Senin, 12 April 2010

Jangan Takut Digigit Gajah

Apakah Anda pernah mendengar orang meninggal
karena digigit gajah?

Bukankah yang lebih banyak kita dengar, adalah orang yang meninggal
karena gigitan nyamuk.

Sehingga, kita akan menyelamatkan banyak tenaga untuk perbaikan hidup, yang banyak terboroskan karena kita memperhatikan kekhawatiran yang salah.

Ingatlah,

Cara Anda mengkhawatirkan sesuatu lebih melukai Anda daripada yang Anda khawatirkan.

Lebih jauh,

Kita semua memiliki kemampuan yang hebat untuk mengkhayalkan kebesaran yang ingin kita capai di masa depan. Kita juga piawai untuk menuliskan cita-cita dan menyusun rencana.

Tetapi, semua kekuatan perencanaan kita, tidak pernah lebih hebat dari kemampuan kita untuk menunda.

Sebagian besar penundaan kita datang karena pertimbangan yang berlebihan mengenai bayangan tentang masalah-masalah besar yang bisa menghadang perjalanan kita.

Kita membayangkan batu-batu sebesar gajah yang harus disingkirkan agar perjalanan mencapai cita-cita kita menjadi mulus dan bebas kesulitan.

Kita melupakan batu-batu kecil yang harus disingkirkan, yang justru sering menjadi prasyarat bagi tercapainya hasil yang nilai agregat-nya lebih besar dari gajah.

Maka,

Jangan khawatir.
Gajah tidak pernah menggigit.

Karena kita terlalu sibuk memikirkan ancaman yang bisa datang dari gajah, kita melupakan fakta bahwa nyamuk lebih pasti menggigit.

Dan statistik telah membuktikan bahwa lebih banyak orang meninggal karena gigitan nyamuk, daripada karena gigitan gajah.

Maka,

Marilah kita periksa khasanah kekhawatiran kita, dan perhatikan bagaimana kita cenderung melupakan hal-hal kecil yang justru menjadi syarat tercapainya hal-hal besar yang kita idamkan.

Jika kita menunda pelaksanaan dari sesuatu yang baik, kita sedang memperkuat keadaan yang tidak baik.

Dan jika kita sudah lama mengeluhkan kualitas hidup kita, kita harus bersegera menghentikan kebiasaan yang selama ini telah melemahkan kehidupan kita.

Marilah kita hentikan mengkhawatirkan hal-hal besar yang tidak akan terjadi, dan mulailah menghormati hal-hal kecil yang penting.

Karena,

Sebetulnya,
tidak ada hal kecil, bila dampaknya besar.

Perhatikanlah, bahwa

Dia yang sulit menghormati sesuatu karena penampilan-nya yang kecil, akan dikagetkan oleh hal-hal kecil yang melaju dengan kecepatan tinggi.

Dan jika masalah-masalah kita tampilnya besar, itu karena kita mengupayakan penyelesaiannya dengan menggunakan kesungguhan yang kecil.

Maka, lebih bersungguh-sungguh-lah, lebih bertenaga-lah dalam upaya dan pekerjaan Anda.

Selalu ingatlah, bahwa

Masalah besar selalu bisa diatasi dengan kemauan besar.

Dan kemauan besar itu dibuktikan dari hormatnya kepada hal-hal kecil
yang penting.

Jangan takut digigit gajah.

Cinta Luar Biasa dan Seorang Laki Laki Biasa

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

“Kenapa?”, Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

“Kamu pasti bercanda!”

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

“Nania serius!”, tegasnya sambil menebak-nebak, “apa lucunya jika Rafli memang melamarnya”.

“Tidak ada yang lucu”, suara Papa tegas, “Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!”

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

“Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?”, Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, “maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?”

Nania terkesima.

“Kenapa?”

“Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.”

“Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!”

“Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!”

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

“Nania Cuma mau Rafli”, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

“Tapi kenapa?”

“Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.”

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

“Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!”

“Cukup!”

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah……..

***

Setahun pernikahan……

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

“Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!”
“Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?”

“Rafli juga pintar!”
“Tidak sepintarmu, Nania.”

“Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. “

“Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.”

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

“Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.”

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu,………….

ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

“Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!”

