Sebelumnya saya minta maaf karena baru bisa memasukkan renungan mingguan. Dari puluhan pertanyaan/ komentar yang masuk, terlihat jelas ada niat kuat para sahabat untuk berubah, namun memerlukan pedoman agar perubahan berujung pada keindahan. Untuk itu ijinkanlah renungan singkat ini berbagi bahan-bahan menuju keindahan:
1. Aspiration
Dari segi aspiration, semua sahabat yang sudah datang berkunjung ke sini (apalagi berkomentar) punya aspirasi untuk berubah. Tidak saja dibimbing oleh kemiripan minat, tapi juga ada tangan-tangan kosmik yang membuat kita berjumpa di sini.
2. Habituation
Keinginan hanya sebuah langkah tapi lemah terutama karena mudah sekali diterpa/ dibawa pergi oleh angin perubahan. Karena itu diperlukan habituation (pembadanan dalam keseharian). Seperti orang baru belajar tersenyum, awalnya aneh dan palsu, tapi kalau dibiasakan lama-lama jadi indah. Demikian juga dengan habit (kebiasaan) spiritual seperti sembahyang, meditasi, berbuat baik, berhenti marah/ menyakiti dan lain-lain. Ia memerlukan waktu agar membadan dalam keseharian.
3. Commitment
Proses pembadanan kebiasaan baru penuh godaan, tantangan, cobaan. Kita memerlukan komitmen untuk tidak mudah kembali ke titik semula. Di sinilah diperlukan komitmen kuat. Keteguhan untuk terus melangkah ke depan.
4. Consistency
Seperti menetesi batu dengan air, bila terus menerus menetesi bagian batu yang sama, bahkan batu pun bisa dibikin berlobang oleh air. Inilah kekuatan konsistensi.
Kerap ada yang tanya, apa buah (fruition) dari seluruh ketekunan spiritual seperti ini? Bagi penekun-penekun yang sudah berjalan jauh akan menemukan ciri-ciri seperti berikut ini:
a. Memandang seperti langit (tanpa batas, luas, memayungi semua). Apa yang benar hari ini bisa jadi salah besok. Musuh hari ini bisa jadi teman besok. Sehingga mulai bisa memandang semuanya dengan kualitas kemesraan yang sama, bisa tersenyum pada apa saja yang datang.
b. Melangkah seperti gunung (tekun, kokoh, teguh). Dalam bahasa orang bijaksana: ‘No wind can move the mountain, neither praise nor blame can move the wise’. Orang bijaksana sekokoh gunung, baik pujian maupun makian tidak membuat ia bergoyang.
c. Mengalir seperti gelombang. Ada gelombang tinggi (sukses, dipuja, terkenal), ada gelombang rendah (orang biasa). Namun gelombang mana pun bila menyentuh pantai (baca: kematian) akan merunduk rendah hati di depan kehidupan. Di Timur, ini yang disebut ‘pembebasan’. Selamat melangkah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar