Seorang sahabat pengagum bintang sinetron Paramita Rusadi punya cara unik dalam mengekspresikan kekaguman. Setiap kali ia bertemu wanita cantik, ia selalu bergumam paramita. Entah di jalan, di pasar, mall, kantor, di mana saja asal ketemu wanita yang berparas cantik selalu ia bergumam paramita. Namun, begitu ia melihat istrinya di rumah yang tidak pernah merawat dirinya, ia bergumam lain: ‘parah banget’.
Maafkanlah lelucon, ia hanya bunga canda yang membuat kehidupan jadi indah penuh tawa. Namun, inilah ciri kehidupan yang bergerak dari kegelapan menuju kegelapan. Menyangkut punya orang selalu penuh puji, begitu melihat milik sendiri selalu penuh caci. Ada saja alasan yang membuat hadiah-hadiah kehidupan yang sudah tergenggam tangan, kemudian terlihat tidak sempurna.
Ciri lain kegelapan adalah keseharian yang mudah marah dan tersinggung. Perhatikan wacana lewat media. Semakin tinggi kadar marah publik kepada pemerintah khususnya, semakin penting tempatnya di media. Lihat juga surat-surat pembaca, setengah lebih yang dimuat media cetak adalah ekspresi kemarahan. Demikian juga dengan tulisan-tulisan atau komentar-komentar para pemuka, kalau tidak marah kecil kemungkinannya mendapat perhatian publik sekaligus media.
Dalam bahasa hati, ini pertanda masih banyak yang memperhatikan nasib bangsa. Masih ada yang rela berfungsi sebagai penjaga sejarah agar keburukan masa lalu tidak terulang kembali. Tidak sedikit yang masih cinta dengan Indonesia. Sehingga tidak seluruh kemarahan sebenarnya berwajah negatif.
Dalam bahasa kejernihan, ketidakpuasan, kemarahan, ketersinggungan adalah tanda-tanda kalau emosi terlalu mudah untuk dicuri. Jangankan kejadian besar, hal sepele pun bisa membuat emosi tercuri. Sehingga dalam totalitas, kehidupan manusia seperti rumah besar yang setiap hari kecurian. Marah, tersinggung, tidak puas, protes hanya sebagian tanda-tanda emosi yang tercuri.
Pencuri di rumah kosong
Seperti dituturkan salah satu logika tua, kegelapan tidak bisa diusir dengan sapu, ia hanya bisa menghilang bila dihidupkan cahaya terang. Sehingga menimbulkan keingintahuan, apa cahaya penerang yang bisa membantu mengusir kegelapan kemarahan?
Kembali ke pengandaian tentang rumah yang tercuri, ia mungkin terjadi kalau rumahnya penuh dengan barang, sekaligus tidak terjaga. Ada beberapa ‘barang’ di dalam sini yang memungkinkan emosi mudah tercuri yakni harga diri yang terlalu tinggi, kepintaran penuh kemelekatan serta logika batu.
Memiliki harga diri tentu sebuah pertanda kedewasaan, namun mengharap agar diri dihargai tinggi-tinggi setiap hari mudah sekali membuat emosi tercuri. Jangankan orang biasa, orang berpangkat serta bereputasi tinggi pun tidak bisa membuat dirinya selalu dihargai. Oleh karena itulah, banyak guru mengimbangi harga diri dengan sikap yang rendah hati. Dihargai adalah sumber motivasi. Dicaci adalah masukan berguna kalau masih ada sejumlah hal dalam diri ini yang perlu diperbaiki.
Kepintaran memiliki perilaku unik yang tidak semua menyadari. Pertama-tama kepintaran membikin ukuran. Kemudian menilai dan menghakimi semuanya sesuai dengan ukuran tadi. Bila kehidupan sesuai dengan ukuran, senang, gembira, setuju hasil ikutannya, Namun karena kehidupan berwajah jauh lebih besar, lebih rumit, lebih dalam dari ukuran mana pun, maka ukuran-ukuran ala kepintaran mudah sekali membuat kehidupan bermuara pada kekecewaan.
Di sinilah kebijaksanaan bisa menjadi pengimbang kepintaran. Bila kepintaran penuh dengan ukuran, kemudian menolak banyak segi kehidupan, kebijaksanaan lebih banyak belajar untuk menerima semua apa adanya. Terutama karena kesadaran mendalam, kesempurnaan sudah berada dalam kehidupan sejak awal hingga akhir. Keinginan saja yang memperkosanya dengan tuntutan harus begini harus begitu, sehingga bahagia menjadi barang langka. Dalam bahasa kebijaksanaan, penerimaan adalah awal pembebasan.
Logika batu yang laku keras dalam peradaban modern lain lagi. Seperti batu bertemu batu, ia selalu bertabrakan. Pemerintah bertemu legislatif, pekerja berjumpa pengusaha, lembaga sosial masyarakat bersentuhan dengan media, tabrakan, tabrakan dan tabrakan. Fundamental dalam logika batu, kebenaran ditemukan dengan jalan melawan. Semakin banyak perlawanan, semakin banyak kredit yang diperoleh dalam kehidupan.
Namun setelah teroris dengan logika batunya berhadapan dengan pemerintah AS bersama sekutu-sekutunya dengan logika yang sama, kemudian berputar dari satu kerumitan menuju kerumitan lain, mulai banyak orang yang haus akan logika air. Seperti pendapat Lao Tzu, the people who cultivate the Way should be more like water.
Perhatikan air yang mengalir di sungai, ia bisa melewati setiap penghalang karena lentur. Bandingkan tubuh manusia yang masih hidup dengan tubuh manusia yang sudah mati, batang pohon yang masih hidup dengan batang pohon yang telah mati. Yang masih hidup lebih lentur dibandingkan dengan yang sudah mati. Sehingga dari sini bisa ditarik pelajaran, kehidupan lebih dekat dengan kelenturan. Lebih dari itu, ia lebih mudah membahagiakan.
Sadar akan benturan-benturan yang ditimbulkan kepintaran, logika batu, serta harga diri yang tinggi, sejumlah guru bahkan pergi lebih jauh lagi. Tidak sedikit yang belajar menerangi kegelapan dengan keheningan. Sehebat apa pun harga diri, kepintaran dan logika batu, tapi semuanya pasti berlalu bersama waktu. Keheningan membuat semuanya berlalu secara hening.
Keburukan berlalu, kebaikan juga berlalu. Kesucian berlalu, kekotoran juga berlalu. Keberhasilan berlalu, kegagalan juga berlalu. Bila ini acuan kehidupan, maka jiwa mulai mengalir. Rumah jiwa akan jadi rumah kosong yang dimasuki pencuri. Pertama, karena kosong sehingga tidak ada yang bisa dicuri. Kedua, rumah jiwa dijaga oleh kewaspadaan dan kesadaran.
Eksekutif boleh saja teramat jarang akur dengan legislatif, pekerja kerap bertabrakan kepentingan dengan pengusaha, demokrasi berubah menjadi demo like crazy, tapi tidak ada di dalam sini yang bisa dicuri. Di Tibet, ini disebut rigpa (pure presence), keadaan jiwa yang terang benderang akibat praktek alert mindfulness yang panjang. Sebagai hasilnya, jiwa menerangi dirinya sendiri. Sehingga setiap jalan kehidupan seperti penuh sinar penerang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar