Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 April 2010

Dermawan Rahasia

Sebagai seorang supir selama beberapa tahun di sekitar awal tahun 1910-an, ayahku menyaksikan majikannya yang kaya raya secara diam-diam memberikan uang kepada banyak orang, dan sadar bahwa mereka tidak akan pernah mampu mengembalikan uang itu.

Ada satu cerita yang menonjol dalam kenanganku di antara banyak cerita yang disampaikan ayahku kepadaku. Pada suatu hari, ayahku mengantar majikannya ke sebuah kota lain untuk menghadiri sebuah pertemuan bisnis. Sebelum masuk ke kota itu, mereka berhenti untuk makan sandwich sebagai ganti santap siang.



Ketika mereka sedang makan, beberapa orang anak lewat, masing-masing menggelindingkan sebuah roda yang terbuat dari kaleng. Salah seorang di antara anak-anak itu pincang. Setelah memperhatikan lebih dekat, majikan ayahku tahu bahwa anak itu menderita club foot. Ia keluar dari mobil dan menghentikan anak itu.

"Apakah kakimu membuatmu susah?" tanya orang itu kepada si anak.

"Ya, lariku memang terhambat karenanya," sahut anak itu.

"Dan aku harus memotong sepatuku supaya agak enak dipakai. Tapi aku sudah ketinggalan. Buat apa tanya-tanya? "

"Mm, aku mungkin ingin membantu membetulkan kakimu. Apakah kamu mau?"

"Tentu saja," jawab anak itu. Anak itu senang tetapi agak bingung menjawab pertanyaan itu.

Pengusaha sukses itu mencatat nama si anak lalu kembali ke mobil. Sementara itu, anak itu kembali menggelindingkan rodanya menyusul teman-temannya.

Setelah majikan ayahku kembali ke mobil, ia berkata, "Woody, anak yang pincang itu... namanya Jimmy. Umurnya delapan tahun. Cari tahu di mana ia tinggal lalu catat nama dan alamat orang tuanya. " Ia menyerahkan kepada ayahku secarik kertas bertuliskan nama anak tadi.

"Datangi orang tua anak itu siang ini juga dan lakukan yang terbaik untuk mendapatkan izin dari orang tuanya agar aku dapat mengusahakan operasinya. Urusan administrasinya biar besok saja. Katakan, aku yang menanggung seluruh biayanya."

Mereka meneruskan makan sandwich, kemudian ayahku mengantar majikannya ke pertemuan bisnis.

Tidak sulit menemukan alamat rumah Jimmy dari sebuah toko obat di dekat situ. Kebanyakan orang kenal dengan anak pincang itu.

Rumah kecil tempat Jimmy dan keluarganya tinggal sudah harus di cat ulang dan diperbaiki di sana sini. Ketika memandang ke sekeliling, ayahku melihat baju compang-camping dan bertambal-tambal dijemur di seutas tali di samping rumah. Sebuah ban bekas digantungkan pada seutas tambang pula pada sebuah pohon oak, tampaknya untuk ayunan.

Seorang wanita usia tiga puluh limaan menjawab ketukan pintu dan membuka pintu yang engselnya sudah berkarat. Ia tampak kelelahan, dan tampangnya menunjukkan bahwa hidupnya terlalu keras.

"Selamat siang," ucap ayahku memberi salam. "Apakah Anda ibu Jimmy?"

Wanita itu agak mengerutkan dahinya sebelum menyahut.

"Ya. Apakah ia bermasalah?" Matanya menyapu ke arah seragam ayahku yang bagus dan disetrika rapi.

"Tidak, Bu. Saya mewakili seorang yang sangat kaya raya yang ingin mengusahakan kaki anak Anda dioperasi agar dapat bermain seperti teman-temannya. "
"Apa-apaan ini, Bung? Tak ada yang gratis dalam hidup ini."

"Ini bukan main-main. Apabila saya diperbolehkan menerangkannya kepada Anda dan suami Anda, jika ia ada saya kira semuanya akan jelas. Saya tahu ini mengejutkan. Saya tidak menyalahkan bila Anda merasa curiga."

Ia menatap ayahku sekali lagi, dan masih dengan ragu-ragu, ia mempersilahkannya masuk. "Henry," serunya ke arah dapur, "Ke mari dan bicaralah dengan orang ini. Katanya ia ingin menolong membetulkan kaki Jimmy."

Selama hampir satu jam, ayahku menguraikan rencananya dan menjawab pertanyaan-pertanya an mereka. "Apabila Anda mengizinkan Jimmy menjalani operasi," katanya, "Saya akan mengirimkan surat-suratnya untuk Anda tandatangani. Sekali lagi, kami yang akan menanggung seluruh biayanya."

Masih belum bebas dari rasa terkejut, orang tua Jimmy saling memandang di antara mereka. Tampaknya mereka masih belum yakin.