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

“Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik ya? dan kaya!”

“Tak imbang!”

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan,…………

hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

“Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!”

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

“Bang?”, Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

“Dokter?”

“Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.”

“Mungkin?” Rafli dan Nania berpandangan. “Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?”

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

“Pendarahan hebat!”

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

“Nania, bangun, Cinta?”, Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

“Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.”

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

“Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!”

“Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.”

“Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!”

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

================================================================================

tulisan yg sangat bagus…salut bwt mbak Asma Nadia yg telah nulis buku ini dan mbak yeni telah menulisnya di FBnx shg bisa aq baca ^^….aq copy paste mbak soale bagus…..^^

jadi pengen baca bukunya neh…=D

Karena Itulah Aku Cinta

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa?

Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.
Kamu pasti bercanda!
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.
Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.
Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?
Nania terkesima.
Kenapa?
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!
Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.
Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
Tapi kenapa?
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!
Cukup!
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah.

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.
Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.
Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..
Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.


Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat.. Begitulah cinta. Aku harap dengan pernikahan ini kalian menjadi saling cinta dan mencintai lebih dari aku mencintai sahabatku ini. Untukmu yang telah menjadi seorang suami……dan untukmu yang telah menjadi seorang istri. Percayalah….bahwa Cinta itu akan menutupi segalanya

CINTA KARENA DIA……

Cinta Laki Laki Biasa

Asma Nadia – MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

“Kenapa?” tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt.Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

“Kamu pasti bercanda!”

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Untuk cerita lengkapnya silahkan baca disini: Cinta Laki-laki Bias

Cinta Laki-laki Biasa adalah buku karangan Asma Nadia. Berisi 10 cerpen, 5 diantaranya pernah dimuat di berbagai antologi cerpen bersama, dan 5 lainnya belum pernah dibukukan. Lewat 10 cerpen itu Asma bercerita soal Cinta dan kesetiaan, soal Cinta dan kesetaraan, Soal Cinta yang memberi banyak energi bagi pelakunya untuk melahirkan banyak keajaiban. Soal Cinta.

Mohon maaf, saya tidak menyertakan secara lengkap cerita pendek ini disini. Namun anda bisa membacanya di beberapa website karena cerpen ini sudah tersebar luas diinternet melalui email dan milis, atau dengan membeli buku-nya.

Mantra Jimat Penakluk Manusia

Awalnya, saya mengenal nama Mary Kay Ash di beberapa terbitan jurnal Personal Excellence. Tulisannya sederhana, mudah dicerna dan menyentuh.

Namun, setelah tahu dari majalah Fortune, bahwa perusahaan yang ia dirikan dan besarkan ( Mary Kay Cosmetics) adalah salah satu di antara 500 perusahaan besar dunia, perhatian saya ke wanita tua ini mulai lebih serius. Setiap artikelnya saya baca. Bukunya saya cermati. Dan, kendatipun sering ia tampil terlalu wanita sentris, tetap tidak mengurangi minat saya terhadap ajaran-ajarannya.

Prinsip dia membesarkan perusahaan amatlah sederhana. Mulailah dengan perhatian, tenggang rasa, dan keperdulian pada orang lain. Laba adalah hasil ikutan dari keseriusan kita melaksanakan prinsip-prinsip terakhir.

Fondasi paling kokoh dari manajemen Mary Kay Cosmetics, adalah sebuah hukum utama yang berbunyi : “perlakukan orang lain, sebagaimana Anda ingin diperlakukan oleh mereka”.

Bagi Anda yang rajin belajar, prinsip terakhir bukanlah barang baru. Namun, yang unik dari Mary Kay, adalah komitmennya dalam melaksanakan prinsip tadi dengan penuh keseriusan.

Sebagai penjabaran dari prinsip manajemen dan hukum utama terakhir, Mary Kay Ash pernah menulis bahwa setiap orang membawa ke mana-mana tulisan psikologis di dahinya. Tulisan tersebut berbunyi : make me feel important (disingkat MMFI).

Sepintas tampak, prinsip-prinsip manajemen yang menjadi tiang penyangga Mary Kay Cosmetics, mirip dengan pendekatan Dale Carnegie dan Stephen Covey. Benang merahnya, terletak pada modal yang bernama sentuhan kemanusiaan.

