mencuri permen mama?’. Dengan polos Rio menjawab: ‘lihat ma!’. Mendengar jawaban seperti ini, mamanya tambah marah, dan diikuti pertanyaan yang lebih emosi: ‘Tuhan bilang apa sama kamu Rio?’. Dasar seorang anak polos, Rio menjawab jujur: ‘boleh ambil dua!’.

Tentu saja ini cerita yang terbuka dari penafsiran. Dari salah satu sudut pandang terlihat, wajah Tuhan di kepala kita teramat tergantung pada kebersihan batin kita masing-masing. Dalam batin bersih seorang anak polos dan jujur seperti Rio, Tuhan berwajah pemaaf dan pemurah. Dalam batin yang mudah emosi dan curiga seperti mama Rio, wajah Tuhan menjadi pemarah dan penghukum. Hal serupa juga terjadi dalam cara Indonesia memandang bencana.

Tanpa menggunakan kerangka baik-buruk, benar-salah, suci-kotor, tinggi-rendah, banyak guru mengajarkan kalau manusia berada pada tingkat pertumbuhan masing-masing. Dimanapun tingkatannya, semua punya tugas yang sama: bertumbuh!. Tidak disarankan yang sudah sampai tingkatan SMU misalnya kemudian menghina yang baru sampai SD. Tidak juga disarankan kalau yang baru sampai SMP kemudian minder berlebihan pada mereka yang sudah sampai perguruan tinggi. Semuanya bertumbuh. Tidak ada jaminan yang sekarang SMA pasti lebih cepat sampai dibandingkan dengan yang sekarang baru SD misalnya.

Dengan spirit seperti ini, izinkanlah tulisan ini membagi pertumbuhan ke dalam empat pertumbuhan jiwa. Pertama mereka yang menjadi pedagang kehidupan dan pedagang doa. Jangankan dengan Tuhan, dengan siapa saja ia berdagang. Kalau permohonan tercapai maka Tuhan berwajah baik, kalau tidak dipenuhi apa lagi dihadang bencana maka Tuhan disebut marah. Dan dalam pandangan kelompok ini, bencana tidak lain hanyalah Tuhan yang murka pada ulah manusia. Tidak salah tentunya, karena ini bagian dari proses pertumbuhan.

Kelompok kedua adalah pencinta tingkat remaja. Ciri kelompok ini adalah rasa memiliki yang tinggi. Tidak boleh ada orang lain, hanya dia yang boleh dekat dan dicintai Tuhan. Cinta bagi kelompok ini, tidak ada pilihan lain kecuali menyayangi, memaafkan, membebaskan. Tidak dibolehkan. ada ekspresi dari cinta Tuhan selain menyayangi, memaafkan dan membebaskan. Begitu ada wajah cinta yang lain (lebih-lebih berwajah bencana), maka mudah ditebak kemana kehidupan bergerak: benci tapi rindu!. Ini asal muasal pertanyaan sejumlah sahabat yang luka ketika bencana, kemudian bertanya: Tuhan, masihkah Engkau menyayangiku?

Kelompok ketiga adalah pencinta tingkat dewasa. Cinta tidak lagi diikuti kebencian. Cinta adalah cinta. Ia tidak berlawankan kebencian. Lebih dari itu, berbeda dengan kelompok kedua yang menempatkan dicintai lebih indah dibandingkan dengan mencintai, pada tingkat ini terbalik: mencintai lebih indah dibandingkan dicintai. Sehingga bencana, bagi jiwa yang sudah sampai di sini, tidak ditempatkan sebagai hukuman, melainkan masukan tentang segi-segi di dalam diri yang perlu diperbaiki. Dengan kata lain, bencana adalah vitamin bagi bertumbuhnhya jiwa.

Kelompok keempat adalah jiwa yang tidak lagi mencari apa-apa. Bukan karena marah apalagi frustrasi. Sekali lagi bukan. Namun karena melalui rasa berkecukupan, ikhlas dan syukur yang mendalam kemudian dibimbing, kalau semuanya sudah sempurna. Sehat sempurna, sakit juga sempurna. Bukankah sakit yang mengajari menghargai kesehatan secara baik? Sukses sempurna, gagal juga sempurna. Bukankah kegagalan membimbing kita pada puncak kehidupan yang bernama tahu diri? Kehidupan sempurna, kematian juga sempurna. Bukankah kematian adalah mitra makna kehidupan yang membukakan pengertian kehidupan yang jauh lebih dalam? Kaya sempurna, miskin juga sempurna. Bukankah kemiskinan adalah pendidikan untuk tidak sombong dan senantiasa rendah hati? Sehingga dalam jiwa-jiwa yang sudah sampai di sini, tidak ada kamus bencana. Apapun yang terjadi diberi judul sama: sempurna!. 0rang Buddha menyebut ini Nirvana. Sebagian sahabat Islam dan Nasrani menyebutnya surga sebelum kematian. Sebagian orang Hindu menyebutnya maha samadhi. Dalam bahasa Confucius: ‘Bila bertemu orang baik tauladanilah. Jika bertemu orang jahat periksalah pikiran Anda sendiri’.