"Ini kartu nama saya. Saya akan menyertakan sebuah surat kalau nanti saya mengirimkan dokumen-dokumen perizinan. Semua yang telah kita bicarakan akan saya tuliskan dalam surat itu. Andai kata masih ada pertanyaan, telepon atau tulis surat ke alamat ini." Tampaknya sedikit banyak ini memberi mereka kepastian. Ayahku pergi. Tugasnya telah ia laksanakan.

Belakangan, majikan ayahku menghubungi walikota, meminta agar seseorang dikirim ke rumah Jimmy untuk meyakinkan keluarga itu bahwa tawaran tersebut tidak melanggar hukum. Tentu saja, nama sang dermawan tidak disebutkan.

Tidak lama kemudian, dengan surat-surat perizinan yang telah ditandatangani, ayahku membawa Jimmy ke sebuah rumah sakit mewah di negara bagian lain untuk yang pertama dari lima operasi pada kakinya.

Operasi-operasi itu sukses. Jimmy menjadi anak paling disukai oleh para perawat di bangsal ortopedi rumah sakit itu. Air mata dan peluk cium seperti tak ada habisnya ketika ia akhirnya harus meninggalkan rumah sakit itu. Mereka memberikannya sebuah kenang-kenangan, sebagai tanda syukur dan peduli mereka... sepasang sepatu baru, yang dibuat khusus untuk kaki "baru"nya.

Jimmy dan ayahku menjadi sangat akrab karena sekian kali mengantarnya pulang dan pergi ke rumah sakit. Pada kebersamaan mereka yang terakhir, mereka bernyanyi-nyanyi, dan berbincang tentang apa yang akan diperbuat oleh Jimmy dengan kaki yang sudah normal dan sama-sama terdiam ketika mereka sudah sampai ke rumah Jimmy.

Sebuah senyum membanjiri wajah Jimmy ketika mereka tiba di rumah dan ia melangkah turun dari mobil. Orangtua dan dua saudara laki-lakinya berdiri berjajar di beranda rumah yang sudah tua itu.
"Diam di sana, " seru Jimmy kepada mereka. Mereka memandang dengan takjub ketika Jimmy berjalan ke arah mereka. Kakinya sudah tidak pincang lagi.

Peluk, cium dan senyum seakan tak ada habisnya untuk menyambut anak yang kakinya telah "dibetulkan" itu. Orang tuanya menggeleng-gelengka n kepalanya sambil tersenyum ketika memandangnya. Mereka masih tidak bisa percaya ada orang yang belum pernah mereka kenal mengeluarkan uang begitu banyak untuk membetulkan kaki seorang anak laki-laki yang juga tidak dikenalnya.

Dermawan yang kaya raya itu melepas kacamata dan mengusap air matanya ketika ia mendengar cerita tentang anak yang pulang ke rumah itu.
"Kerjakan satu hal lagi, " katanya, "Menjelang Natal, hubungi sebuah toko sepatu yang baik. Buat mereka mengirimkan undangan kepada setiap anggota keluarga Jimmy untuk datang ke toko mereka dan memilih sepatu yang mereka inginkan. Aku akan membayar semuanya. Dan beritahu mereka bahwa aku melakukan ini hanya sekali. Aku tidak ingin mereka menjadi tergantung kepadaku."

Jimmy menjadi seorang pengusaha sukses sampai ia meninggal beberapa tahun yang lalu.

Sepengetahuanku, Jimmy tidak pernah tahu siapa yang membiayai operasi kakinya.

Dermawannya, Mr, HENRY FORD, selalu mengatakan lebih menyenangkan berbuat sesuatu untuk orang yang tidak tahu siapa yang telah melakukannya.

"Ada kebahagiaan yang kita rasakan dari menolong orang lain"

Laskar Pengeluh

Coba perhatikan di sekitar Anda, adakah orang yang gemar mengeluh? Keluhannya bervariasi, mulai dari mengeluh tentang kinerja pemerintahan yang dianggapnya tidak memihak rakyat kecil, hingga tentang fasilitas kantor yang dirasa minim. Dia merasa tidak ada satu pun orang atau situasi yang mampu memuaskannya. Hati dan pikirannya seakan-akan tengah menjalankan misi untuk mengkritisi atau bahkan memperbaiki kekacauan yang tengah terjadi di muka bumi ini.

Kalau diperhatikan lagi dengan lebih seksama, jenis orang seperti ini umumnya memiliki sikap pemurung dan pesimistis. Mereka mudah dikenali, tidak hanya dari kata-katanya yang dipilih saat berbicara (negatif), tetapi juga dari mimik mukanya yang redup. Satu hal lagi, dia akan nyaman berkumpul dengan orang-orang yang punya sikap dan kebiasaan yang sama. Seperti kata pepatah – yang juga sejalan dengan hukum psikologi – bahwa "kambing akan berkumpul dengan kambing lagi". Mereka biasanya berkerumun di lorong kantor, di kantin, di dapur dan di tempat-tempat tersembunyi lainnya.