Terus terang, saya bersentuhan dengan pendekatan-pendekatan humanistik seperti ini dari umur yang amat muda. Seorang kakak saya memberi buku Dale Carnegie, yang berjudul How to win friends and convince the others, ketika saya masih di kelas satu SMU. Butuh waktu lama memang untuk bisa mengaplikasikannya. Tetapi, langkah karir saya amatlah ditopang oleh prinsip-prinsip terakhir.

Di satu kesempatan pelatihan pada Gulf Resources Ltd., seorang pemimpin di perusahaan minyak Kanada ini bertanya ke saya : “Apa yang Anda pakai untuk membuat orang yang di hari pertama galak tidak ketulungan menjadi hormat di hari ke lima?“. Di Bank Dagang Negara, seorang pimpinan cabang yang merasa kasihan ke saya – karena menurut dia saya dikerjain habis-habisan oleh seorang peserta – juga bertanya hal yang sama ke saya, di akhir sesi. Penghujat di kelas ini, disamping merangkul saya di hari perpisahan, juga mau bersusah-susah membeli hadiah buat saya. Saya mengalami pengalaman yang sama berulang-ulang.

Seorang kawan dekat pernah bergurau, jangan-jangan saya membawa ‘jimat‘ dari Bali. Secara jujur harus saya akui, saya memang memiliki ‘jimat‘. Dan jimat terakhir memang tidak hanya monopoli orang Bali. Ia dimiliki oleh siapa saja yang peka akan bahasa-bahasa kemanusiaan.

Bila ada yang menghujat, saya belajar untuk tidak menghujat balik. Justru dalam keadaan demikian, saya ingat lagi prinsip Mary Kay Ash tentang MMFI.

Pertanyaan awal saya setiap menghadapi hujatan, aspek mana dari orang ini yang perlu diperlakukan penting? Kepintaran, pengalaman, gengsinya di depan orang lain, atau hal lain?

Bila kepintarannya yang penting, saya mencoba mencari interaksi antara ide saya dengan ide dia. Jika pengalamannya yang penting, saya akan menggunakan pengalaman tadi sebagai basis teori saya. Mana kala gengsi yang penting, saya akan beri dia kesempatan presentasi ke depan.

Berhadapan dengan orang seperti ini, saya akan coba mencari satu hal yang spesial untuk kemudian saya angkat sebagai topik pembicaraan. Ia bisa berupa dasinya yang bagus, sepatunya yang unik, rambutnya yang rapi atau apa saja yang saya yakin ia banggakan.

Lebih-lebih, bila saya bisa memberinya tambahan informasi dan pengetahuan, yang membuat dia lebih bangga lagi dengan apa yang tadinya sudah ia banggakan.

Seorang manajer wanita yang cerdas dan cantik pernah demikian ketus dengan ide-ide saya. Ketika idenya memang brilian saya akui di depan orang – kendati ada resiko saya sebagai konsultan dan pelatih tampak lebih bego. Tatkala data-data dia lebih akurat, saya tidak ragu-ragu untuk mengakuinya. Begitu break, saya ingat kalau parfum yang ia pakai berharga amat mahal. Saya mencoba menebak merknya, dan ternyata tepat. Wanita terakhir tampak demikian surprise, karena saya sudah membongkar sebuah rahasia yang sebenarnya ia banggakan ke orang lain. Di rapat berikutnya, entah dari mana datangyang rasa hormat, ia menjadi pendukung saya yang amat membantu.

Di sebuah acara yang cukup besar di Hongkong, seorang rekan berbisik agar saya hati-hati dengan orang yang menjadi moderator saya. Kata dia, orang ini sok pintar, menggurui dan tidak segan-segan menghina di depan umum.

Ketika berkenalan, saya amati raut mukanya memang lebih tua dibandingkan saya. Saya tanya pengalamannya – dan ini biasanya yang menjadi kebanggaan orang tua – maka berceritalah ia tidak habis-habis tentang masa lalunya. Terakhir, ketika ia menjadi moderator saya, eh dia malah banyak menyanjung dan memuji presentasi saya di depan umum.