Kembali ke cerita awal tentang bencana dan Tuhan yang sedang marah, pilihan sikap yang diambil memang cermin pertumbuhan jiwa masing-masing. Seperti disebut sebelumnya, semuanya sedang bertumbuh. Penghakiman terhadap orang lain hanya menghambat pertumbuhan kita sendiri. Menyebut diri lebih baik, menempatkan orang kurang baik, hanya kesibukan ego yang meracuni pertumbuhan jiwa kemudian.

Dan bagi siapa saja yang sudah tumbuh menjadi pencinta tingkat dewasa, lebih-lebih sudah menjadi jiwa yang tidak lagi mencari, Indonesia tidak lagi berwajah negara bencana. Indonesia adalah salon yang mempercantik jiwa. Tanpa cobaan, bukankah kehidupan hanya berputar-putar di luar dan mudah terasa hambar? Bukankah dalam cobaan, dalam godaan, dalam guncangan, semua jiwa sedang digerakkan masuk ke dalam? Bukankah hanya di dalam sini jiwa bisa dibuat indah dan cantik? Seperti seorang wanita yang segar bugar keluar dari ruang olah raga, bukankah kesediaan untuk lelah sebentar (baca: digoda bencana sebentar) yang membuatnya jadi bugar? Maafkanlah tulisan ini ditutup dengan pertanyaan.

Simfoni dalam Diri

Ada sebuah institusi sosial yang menyelamatkan peradaban dalam waktu lama, sedang mengalami keruntuhan. Institusi itu bernama keluarga. Disebut menyelamatkan peradaban, karena di keluarga kita lahir, bertumbuh, menjadi tua dan akhirnya mati. Lebih dari itu, di keluarga juga sebagian besar kekurangan-kekurangan disempurnakan.

Bersamaan dengan runtuhnya bangunan keluarga (melalui perceraian, menurunnya respek masyarakat, sampai dengan semakin minimnya tokoh yang menjadi contoh dalam hal ini), di mana-mana kehidupan ditandai oleh lingkungan yang semakin panas.

Di kantor panas oleh perebutan kekuasaan, di jalan panas oleh kemacetan, bahkan sebagian tempat ibadah pun sudah mulai kehilangan kesejukan. Sejumlah media cetak, radio, televisi hanya memberitakan sesuatu yang panas. Yang sejuk-sejuk tidak termasuk dalam klasifikasi berita. Sehingga tidak kebayang panasnya wajah peradaban. Di satu sisi cuaca di luar memanas, di lain sisi keluarga mulai kehilangan atap yang menyejukkan.

Lahan pertumbuhan, lahan penerimaan

Ketika sayur-sayuran ditanam kemudian gagal bertumbuh segar, manusia otomatis mencari sebabnya pada kekeliruan-kekeliruan kita sendiri. Namun begitu berhadapan dengan orang lain, terlalu sering dalam kehidupan, manusia mencari kesalahannya pada orang lain. Bukan mencari kekeliruan-kekeliruan yang kita lakukan, sebagaimana ketika berhadapan dengan tetumbuhan.

Diterangi cahaya pemahaman seperti ini, tidak elok bila menimpakan seluruh kekeliruan pada Descartes yang mengkultuskan ‘aku’ mulai ratusan tahun lalu, pada kapitalisme yang membuat semuanya jadi materialistik. Serupa dengan logika sayuran tadi, mari kita cari sebab-sebab dalam diri yang membuat semua ini terjadi.

Bila diandaikan dengan daun kelapa yang bergoyang, goncangan kehidupan manusia sekarang memang jauh lebih keras. Bahayanya, sudah tambah berguncang kemudian berpegangan pada sesuatu yang bergoyang kencang.

Di dalam diri, manusia labil oleh ketersinggungan, kemarahan, kecemburuan. Dan pada saat yang sama nyaris semua hal-hal luar (termasuk rumah dan keluarga) mengalami guncangan-guncangan. 0leh karena itulah, membangun rumah dan keluarga yang sejuk menjadi sebuah isu penting di zaman ini.

Sebagaimana rumah sesungguhnya, kekokohannya tergantung pada seberapa kuat fondasinya. Dan bila boleh jujur, kenapa fondasi banyak rumah keluarga demikian keropos, karena dimulai dengan keserakahan hanya mau kelebihan, menolak kekurangan. Belajar dari sinilah, maka penting menata ulang rumah keluarga dengan belajar saling menerima kekurangan.