Tak seorang pun yang ingin berdekatan dengan orang yang pemurung dan pesimistis. Kita semua mencari, menyukai, dan mengagumi orang-orang yang memiliki pandangan dan wawasan yang positif dan optimistis terhadap kehidupan. Mengapa? Karena itulah yang sesungguhnya kita butuhkan. Melihat semangat yang positif seperti ini pada diri orang lain menyebabkan kita semakin menyukai mereka.

Cobalah ingat tentang seseorang dalam hidup Anda yang Anda tidak dapat berdekatan dengannya. Dalam berbagai kesempatan ia selalu mengelauh tentang sesuatu, selalu jengkel dengan seseorang, selalu menyalahkan segala sesuatu, termasuk mengeluhkan karirnya yang tidak pernah beranjak. Dia tidak menyadari kalau kebiasaannya mengeluh adalah penyebabnya.
Anda mungkin juga pernah mendengar sebuah cerita inspirasi yang menggambarkan seorang sosok yang positif dan selalu bersikap optimis.

Ceritanya seperti ini:
Seorang Ibu terapung-apung di tengah lautan karena kapal yang ditumpanginya tenggelam. Tidak seperti yang lainnya, Ibu ini selalu tersenyum dengan ekspresi muka yang gembira. Orang disampingnya yang bergelayut di sebatang kayu yang sama, dengan heran bertanya; "Bu, kok kelihatannya senang, bukankah saat ini kita tengah mempertaruhkan nyawa kita ?"

Dengan santai Ibu itu menjawab; "Bagaimana tidak senang, saat ini aku dihadapkan pada dua kemungkinan. Kedua kemungkinan itu sama-sama menguntungkan buatku."

Merasa jawaban Ibu itu tidak memuaskan, orang yang disampingnya terus mendesak; "Maksud Ibu apa ya ?"
"Begini, kalau aku selamat itu artinya aku akan berjumpa dengan anak-anakku di daratan sana. Kalau aku tenggelam dan meninggal, berarti aku akan berjumpa dengan suamiku yang sudah menanti di surga. Bukankah keduanya sama-sama menguntungkan ?"

Saya yakin hingga saat ini Anda tidak pernah bergabung dengan Laskar Pengeluh, karena Anda tahu bahwa saat kita mengeluh, saat itu pula kita sedang memperlihatkan kualitas rendah diri kita. Kecuali dia anak pemilik perusahaan, dengan sikap seperti itu yang bersangkutan tidak akan lolos dalam interview pekerjaan. Kalau pun lolos perlu waktu lama untuk bisa naik jabatan. Dan jika naik jabatan, jangan-jangan itu hanya karena belas kasihan saja.

Petani Jagung

Artikel kali ini masih terkait dengan berbagi kebaikan yang akan menghasilkan kebaikan, cerita ini sudah lama saya dapatkan dari beberapa instruktur ataupun motivator lain tentang kisah seorang petani jagung.
Tersebutlah seorang petani jagung di suatu desa yang sangat terkenal akan kualitas jagungnya. Setiap kali panen pembeli selalu memuji akan kualitas jagung dari sang petani.
Pembeli : Pak saya sangat mengagumi akan kualitas jagung bapak yang luar biasa, setiap kali panen hasilnya selalu sama yaitu kualitas nomor satu.
Petani : Terima kasih atas pujiannya, saya sangat senang mendengar hal ini dari banyak orang yang datang ke tempat kami ini.
Pembeli : Pak apa sih sebenarnya rahasia Bapak yang bisa menghasilkan jagung sebaik ini ?
Petani : Tidak ada rahasia pak, kami di desa ini melakukan hal sama dengan petani lain di desa yang lain dalam hal menanam dan memelihara pohon jagung kami.
Pembeli : Tetapi mengapa di desa ini semua jagung panennya sangat bagus sekali ?
Petani : Mungkin kami selalu berbagi bibit yang baik satu sama lain, kalau saya mempunyai bibit yang baik dalam musim tanam kali ini maka saya akan bagikan bibit tersebut kepada petani yang lain demikian juga kalau petani lain mempunyai bibit yang baik dia akan bagikan kepada saya.
Pembeli : Kenapa harus berbagi bibit yang baik ke petani lain, kenapa bibit tersebut tidak bapak tanam sendiri ?
Petani : Kami tidak boleh egois seperti itu karena kalau saya menanam bibit yang baik sedangkan petani lain menanam bibit yang jelek nanti kalau ada angin maka serbuk sari yang jelek akan menempel ke bibit yang baik dan berakibat hasilnya menjadi jelek semua. Kalau semua menanam bibit yang baik dan kalaupun ada angin dia akan membawa serbuk sari yang baik dan tentu hasil penyerbukan menjadi baik semuanya.
Pembeli : Oh saya baru menyadari saat ini mengapa hasil jagung Bapak begitu bagus demikian juga dengan petani-petani lain di desa ini ternyata jawabannya adalah semangat berbagi yang baik kepada sesama akan menghasilkan buah-buah yang baik pula untuk semuanya.
-o-

Senin, 12 April 2010

Cinta Luar Biasa dan Seorang Laki Laki Biasa

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

“Kenapa?”, Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

“Kamu pasti bercanda!”