Rekan saya memang benar. Saya memang memiliki jimat menundukkan manusia lain. Dan, mantra jimat itu – dalam bahasa Mary Kay Ash – berbunyi : make him/her feel important!.

Berani Gagal

Untuk dapat menikmati hidup, hal terpenting yang perlu Anda lakukan adalah menjadi SADAR. Inti kepemimpinan adalah kesadaran. Inti spiritualitas juga adalah kesadaran. Banyak orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan ”tertidur.” Mereka lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak, dan akhirnya meninggal dalam keadaan ”tertidur.”

Analoginya adalah seperti orang yang terkena hipnotis. Anda tahu di mana menyimpan uang. Anda pun tahu persis nomor pin Anda. Dan Andapun menyerahkan uang Anda pada orang tidak dikenal. Anda tahu, tapi tidak sadar. Karena itu, Anda bergerak bagaikan robot-robot yang dikendalikan orang lain, lingkungan, jabatan, uang, dan harta benda.

Pengertian menyadari amat berbeda dengan mengetahui. Anda tahu berolah raga penting untuk kesehatan, tapi Anda tidak juga melakukannya. Anda tahu memperjualbelikan jabatan itu salah, tapi Anda menikmatinya. Anda tahu berselingkuh dapat menghancurkan keluarga, tapi Anda tidak dapat menahan godaan. Itulah contoh tahu tapi tidak sadar!

Roti Busuk Manajemen

Di sebuah perusahaan Jepang yang mengundang saya sebagai nara sumber, seorang eksekutif puncaknya sempat berargumen lama tentang sinyalemen yang saya sebut dengan berfikir ala kaca spion. Berjalan ke depan namun senantiasa melihat ke belakang.

Saya bisa memaklumi, kalau banyak rekan dari Jepang yang tidak setuju dengan hal terakhir. Secara lebih khusus, karena mereka sudah memiliki tradisi yang lama dan panjang tentang kegemaran mengutak-atik data yang telah lewat. Jangankan mengambil keputusan, bermain golf saja mereka disertai dengan data- data score cards masa lalu. Dalam bingkai berfikir ala kaca spion ini, satu- satunya cara untuk bisa hidup di hari ini, dan selamat di hari esok adalah dengan jalan mempelajari apa yang sudah lewat.

Ini semua mengingatkan saya, pada keyakinan-keyakinan yang ditanamkan secara berlebihan oleh kaum empiris dalam ilmu pengetahuan. Manajemen, melalui sejumlah tokohnya seperti Taylor yang menciptakan scientific management, juga terkena sindroma kaca spion. Kelompok Aston yang menjadi salah satu cikal bakal pendekatatan kontingensi – yang memiliki banyak sekali penganut sampai sekarang dalam dunia manajemen – juga membangun argumennya di atas kaca spion. Diktum ’structure follows strategy’ yang pernah dikemukakan seorang guru besar Harvard, serta memiliki penganut sampai sekarang, juga dibangun di atas tumpukan data masa lalu yang mengagumkan. Administrative Science Quarterly- sebuah jurnal manajemen berpengaruh yang diterbitkan MIT, dan penulisnya kebanyakan bergelar Ph.D sangat kuat diwarnai oleh penelitian-penelitian empiris yang amat mereka banggakan.

Nah, sekarang saya ingin membawa persoalan ini ke dalam pengandaian makan roti. Semua orang saya yakin – termasuk Taylor, kelompok Aston, Alfred Chandler serta pananggung jawab Administrative Science Quarterly – lebih menyukai roti yang fresh from the oven. Tidak ada yang mau memakan roti busuk hasil simpanan bertahun-tahun lalu.

Mirip dengan makan roti, manajemen yang lahir dari kumpulan data masa lalu, tidak membuat kepala manusia menjadi fresh. Tidak tertutup kemungkinan, malah membuat kepala kita menjadi roti busuk yang tidak berguna. Ini bisa terjadi – sebagaimana sudah sering saya tulis – karena semakin sedikit sejarah yang muncul dalam bentuk pengulangan. Sebagaimana sebuah pepatah Cina : ‘we can not step into the same river twice’. Sebab, sebagaimana sungai, kehidupan setiap detik berganti.