Rumah mana pun akan indah menawan, bila setiap kali pulang ke rumah kita saling menyirami. Seperti pohon yang kekeringan di musim kemarau (konflik di kantor, macet di jalan), demikianlah keadaan emosi tatkala pulang ke rumah. Betapa indahnya kemudian bila kita saling menyirami di rumah (baca: menerima kekurangan). Inilah bibit-bibit cinta yang menawan. Cinta yang mekar dari kesadaran bahwa semua punya kekurangan, semua membutuhkan siraman-siraman.

Mengalir bersama simfoni

Sulit membayangkan mekarnya bunga-bunga cinta, kalau hubungan dimulai dengan harapan orang harus sempurna. Sebagaimana alam yang memeluk dualitas sama mesranya (musim hujan rumput menghijau, musim kemarau bunga-bunga bermekaran), cinta baru mulai tumbuh dalam totalitas. Dalam kelebihan ada kekurangan, dalam kekurangan ada kelebihan (love as a totality).

Kebanyakan kecelakaan kehidupan (perceraian, peperangan, perkelahian, kerusuhan) berasal dari mau kelebihan tidak mau kekurangan. Bila ada seribu laki-laki berkumpul, kemudian ditanya siapa yang mau menerima kecantikan dan kebaikan isteri, kemungkinan besar semua orang akan angkat tangan. Namun bila ditanya, siapa yang mau menerima (maaf) kecerewetan dan kekerasan isteri, jika ada yang menaikkan tangan maka dengan mudah dituduh kurang waras. Atau sekurang-kurangnya dicurigai menjadi ketua dewan pembina ISTI (ikatan suami terinjak-injak isteri).

Di tengah hamparan bahan-bahan kosmik seperti ini, suatu sore seorang puteri bertanya ke papanya tentang rumah (home), terutama setelah lama ia lelah mencari. Dengan tersenyum papanya berbisik: “Home is not a place. It is a journey. Those who totally flow with the journey, they’re at home already“. Rumah indah kehidupan bukanlah tempat, ia adalah perjalanan itu sendiri. Siapa yang mengalir penuh harmoni dengan keseharian, ia sudah sampai di rumah.

Seperti belum jelas dengan jawaban tadi, puteri ini bertanya lagi, apa cahaya penerangnya agar rumah ditemukan?. Dengan lembut papanya berbisik: “The light is not outside. It is within your love. Those who are full of love see light everywhere“. Cahaya penerangnya tidak di luar. Ia tersembunyi dalam keseharian yang penuh cinta. Siapa saja yang melangkah dengan penuh cinta, perjalanannya terang benderang.

Lebih dari sekadar terang, sebagaimana pengalaman para master, kehidupan menjadi seperti simfoni indah yang dibentuk berbagai alat musik. Benar-salah, sukses-gagal semuanya mengukir keindahan.

Ada yang bertanya, bila ada simponi di dalam diri, lantas siapa dirigennya?. Bertanya tentu tidak dilarang. Namun yang perlu diwaspadai, siapa yang menunggangi pertanyaan. Kerap ada keraguan, kadang ada ketakutan, ada waktunya pertanyaan didorong keingintahuan, sering pertanyaan ditunggangi kecurigaan. Keraguan, ketakutan, apa lagi kecurigaan hanyalah tanda kalau seseorang masih jauh dari rumah. Keingintahuan adalah pikiran yang lapar. Dalam banyak kehidupan, pikiran lapar adalah awal keguncangan-keguncangan.

Sehingga bisa dimaklumi, bila para guru yang sudah lama tinggal di rumah, menyatu dengan rumah, hanya mengenal dua bahasa: silent and smile. Senyuman pertanda persahabatan dengan kehidupan. Keheningan tanda tidak ada lagi yang diragukan.

Mungkin itu sebabnya Zenkei Shibayama memberi judul karyanya A Flower does not talk. Bunga mekar dalam keheningan, layu dalam keheningan. Bisa jadi ini juga alasan tatkala murid-muridnya berselisih paham, Buddha Gautama memilih berdiam diri di hutan besahabatkan gajah dan pepohonan. Perhatikan apa yang ditulis Rumi dalam Masnavi: The wages of religion are love, inner rapture. Upah buat mereka yang tekun berjalan ke dalam adalah cinta, rasa terpesona dari dalam yang tidak terucapkan. Inilah simfoni di dalam diri. Simfoni yang membuat batin beristirahat sempurna dalam hening. Apa yang ditakuti manusia sebagai kematian, ia sesederhana daun jatuh dari rantingya.