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

“Nania serius!”, tegasnya sambil menebak-nebak, “apa lucunya jika Rafli memang melamarnya”.

“Tidak ada yang lucu”, suara Papa tegas, “Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!”

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

“Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?”, Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, “maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?”

Nania terkesima.

“Kenapa?”

“Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.”

“Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!”

“Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!”

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

“Nania Cuma mau Rafli”, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

“Tapi kenapa?”

“Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.”

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

“Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!”

“Cukup!”

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah……..

***

Setahun pernikahan……

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

“Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!”
“Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?”

“Rafli juga pintar!”
“Tidak sepintarmu, Nania.”

“Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. “

“Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.”

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

“Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.”

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu,………….

ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

“Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!”

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

“Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik ya? dan kaya!”

“Tak imbang!”

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan,…………

hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

“Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!”

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

“Bang?”, Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

“Dokter?”

“Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.”

“Mungkin?” Rafli dan Nania berpandangan. “Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?”

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

“Pendarahan hebat!”

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

“Nania, bangun, Cinta?”, Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

“Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.”

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

“Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!”

“Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.”

“Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!”

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

================================================================================

tulisan yg sangat bagus…salut bwt mbak Asma Nadia yg telah nulis buku ini dan mbak yeni telah menulisnya di FBnx shg bisa aq baca ^^….aq copy paste mbak soale bagus…..^^

jadi pengen baca bukunya neh…=D

Karena Itulah Aku Cinta

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa?

Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
Kamu pasti bercanda!
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.
Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?
Nania terkesima.
Kenapa?
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.
Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
Tapi kenapa?
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.
Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..
Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.


Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat.. Begitulah cinta. Aku harap dengan pernikahan ini kalian menjadi saling cinta dan mencintai lebih dari aku mencintai sahabatku ini. Untukmu yang telah menjadi seorang suami……dan untukmu yang telah menjadi seorang istri. Percayalah….bahwa Cinta itu akan menutupi segalanya

CINTA KARENA DIA……

Cinta Laki Laki Biasa

Asma Nadia – MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

“Kenapa?” tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt.Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

“Kamu pasti bercanda!”

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Untuk cerita lengkapnya silahkan baca disini: Cinta Laki-laki Bias

Cinta Laki-laki Biasa adalah buku karangan Asma Nadia. Berisi 10 cerpen, 5 diantaranya pernah dimuat di berbagai antologi cerpen bersama, dan 5 lainnya belum pernah dibukukan. Lewat 10 cerpen itu Asma bercerita soal Cinta dan kesetiaan, soal Cinta dan kesetaraan, Soal Cinta yang memberi banyak energi bagi pelakunya untuk melahirkan banyak keajaiban. Soal Cinta.

Mohon maaf, saya tidak menyertakan secara lengkap cerita pendek ini disini. Namun anda bisa membacanya di beberapa website karena cerpen ini sudah tersebar luas diinternet melalui email dan milis, atau dengan membeli buku-nya.

Dua Hati

Melinda meremas-remas rambutnya. Fuh! Pusing kepalanya melihat berkas-berkas yang menumpuk di depan matanya. Meja kerjanya benar-benar seperti dilanda topan. Dengan malas perempuan bertubuh semampai itu bangkit. Dibukanya tirai dan berdiri mematung di depan jendela. Kesibukan malam di jantung kota Jakarta bisa dilihatnya dengan jelas.

Bosan, keluh Melinda dalam hati. Dari hari ke hari hidup ini dirasakannya begitu menjemukan. Perempuan itu tersenyum. Getir. Dalam kesendirian, tiba-tiba ia merasa begitu rapuh. Sosok wanita karier yang sukses dan sedang naik daun lenyap begitu saja.

Melinda menghela nafas. Sekarang sudah masuk pekan kedua bulan Maret. Rangkaian acara tema Derap Emansipasi Wanita Indonesia atau DEWI untuk menyambut Hari Kartini sudah dirancangnya sedemikian rupa. Paling tidak 70 persen masa persiapan sudah ia rampungkan. Awak majalah Wanita benar-benar bekerja keras siang dan malam. Promosi sudah dilemparkan kepada publik. Berbagai pihak sudah ia hubungi. Tapi…Aaah. Entah kenapa hatinya kadang-kadang berkata lain. Ada sesuatu yang dirasakannya begitu berat.

Melinda melihat jam tangannya. Hampir pukul 9. Ia harus mencek bagian fotografi untuk memastikan kehadiran gadis-gadis model yang baru. Setelah berkaca sejenak, ia segera keluar. Keluar dari lift, mata Melinda langsung melihat tubuh-tubuh yang dibungkus pakaian gemerlapan. Gadis- gadis yang doyan pamer aurat itu sedang bercanda ria di depan studio. Melinda terus melangkah menuju ruang pemotretan. Mendadak kakinya terhenti mendengar celotehan gadis-gadis model itu.