Sayang seribu sayang, di manapun orang belajar manajemen secara formal, senantiasa dihadapkan pada ribuan kaca spion. Ada kaca spionnya Drucker, Porter, Kotler, Ohmae, Mintzberg dan ribuan kaca spion sejenis. Bila kaca spion ini dibuat di tahun 1990-an masih mending. Tidak sedikit yang lapuk karena ditulis di tahu 50-an.

Tidak heran kalau Robert M.Pirsig – penulis novel Zen and The Art of Motorcycle Maintenance yang disebut Time sebagai unforgetable trip – pernah menulis : ‘Isaac Newton ia a very good ghost. One of the best. Your common sense is nothing more than the voices of thousands and thousands of these ghost from the past’.

Dengan demikian, tidak hanya manajemen yang dirasuki ‘hantu’ masa lalu. Semua sendi-sendi ilmu pengetahuan – meminjam argumen Pirsig – juga dirasuki oleh ‘hantu-hantu’ terakhir.

Anda tentu saja bertanya, kalau demikian kemana kita harus menoleh ? Terus terang, saya memang bukan pemegang bola kristal yang langsung bisa menunjuk sebuah jurus atau kiat. Di kolom ini, tugas saya lebih dekat dengan upaya menggoyahkan apa yang telah mapan dan membelenggu. Untuk kemudian, kembali ke dunia pengamatan yang segar dan jernih.

Memang, ada banyak cara untuk sampai ke tataran fresh mind. Namun, sangat penting untuk membersihkan fikiran dari ‘kotoran-kotoran’ masa lalu. Saya memilih untuk menantang dan mempertanyakan semua otoritas masa lalu – termasuk otoritas yang saya pernah buat sendiri.

Seorang peserta seminar dalam topik Crazy Times Call For Crazy People, pernah bertanya ke saya tentang skenario ke depan. Jawaban warasnya, siap-siaplah kita berhadapan dengan perekonomian yang dibangun di atas perusahaan-perusahaan skala menengah. Jawaban ‘gila’-nya – dan ini yang lebih saya rekomendasikan – berfikirlah keluar dari segala bentuk skenario. Dalam dunia fresh mind, tidak diperlukan skenario. Apa lagi skenario ‘jika-maka’. Yang ada hanyalah melihat tanpa mengkerangkakan. Mengutip sebuah pepatah Zen, sebesar apapun telunjuk yang digunakan untuk menunjuk bulan, tetap tidak akan bisa mewakili wajah bulan yang sebenarnya. Demikian juga dengan skenario.

Meminjam argumen guru meditasi saya di Inggris sana : ‘jumping into the unknown, dying from all the pasts and future ideals, live the present just as they are’.

Jadi, diperlukan keberanian untuk melompat ke wilayah fikiran yang tidak diketahui. Mati dari masa lalu dan idealitas masa depan. Serta hidup di masa kini sebagaimana adanya.

Kembali ke pangandaian semula tentang makan roti, inilah yang saya sebut dengan roti manajemen yang fresh from the oven. Bukan roti majajemen busuk yang sudah lama membuat kita terkejut, terkaget dan hidup asing dari masa kini yang senantiasa segar.

Ah, ini hanyalah sekumpulan fikiran yang kerap disebut utopis oleh sejumlah orang – terutama kaum empiris. Mereka yang membenci ketidakjelasan ini, bahkan menyebut saya makar dan provokator. Namun, dibandingkan dimakari dan diprovokator oleh kecenderungan, saya lebih memilih untuk memprovokator dan memakari fikiran-fikiran saya sendiri.

Konosuke Matsushita, Thomas J. Watson, Bill Gates, Abraham Lincoln, Mahatma Gandhi, Lady Diana, Ibu Theresa, Cory Aquino, Winston Churchill adalah sebagian kecil dari deretan manusia yang menjadi provokator dan tukang makar bagi fikiran-fikirannya sendiri.

Anda juga saya harapkan bisa menjadi provokator dan tukang makar tidak hanya bagi fikiran Anda, tetapi juga bagi fikiran gombal yang menjadi fundamen tulisan ini. Tanpa itu, kita hanya mengulangi sejarah manajemen yang berjalan sudah amat lama dan panjang : memakan roti busuk.

Gede Prama