“Apa? Aida sudah balik ke Jakarta?”
“Aida Yusuf? Apa? Masak sih?”
Lalu terdengar suara cekikikan.

Aida? Kening Melinda berkerut. Tiba-tiba matanya berbinar. Perempuan itu memutar tubuhnya menuju lift. Setelah menunggu beberapa detik, pintu lift terbuka. Melinda bersandar pada dinding lift. Terbayang di depan wajahnya sosok Aida. Delapan tahun yang lalu, Aida pernah juara dalam kontes Gadis Masa Kini di majalah Wanita. Saat itu ia masih menjadi penanggung jawab rubrik. Ah, ia kenal betul dengan Aida. Cantik, cerdas, dan supel. Sebelum ia terbang ke Paris, wajah dan gayanya banyak menghiasi majalah-majalah ibukota.

Aku harus bergerak cepat, pikir Melinda. Kalau tidak, kesempatan emas ini akan disambar orang lain.
Begitu sampai di ruang kerjanya, Pemimpin Redaksi majalah Wanita itu langsung menyambar telepon.
“Halo? Lia, tolong cari informasi tentang Aida. Segera!”
“Aida Yusuf, Bu?”
“Ya, saya tunggu.”
“Tapi Bu…”
“Kamu ini bagaimana? Ini masalah penting!”
“Baik Bu…” suara Lia terdengar gugup.

* * * *

Melinda menatap rumah mungil nan asri di depannya. Sekali lagi dilihatnya secarik kertas yang dipegangnya. Cocok. Tanpa ragu ia memasuki halaman rumah tak berpagar itu. Setelah mengunci pintu BMW nya.

Ting-tong! Ting-tong!
Dari dalam rumah terdengar suara langkah tergesa. Kemudian pintu terbuka. “Ooo… saya pikir Non Aida,” seorang perempuan setengah baya tersenyum lebar memandang wajah Melinda. “Cari siapa, ya?”

“Saya temannya Aida, Bi.”
“Non Aida sedang mengantar Ahmad ke TQ. Nngg…sebentar lagi pulang,” si Bibi tersenyum.
“Silakan duduk dulu!”

Ahmad? TQ? Kening Melinda berkerut. Pikiran Melinda masih diliputi tanda tanya ketika si Bibi datang menawarkan minuman. Ia hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian diam membisu.

Beberapa saat kemudian sebuah Honda Accord meluncur masuk dan berhenti di samping teras tempat Melinda duduk. Perempuan itu bangkit untuk melihat siapa yang datang. Pintu mobil terbuka. Sorang bocah berseragam hijau muda turun dengan riang. Gemas juga hati Melinda mendengar celotehan anak kecil itu. Namun perhatiannya segera beralih kepada perempuan berkerudung putih yang sedang mengunci pintu mobil. Melinda menatap tak percaya. Aida? Itu Aida?

* * * *

“Aku datang sebagai sahabat, Aida,” Melinda menatap mata sebening telaga wanita berjilbab di sampingnya. “Ceritamu ini tidak akan kujadikan obyek berita majalahku. Sungguh.” Aida menahan nafasnya. Ini kali yang ketiga Melinda datang menemuinya. Hatinya agak ragu. Namun melihat keseriusan wanita itu, akhirnya ia mengalah.

“Dua tahun setelah kepergianku ke Paris, Papa meninggal.” Suara Aida terdengar sendu. “Sejak itu aku seperti kehilangan identitas diri. Aku begitu mencintai Papa.” Aida tertunduk. Berat rasanya menceritakan masa lalu yang telah lama terkubur.

Mama mendesakku untuk kembali ke Paris. Aku menolak. Tapi Mama terus membujuk. Akupun berangkat dengan hati galau. Tiga bulan pertama aku masih bisa bertahan. Namun setelah itu, diriku hanyut entah kemana. Nyaris aku tenggelam dalam obat bius. Alhamdulillah, aku segera tersadar kalau semua itu hanyalah pelarian belaka.

Suatu malam, Michelle datang ke apartemenku. Temanku di sekolah mode itu bicara macam-macam. Memang begitu tingkahnya setiap kali bertamu. Pembicaraan akhirnya lari pada soal emansipasi. Ia memuji-muji wanita barat yang berani menuntut haknya. Kemudian menyindir wanita-wanita timur yang dinilainya kurang agresif. Dengan sikap jijik ia mencela wanita-wanita Eropa yang sudah terkena “virus” Islam yang dikatakannya kolot. Kebetulan saat itu sedang hangat-hangatnya demonstrasi jilbab. Aku melihat sendiri wanita-wanita berjilbab itu memenuhi jalan. Michelle mencela mereka habis- habisan.

Tentu saja aku tersinggung, Mbak. Bagaimanapun aku tetap seorang Muslimah. Ketika aku menyatakan hal itu, Michelle terkejut. Ia mengira aku bukan orang Islam. Ia tidak pernah melihatku shalat atau apalah yang menunjukkan keislamanku.

Aku tercenung. Shalat? Berdo’a saja rasanya amat jarang kulakukan. Hari-hari selanjutnya kugunakan untuk merenung. Lalu sebuah dorongan kuat “memaksaku” untuk memberi salam seorang wanita berjilbab di perpustakaan umum. Kami berkenalan, dan segera menjadi akrab. Ia banyak bertanya tentang muslimah Indonesia. Aku cerita apa adanya sekadar yang aku tahu. Sarah, wanita asal Inggris itu, mengajakku menghadiri pertemuan-pertemuan yang membahas masalah keislaman. Aku sangat tertarik dan kagum. Mereka begitu gigih mempertahankan identitas.

Aku mulai shalat. Pertama kali air wudlu menyentuh wajahku, kurasakan kesejukan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Air mataku mengalir deras dalam ruku’ dan sujud. Dua bulan kemudian kutinggalkan sekolah mode. Dan dengan penuh kesadaran kukenakan busana muslimah. Mula-mula memang rikuh Mbak. Tapi aku yakin pada jalan yang kutempuh.

Ketika Mama datang berkunjung, ia sangat terkejut. Menangis-nangis ia memintaku untuk melepaskan kerudung. Dengan halus aku menolak. Dan untuk yang satu ini aku tidak bersedia mengalah. Mama pulang dengan hati remuk.

Atas saran teman-teman dekatku, aku pulang. Namun aku tidak langsung ke Jakarta. “Mama tidak mau menerima kepulanganku”. Aida tersenyum. “Ketika pesawat transit di Singapura, aku menelpon pamanku yang tinggal di Palembang. Alhamdulillah, paman bisa dan sangat memahami keadaanku. Aku tinggal di kota itu dengan aman.”

“Lalu kau menikah di sana?”
“Ketika seorang ikh…maksudku, seorang laki-laki datang menemui pa- manku….” kata-kata Aida mengambang di udara. “Maaf Mbak. Ini sangat pribadi.” Melinda tertawa kecil. Ia tidak mengerti maksud Aida.

“Kapan tiba di Jakarta?”
“Awal bulan ini.” Aida membetulkan letak kerudungnya. “Mama yang memintaku. Setelah si kecil Fatiya lahir, hati Mama terbuka. Ia merasa kesepian setelah kakak dan adikku sibuk dengan urusannya masing-masing. Suamiku setuju saja. Ia sendiri berasal dari Jakarta.”

“Kau tidak menyesal, Aida? Kau kubur masa depanmu sendiri?”
Aida menatap Melinda dalam-dalam.
“Aku tidak akan sanggup menukar kebahagiaan yang dilimpahkan Allah saat ini dengan kehidupan semu. Jalan yang kulalui begitu terang. Dan aku tidak mau terseret dalam kegelapan. Aku bersyukur, Mbak, bisa menjadi istri dan ibu.” Melinda memalingkan wajahnya. Wanita itu menatap daun-daun mawar dengan pandangan kosong.

* * * *

Angin membelai wajah Melinda, ketika wanita itu membuka sebuah kisi jendela. Dari kamar hotel berbintang lima itu ia mengintip kehidupan malam Jakarta. Kebiasaan yang kerap ia lakukan di ruang kerjanya.

Beberapa saat lamanya wanita itu berdiri termangu. Tadi pagi ia melihat Aida di Cibodas. Bahagia sekali Aida ketika memimpin serombongan anak-anak berseragam hijau muda turun dari bis. Ingin rasanya ia menemui Aida. Tapi ia sendiri sedang sibuk memberi instruksi. Beberapa orang model akan diambil gambarnya untuk cover Wanita.

Melinda tersenyum pahit. Ia benar-benar cemburu saat itu. Aida… Aku mungkin tak sejujur engkau dalam memandang hidup ini. Aku mungkin tidak mampu melepaskan apa yang aku miliki saat ini. Kita memang berbeda.
Tok! Tok!
“Yaa, masuk!” Melinda tersentak.
“Maaf, Bu, orang-orang sudah menunggu di loby.” Lia muncul dari balik pintu.
“Oke saya segera turun.” Melinda menyibakkan rambutnya. “Kau temui mereka dulu.”

Melinda segera mematut diri. Ia harus tampil sempurna dalam acara pembukaan ini. Kemudian wanita itu segera keluar menyambut para undangan de- ngan senyum dan gaya ceria. Namun sinar matanya tidak mampu menyembunyikan kepedihan hatinya…

Ulul ‘Azmi
Majalah Sabili No.4/th.V/6-19 Oktober 1992

Mutiara

“Hai Anakku.” Kata Seorang Guru kepada muridnya yang duduk berhadapan dihamparan pasir pantai. “Sepertinya sudah cukup engkau belajar dariku, saatnya engkau belajar dari dunia luar, lingkungan yang sebenarnya”, papar Sang Guru kemudian. “Namun ada satu hal lagi yang harus engkau lakukan, sebagai bekalmu nanti, dan pelajaran akhir dariku.” “Apa itu Guru ?” tanya murid tersebut.

“Carilah mutiara di laut yang indah itu.”

“Mencari mutiara di laut itu Guru ?” tanya murid minta kepastian. “Bukankah di dasar laut itu gelap Guru, bagaimana aku bisa tahu itu mutiara atau bukan?”

“Dengan ilmu yang engkau miliki, engkau bisa menerangi dasar laut yang gelap tsb sehingga engkau bisa membedakan mana yang mutiara dan bukan”, jelas Gurunya. “Kecuali kalo kamu sengaja mengambil yang bukan mutiara.”

“Baiklah kalo bagitu Guru.”

“Untuk itu aku akan memberimu sesuatu buatmu, yang pertama adalah kuberi kau sebuah kantung di mana dengan kantung ini kau bisa menyimpan mutiara yang engkau dapatkan sebanyak-banyaknya, semakin banyak kau dapatkan maka kau akan semakin kuat sehingga bisa untuk mencari mutiara di tempat lain, jangan kau masukkan mutiara yang cacat atau selain mutiara, karena hal itu akan melemahkanmu dan akan membuatmu berat, mengerti kau?”

“Mengerti Guru, lalu apa lagi Guru?”

“Satu lagi, yaitu kuberi engkau sebuah kotak, yang dengan kotak ini engkau dapat menyimpan mutiara maksimal sebanyak empat. Namun tidak sembarangan mutiara yang engkau masukkan. Masukkanlah mutiara yang menurutmu paling bagus, paling indah, paling bersinar, bisa menyenangkanmu, semakin cepat engkau memasukkan mutiara yang menurutmu paling indah tersebut dalam kotak ini, maka kekuatanmu akan berlipat ganda, lebih dari kantung mutiara tadi, tapi ingat jika engkau memasukkan mutiara ke dalam kotak itu lebih dari satu sedang engkau tidak bisa menahan kekuatannya, maka engkau yang akan mendapat kerugian, kotak tersebut akan pecah, mutiara tersebut akan hilang dan kekuatanmu akan melemah, engkau harus pandai-pandai dan bijaksana mengambil keputusan, serta aku sangat tidak menyukai engkau mengambil lagi mutiara yang telah engkau masukkan dalam kotak tersebut kecuali jika memang mutiara yang engkau masukkan justru akan mengurangi kekuatanmu dan ingat, waktumu sampai matahari terbenam di ufuk Barat.” jelas Guru tersebut pada muridnya.

“Baiklah Guru, akan kuingat pesanmu” jawab muridnya sambil menerima kedua barang dari Gurunya.

Tidak lama kemudian turunlah murid tersebut ke dalam lautan. Dengan ilmunya, dia sanggup berada di dalam laut, dan mampu melihat dasar laut yang gelap gulita. Kemudian diapun sibuk mencari mutiara di antara batu-batu kerikil, banyak mutiara yang ditemukan, ada kemilau, bersinar, dan sebagainya.

“Lumayan juga, banyak mutiara yang telah kudapatkan, tenagaku pun terasa lebih kuat, aku akan pergi ke tempat lain lagi, barangkali di sana kutemukan mutiara yang cocok untuk kotak ini” pikir murid tersebut sambil memasukkan mutiara-mutiara yang ditemuinya ke dalam kantung. Di tempat lain, hal samapun dilakukan, sambil mencari mutiara yang cocok untuk dimasukkan dalam kotak, sampai suatu ketika ditemuinya sebuah mutiara yang cukup membuat hatinya tertarik, sebuah mutiara putih bersih kemilauan dengan sinarnya yang terang menerangi hati. Akhirnya diambil mutiara tersebut dan dimasukkan kedalam kotak. Benar kata Gurunya, mutiara tersebut memberi kekuatan yang berlipat ganda, tapi masih ada waktu lagi untuk mencari, maka pergilah dia ketempat lain untuk mengumpulkan mutiara-mutiara yang lain. Namun ditempat lain tersebut ditemuinya lagi sebuah mutiara yang lebih indah dari mutiara yang dimasukkan kotak tersebut. Muncul kebimbangan hati dalam diri murid tersebut.

“Guruku berpesan, jika aku tidak kuat, maka jangan memasukkan mutiara ini ke dalam kotak yang sudah terisi, akan berbahaya bagiku, Guruku juga melarangku untuk mengeluarkan mutiara dalam kotak ini apalagi mutiara tsb telah memberiku kekuatan, tapi mutiara ini teramat indah, lebih indah dari sebelumnya” cukup lama juga murid tersebut dalam kebimbangan, akhirnya diputuskan untuk memasukkan mutiara terindah itu ke dalam kantung saja, kemudian dia melanjutkan lagi perjalanannya mencari mutiara karena waktunya masih ada. Di tempat lain dia juga mengalami hal serupa, dia menemukan mutiara yang lebih indah lagi, tapi dengan ketetapan hatinya, dia tetap mempertahankan mutiara dalam kotak tersebut. dan meletakkan mutiara terindah itu ke dalam kantung, hingga batas waktunya telah tiba, dan dia harus kembali pada sang Guru.

Ditemuilah Gurunya dengan membawa hasil yang diperolehnya.

“Guru, aku sudah menyelesaikan tugas ini Guru, aku sudah berhasil membawa mutiara dalam kantung ini dan dalam kotak ini”

“Bagus kalau begitu, ketahuilah wahai anakku, aku akan memberitahumu sesuatu di balik hal tersebut, Ketauhilah bahwa kantung yang kuberikan itu ibarat tempat untuk menampung teman/sahabat, maka carilah sahabat yang baik. Buatmu carilah sahabat yang menjadi mutiara bagimu yang mampu memberimu kebaikan, semakin banyak engkau memiliki sahabat, maka akan banyak sahabat lagi yang akan kau dapatkan di kemudian hari, seakan-akan tempat itu bisa menampung tak terbatas banyaknya, semakin banyak akan semakin baik, tetapi jika engkau memiliki sahabat yang buruk yang bukan mutiara bagimu, maka hal itu akan memberatkanmu dan akan merugikanmu.”

“Lalu apa maksud dari kotak ini Guru?”

“Kotak ini memiliki maksud dengan pasangan hidup atau istri, nanti dalam hidupmu, engkau hanya diperkenankan memiliki istri maksimal empat, carilah istri yang engkau anggap paling indah, paling engkau suka menurut pandanganmu karena hal itu akan memberimu kekuatan, kebahagian kesenangan, mungkin juga setelah engkau memiliki istri, suatu saat engkau akan menemukan lagi orang yang lebih indah menurut pandanganmu, jika engkau memang sanggup dan dapat berlaku adil dan bijaksana, maka hal itu baik juga bagimu, tetapi jika engkau tidak kuat, dan tidak dapat berlaku adil pada mereka maka engkau juga yang akan menderita, dan terbebani, juga akan membuat mutiara tersebut tidak bisa memberimu kekuatan, justru memberatkanmu, Jika engkau mengeluarkan mutiara atau engkau menceraikan istrimu padahal dia telah memberikan kebaikan bagimu, sesungguhnya hal itu sangat tidak disukai,dan engkau telah dzalim kepadanya. kecuali jika memang istrimu bukan mutiara, tidak memberikan kebaikan bagimu, melainkan memberatkanmu maka menceraikannya adalah hal yang baik bagimu. Karenanya engkau harus pandai-pandai dalam mengambil keputusan, engkau harus bisa memilih mutiara diantara batu-batu dan memilih mutiara terbaik bagimu serta engkau harus bijaksana jika engkau suatu saat menemukan orang yang lebih baik dari istrimu, menemukan mutiara yang lebih baik dari yang ada, apakah engkau mengerti Wahai Anakku”

“Insya Allah mengerti Guru”

“Nanti jika engkau telah berada diluar, gunakanlah ilmumu, gunakanlah Al-Islam sebagai penerang bagimu, dalam menentukan mana yang baik dan yang buruk, insya Allah engkau akan mendapatkan hasil akhir yang baik jika engkau berpegang padanya.”

“Baik Guru, insya Allah saya akan mengingat pesan-pesan Guru, jika nanti saya berada di dunia luar, doakan saya agar saya sanggup berpegang teguh dengan Al-Islam.”

Kisah Cinta Seorang Anak

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki,
wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku,
memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini
memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain
saja.

Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya
membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun
melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya
menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga
Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan
membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa
stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu
melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu
menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun, Sam meninggal
dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi
semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya
mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya
pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang
sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya
tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar
hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak
kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia
Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat
buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah
sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah
berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah
perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi
yang mengingatnya.

Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti
sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari
betapa jahatnya perbuatan saya dulu.tiba-tiba bayangan Eric melintas
kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric. Sore
itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad
dengan pandangan heran menatap saya dari samping. “Mary, apa yang
sebenarnya terjadi?”

“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal
yang telah saya lakukan dulu.” aku menceritakannya juga dengan
terisak-isak. Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah
memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis
saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang.
Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari
hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya
tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric…

Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada
sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya
mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali
potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan
Eric sehari-harinya. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap
sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.
Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala
ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal
dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?”

Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh tega, Tahukah kamu, 10
tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus
menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega,
saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya.
Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah,
namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan
yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis
setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”

Saya pun membaca tulisan di kertas itu…

“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama
Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji
kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…”

Saya menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan…
katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang!
Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric
telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya
sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan
di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut
apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya
ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari
belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang
lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana.”